Berita

Muhadjir Effendy/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhadjir Effendy: Kami Sadar Pelaksanaan Program Pendidikan Karakter Waktunya Cukup Panjang...

RABU, 09 NOVEMBER 2016 | 09:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Mulai tahun depan pemerintah akan menerapkan penguatan pendidikan karakter, atau full day school di tingkat SD dan SMP. Konsekuensinya, baik siswa mau­pun guru akan lebih lama di sekolah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy menyatakan, dalam pendidikan karakter, guru harus mendampingi siswa delapan jam selama lima hari. Artinya, 40 jam waktu siswa dan guru akan dihabiskan di sekolah.

Muhadjir meyakini, para murid akan dapat menikmati kebijakan ini. "Sebabnya tidak ada lagi PR di rumah, karena sudah diselesai­kan di sekolah," terang bekas rek­tor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini. Berikut wawancara lengkapnya;


Program full day school ini kan masih banyak menda­pat penolakan dari orang tua, karena dianggap membebani siswa?
Itu karena banyak yang belum paham. Sebetulnya tidak ada pe­nambahan jam pelajaran. Yang ada hanya penambahan aktifitas sekolah.

Maksudnya?
Jadi dengan metode ini, se­bagian besar jam belajar justru akan dihabiskan di luar kelas. Nantinya guru dan murid dim­inta untuk lebih aktif dalam pola pembelajaran berbasis, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).

Apa bedanya dengan metode pembelajaran sebelumnya?
Bedanya dengan metode pendidikan karakter, guru diharapkan bisa menerapkan me­tode pembelajaran yang lebih bervariasi. Supaya bisa mem­bangun karakter siswa didik. Contohnya guru sekarang itu kan terlalu menikmati cara men­gajar denganmetode ceramah. Padahal banyak metode lain yang bisa dipakai. Nah itu akan kami ubah, misalnya dengan metode role model maupun role playing.

Yang namanya belajar lama tetap saja menambah beban murid?
Memang. Tapi kan itu dilaku­kan dalam rangka pembentukan karakter siswa. Metodenya pun disesuaikan supaya siswa bisa menikmati.

Dan untuk memperingan be­ban mereka, pekerjaan rumah siswa akan dikurangi. Sistem yang saat ini menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) akan dihapuskan. Kami anggap LKS tidak banyak memberikan nilai tambah bagi siswa. Setiap murid memiliki kemampuan berkembang sendiri-sendiri, itu tidak bisa disama ratakan denganLKS.

Banyak juga yang protes karena kebijakan ini dianggap mengurangi waktu dengan keluarga?
Kami sadar pelaksanaan pro­gram pendidikan karakter itu waktunya cukup panjang bagi murid dan guru. Maka dari itu kegiatan tersebut hanya dilakukan pada hari Senin-Jumat.

Sementara Sabtu dan Minggu sekolah diliburkan. Sabtu - Minggu akan menjadi hari ke­luarga. Tidak boleh ada PRatau lainnya agar dua hari libur itu, supaya orang tua bisa menga­jak anaknya untuk traveling di Indonesia yang sangat kaya tempat wisata ini.

Oh iya, kebijakan ini akan diterapkan sebentar lagi, persia­pannya sudah sejauh mana?
Kami sudah mulai dengan pelatihan bagi para guru, kepala sekolah, dan komite sekolah pada 1.500 sekolah sebagai percontohan (piloting) imple­mentasi program penguatan pendidikan karakter.

Alhamdulillah, sambutan daerah-daerah sangat baik. Sudah banyak daerah yang minta menjadi tempat uji co­ba implementasi PPK, seperti Kabupaten Bantaeng, Kabupaten Siak, Pasuruan, Gubernur Riau, Kalimantan Selatan, dan NTT. Kalau Sulawesi Tengah belum.

Pedoman teknisnya seperti apa?
Di tingkat SD 70 persen pelajaran adalah menyangkut penguatan karakter, dan 30 persennya pelajaran keilmuan yang ditimba di ruang kelas. Sedangkan di tingkat SMP, 60 persen penguatan karakter dan 40 persen keilmuan.

Soal materi penguatan karak­ter Kemendikbud sudah meny­usun pedoman umum. Namun, implementasi teknisnya, diberi­kan keleluasaan kepada sekolah untuk mengaturnya.

Kenapa begitu?

Sebab kami mau sekolah mandiri dalam merumuskan program penguatan karakter se­suai potensi lingkungan dengan mengutamakan kearifan, keung­gulan, dan kecerdasan lokal. Masing-masing daerah atau sekolah saya harapkan tampil dengan ciri khas dan keung­gulannya. Bahkan, diharapkan setiap sekolah punya branding atau hal menonjol.

Mungkin ada yang kuat dalam bidang religiositas, ada yang menonjol dalam kemahiran membaca Alquran, atau unggul dalam hal membentuk jiwa na­sionalisme siswa. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya