Berita

Nusantara

Makin Tak Jelas, Pasar Baru Ciwidey Diklaim Oleh Pengembang

KAMIS, 03 NOVEMBER 2016 | 10:39 WIB

Persoalan pasar baru Cibeureum Ciwidey belum berakhir. Kini, muncul persoalan lain yaitu status kepemilikan pasar tersebut diklaim milik pengembang pasar, PT Primatama Cipta Sarana (PCS) bukan milik Pemkab Bandung.

Padahal DPRD Kabupaten Bandung Fraksi B siap memperbaiki infrastruktur pasar tersebut.

"Keputusan Mahkamah Agung (MA) pun tidak memerintahkan pengembang untuk menyerahkan pasar seluas empat hektare tersebut kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung," kata Direktur Operasional PT PCS, Pribadi Satya Budi kepada wartawan, Kamis (3/11).


Pribadi bersikukuh Pasar Baru Cibeureum Ciwidey kepemilikan pasar masih atas nama perusahaan tersebut. Pihaknya tidak akan menyerahkan tanah Pasar Ciwidey begitu saja sebelum ada pembayaran pembebasan dari Pemkab Bandung.

"Kekalahan kami di MA bukan masalah bukti kepemilikan. Tapi anehnya Pemkab Bandung malah mengklaim lahan Pasar Ciwidey sudah milik mereka karena kemenangan di MA. Putusan MA tidak ada perintah kepada pengembang untuk menyerahkan bukti kepemilikan," terang Budi seperti dikutip dari RMOLJabar.Com.

Budi menambahkan, hingga saat ini sertifikat kepemilikan Pasar Baru Cibeureum Ciwidey masih atas nama PT Primatama Cipta Sarana. Jika Pemkab Bandung sudah mengakui kemenangan di MA, kata dia, maka patut dipertanyakan eksekusinya yang tidak pernah terlaksana.

Sementara itu, Rabu (2/11) kemarin kuasa hukum pedagang pasar Dasep Kurnia berpendapat sebaliknya.

"Sudah jelas, bahwa pasar itu punya Pemkab Bandung. Bukan milik pengembang," ujar kuasa hukum pedagang pasar Dasep Kurnia

Sebagai informasi, masalah ini bermula pada 1997 lalu, lahan pasar itu dibebaskan oleh pengembang. Kemudian pasar dibangun dan bangunannya dijual kepada pedagang sesuai harga yang telah disepakati Pemkab Bandung saat itu.

Namun setelah 14 tahun berjalan persoalan mulai bermunculan. Dimulai dari perawatan pasar yang tak kunjung datang, hingga infrastruktur pasar yang sudah banyak yang rusak seperti sampah yang menggunung dan jalan rusak didalam pasar.

"Kondisi pasar sangat kumuh, sehingga orang malas datang kepasar untuk berbelanja," tandasnya.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan PTPN di Sei Mangkei

Kamis, 30 April 2026 | 22:15

Gubernur NTB Tolak Cabut Laporan Aktivis Kemanusiaan

Kamis, 30 April 2026 | 21:41

APBN Tekor Rp240,1 T, Kemenkeu Tiadakan Konferensi Pers

Kamis, 30 April 2026 | 21:37

DPR Soroti Peran Strategis Proyek Danantara bagi Industri dan Lapangan Kerja

Kamis, 30 April 2026 | 20:41

Sejarah Hari Pendidikan Nasional 2 Mei, Asal Usul dan Peran Ki Hadjar Dewantara

Kamis, 30 April 2026 | 20:21

Mitigasi Dampak Perubahan Iklim, PLN-UNOPS Dorong Utilisasi EBT Nasional

Kamis, 30 April 2026 | 20:16

Apa Itu Sinkhole yang Muncul Kebun Warga Gunungkidul Yogyakarta?

Kamis, 30 April 2026 | 19:46

Sejarah Outsourcing dari Zaman Kolonial hingga Jadi Tuntutan di Hari Buruh 2026

Kamis, 30 April 2026 | 19:32

Kebijakan Energi RI Terjebak Pola Pikir Jangka Pendek Menahun

Kamis, 30 April 2026 | 19:27

Komisaris PT Loco Montrado Dicecar KPK soal Pengembalian Kerugian Negara Rp100 Miliar

Kamis, 30 April 2026 | 19:25

Selengkapnya