. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berulang kali dalam berbagai kesempatan mengingatkan dan menyarankan Ahok agar mampu menahan diri dari ucapan-ucapannya agar tidak menimbulkan kegaduhan di publik dan instabilitas nasional.
Kebiasaan Ahok dengan statemen-statemennya yang merespon berlebihan atas suatu isu sensitif mencapai puncaknya dalam pidato saat mengujungi Kepulaun Seribu yang menimbulkan gelombang unjuk rasa diberbagai daerah menyangkut dugaan penistaan agama atas ayat kitab suci Al-Qur’an.
"Ahok jangan coba-coba abaikan masuk kuping kanan keluar kuping kiri atas saran dan peringatan yang sudah diingatkan Bu Mega dan Pak JK. Jika tidak, Anda akan digilas oleh sejarah. Situasi stabilitas nasional seperti ini mengganggu percepatan pembangunan dan investasi melalui penerimaan Negara dan program lanjutan Tax Amnesty Tahap II dan III yang digagas Presiden Jokowi terancam gagal dan tidak maksimal," kata Direktur Pusat Kajian (Pusaka) Trisakti, Fahmi Habsee, di Jakarta (Selasa, 1/11).
Menurut Fahmi, program Tax Amnesty periode II dan III yang akan berakhir Maret 2017 bersamaan dengan pilgub DKI yang akan diadakan Februari 2017. Rentang waktu pendek ini membutuhkan situasi dalam negeri yang kondusif sehingga repatriasi uang yang di luar negeri bisa segera masuk ke Indonesia.
"Maraknya demo, isu dan informasi yang beredar dimedia massa dan sosial media jelang aksi besar 4 November 2014 jelas kontraproduktif. Soal Pilgub DKI hanya menyangkut masyarakat Jakarta, tapi program
tax amnesty menyangkut kesuksesan pembangunan Presiden Jokowi yang berimplikasi ratusan juta rakyat Indonesia. Akan ada berapa aksi demo lagi yang akan muncul hingga Februari 2017, sedangkan Maret 2017 Tax Amnesty berakhir," kata Misi, sapaan akrab Fahmy..
Pertanyaan terbesar, sambung Misi, apakah Ahok menyadari implikasi ekonomi yang muncul atas ini semua dan Berapa energi yang dikeluarkan Presiden untuk menjadi ‘pemadam kebakaran’ dengan safari politik kemana-mana.
"Bagaimana menjaga semangat dan pengorbanan pegawai Ditjen Pajak yang bersusah payah meyakinkan pengusaha dalam negeri yang masih menyimpan uangnya diluar negeri untuk ikut repatriasi, tapi di lain sisi isu-isu kerusuhan trauma 98 menyeruak lagi ke permukaan?" ujarnya.
Fahmi mengungkapkan kesedihan dan keprihatinan yang mendalam atas situasi ini dan berharap agar semua pihak bisa menahan diri baik dalam aksi-aksi dan tuntutan-tuntutan dengan mengedapankan ‘kepala dingin’ agar ada solusi yang mampu menenangkan semua pemangku kepentingan.
"Bagi Ahok jangan pernah terbersitpun dalam pikiran Anda untuk mengabaikan saran, masukan dan peringatan dari tokoh-tokoh sepuh pemimpin nasional seperti Bu Mega dan Pak JK. Belajar tidak menganggap remeh apapun dan siapapun. Biasakan melatih empati dan simpati serta berpikir sebelum bicara, jangan sebaliknya," kata aktivis 98 ini.
"Saya berdoa pada Allah SWT agar Presiden Jokowi mendapatkan kekuatan dan kemampuan untuk melewati ‘ujian’ ini dalam upaya menjaga keutuhan bangsa serta melanjutkan hal-hal positif dengan kerja keras yang telah beliau curahkan membangun negeri ini dan program
Tax Amnesty Tahap II dan III berjalan sesuai harapan," demikian Fahmi.
[ysa]