Berita

Politik

Setahun Dicuekin, Pusat Penelitian Iptek Dianaktirikan

KAMIS, 03 NOVEMBER 2016 | 01:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah didesak untuk tidak menelantarkan Pusat Penelitian Iptek (PP Iptek) yang berlokasi di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Hampir satu tahun ini lembaga itu tidak memiliki kepala, sejak pejabat yang lama dipindahtugaskan ke tempat lain.

Hal ini disampaikan Presidium Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika), Sobarul Fajar. Menurutnya, Badan Layanan Umum (BLU) di bawah Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) ini seperti tak serius dikelola.

"Padahal, wahana yang terdapat di dalamnya memiliki nilai edukasi tinggi bagi masyarakat. Sangat bermanfaat bagi pengunjungnya, terutama para siswa dan mahasiswa," ujarnya di Jakarta, Rabu (2/11).


Fajar menilai, ada persoalan serius yang sedang terjadi dalam hal Pelayanan Publik di dalam organisasi Kemristekdikti.

"Kenapa posisi top Manajemen PP IPTEK ini dibiarkan kosong begini lama? Sudah hampir satu tahun. Padahal Pemerintahan Jokowi sudah dua tahun berjalan. BLU ini dianaktirikan!" cetusnya.

Untuk itu, pihaknya mendesak Menristekdikti M Nasir untuk segera mengangkat pejabat yang kredibel, akuntabel dan punya kapasitas untuk mengelola PP Iptek ini.

"Posisi PP Iptek di struktural Kemenrustekdikti memang ada. Artinya, pejabatnya memang harus ada. Kita lihat struktur di sana, antara PT, L2DIKTI,  LBM, EIJMAN dan PP IPTEK selevel toh," tambah Fajar.

Ditambahkannya, jika dilihat dari visi dan Misi PP IPTEK sangat lah penting untuk mendukung kemajuan generasi muda bangsa.

"Apalagi masa liburan sekolah sudah dekat. Ini bisa jadi momentum siswa untuk menentukan destinasi liburannya ke PP Iptek. Liburan yang menambah ilmu pengetahuan buat mereka," ucap Fajar.

Dia menandaskan, karena sebagai BLU, maka PP IPTEK seyogyanua bisa mengelola anggaran non APBN.

"PP IPTEK itu Badan Layanan Umum. wajib bagi dia memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Ini peluang, malah nggak dikelola dengan benar," pungkas Fajar. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya