Berita

Foto/Net

Nusantara

DEMO 4 NOVEMBER

Praktisi Hukum: Fatal Akibatnya Jika Salah Hadapi Demonstran

JUMAT, 04 NOVEMBER 2016 | 03:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Solidarity Network for Human Rights (SNH) Advocacy Center menanggapi upaya pemerintah dalam membendung aksi damai yang akan dilakukan umat Islam pada hari ini.

"Salah alamat kalau datang ke pimpinan parpol," kata Direktur Eksekutif SNH Advocacy Center,  kepada redaksi, Jumat (4/11).

Sebagaimana diketahui Pemerintah telah melakukan pertemuan dengan beberapa pentolan partai politik diantaranya adalah Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.


Sylvi menegaskan bahwa Aksi 4 November bukanlah aksi politik yang disinyalir beberapa pihak termasuk pemerintah.

"Aksi ini murni merupakan lahir dari sanubari umat Islam yang menuntut penegakan hukum terhadap dugaan tindak pidana penistaan, bukan aksi politik," ujar praktisi hukum ini dalam rilisnya.

Berkenaan dengan aksi tersebut, Ia meminta pihak pemerintah dalam hal ini kepolisian untuk tidak melakukan tindakan represif terhadap para peserta aksi.

"Hendaknya bersikap arif dalam menghadapi para demonstran," kata advokat yang tergabung dalam Tim Advokasi Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI tersebut.

Karena menurutnya, apabila salah dalam mengambil tindakan terhadap para peserta aksi akan berdampak besar.

"Awas, hati-hati, jangan salah langkah dalam menghadapi demonstran, karena akibatnya akan fatal," tegas Sylvi.

Sylvi juga menerangkan bahwa aksi yang akan dihadiri oleh jutaan rakyat Indonesia ini tidak akan terjadi, apabila sejak awal sudah dilakukan penegakan hukum. Oleh karenanya, Ia meminta akar masalahnya harus diselesaikan.

"ini merupakan ekses dari lemahnya law enforcement sejak dini, sebaiknya cepat diselesaikan kasusnya agar terang benderang, sehingga adanya kepastian hukum terhadap dugaan penistaan yang dilakukan oleh orang yang satu ini (Ahok)," tutup Sylvi. [rus]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya