Berita

Politik

Menghindari SARA Sama Dengan Merawat Demokrasi

SELASA, 01 NOVEMBER 2016 | 05:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Sistem pemerintahan demokratis hanya mungkin dibangun jika kelompok minoritas berasal dari warga negara yang mau menerima pemerintahan mayoritas, dan kelompok mayoritas benar-benar siap untuk menghormati hak-hak minoritas.

"Memastikan kelompok mayoritas melindungi minoritas dan sebaliknya, itu lah makna hakiki dari demokrasi konsensus," kata pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago, Selasa (1/11).

Jelas dia, nilai utama dalam demokratisasi yaitu kebebasan dan keanekaragaman yang berbudaya seringkali disebut dengan keindonesian, wawasan kebangsaan yang menerima perbedaan (kebhinekaan) dan sama rata dalam memperlakukan warga negara.


"Demokrasi tanpa kemampuan bertoleransi terhadap yang berbeda akan menjadi kering makna dan kehilangan pesona," sebut Pangi.

Mayoritas yang tidak menghargai hak-hak kebebasan minoritas justru menjadi ancaman terhadap eksistensi demokrasi. Dan sebaliknya, minoritas yang tidak menghargai hak-hak mayoritas juga akan mengguncang demokrasi.

"Saya kira bangsa kita sudah memutuskan bahwa kita bukan negara agama tapi negara Pancasila. Diskusi dan debat soal ini saya kira sudah selesai dan tutup buku," imbuh Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting (VCRC) ini.

Hasil konsensus Piagam Jakarta 22 Juni 1945, merupakan kompromi atau jalan tengah antara pihak Islam dan pihak kebangsaan untuk menjembatani perbedaan dalam agama dan negara.

Untuk itu, tegas Pangi, isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) tidak perlu dimunculkan apalagi dibesar-besarkan dalam politik, seperti pada ajang Pilkada Serentak 2017. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya