Berita

Jessica Kumala Wongso/Net

Hukum

Siapa Yang Lebay, Jaksa Atau Jessica

Hakim Boleh Pusing
JUMAT, 21 OKTOBER 2016 | 09:09 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bisa jadi, baru kali ini ada sidang pembunuhan yang membawa-bawa "kondisi sel penjara" dan "bentuk wajah" sebagai argumentasi di pengadilan. Namun inilah salah satu gambaran sidang kasus pembunuhan Mirna Wayan Salihin. Kemarin, sidang sudah memasuki pembacaan duplik dan tinggal menunggu putusan hakim, 26 Oktober nanti. Pertanyaan yang tersisa, siapa yang lebay dalam sidang ini, jaksa atau Jessica. Sidang pembacaan duplik itu dibuka Ketua Majelis Hakim Kisworo kemarin, pukul 2 siang. Wajah Jessica tampak lebih segar. Rambutnya digerai. Dengan "seragam" yang biasa dikenakannya; kemeja putih dan celana hitam, Jessica kembali berdiri, membacakan duplik.

Jam tangan melingkari tangan kirinya, sementara tangan kanannya dilingkari gelang emas. Bedanya, kali ini dia tanpa kacamata.

Dalam duplik yang juga ditulis tangan seperti pledoi, Jessica pertama kali menyinggung replik alias tanggapan jaksa soal sel yang dihuninya. Kali ini Jessica lebih tegar dan pede. Suaranya lebih lantang, tidak terdengar isak tangis.


Mulailah dia bercerita, sel tikus atau yang disingkatnya sebagai selti, biasanya digunakan sebagai sel isolasi. Yang ditaruh di situ, adalah tahanan yang melakukan pelanggaran, serta tersangka kasus pembunuhan yang baru ditangkap.

Saat Jessica masuk ke sel itu, "tetangganya" adalah tersangka pembunuhan anak kecil, pembunuhan orang dewasa, serta kasus mutilasi. "Mereka hanya beberapa minggu di selti sebelum ke sel biasa, tidak 4 bulan seperti saya," keluhnya.

Dia menampik pernyataan jaksa yang menyebut dirinyalah yang menghendaki berada dalam selti itu. Jessica juga menyatakan, foto ruangan yang ditunjukkan jaksa adalah ruang serbaguna yang biasa digunakan untuk kegiatan kerohanian dan konseling.

"Saya tidak menyangka kalau akan digunakan di persidangan untuk menyudutkan saya. Dan semua orang menuduh saya pembohong. Alangkah keji," tegasnya.

Yang dipaparkan Jessica berikutnya adalah soal kepribadiannya yang terus diserang jaksa. "Bahkan jaksa menghadirkan saksi ahli untuk menilai saya seorang pembunuh dari bentuk wajah saya," protesnya.

Jessica merasa selalu salah di depan JPU. "Pada saat saya tenang dan tidak berekspresi saya disebut pembunuh berdarah dingin. Pada saat saya berekspresi dengan tersenyum, atau menangis, itu pun dipermasalahkan," tuturnya. Saat mengucapkan itu, suaranya mulai bergetar.

Dan isak tangis kecil mulai terdengar saat dia melanjutkan pembacaan dupliknya. Isak tangisnya semakin keras saat dia menyinggung sindiran jaksa yang menyebutnya tidak mensyukuri nasibnya.

"Dan yang menyedihkan lagi, kenyataan kalau saya masih bernafas pun menjadi hal yang dicemooh penuntut umum, lalu saya harus bagaimana? Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Kalau saya boleh memilih, saya memilih untuk tidak difitnah," ujarnya, seperti berkelakar tapi dengan isak tangis yang cukup keras.

Dia meminta JPU yang digawangi Jaksa Ardito untuk tidak lagi menggunakan pernyataan itu. "Ini sangat kejam," ujarnya dengan suara bergetar. "Tuhan tidak tidur untuk penderitaan yang saya alami," imbuhnya, mencoba menghibur diri. Sejak awal kasus ini bergulir, Jessica merasa optimis akan bebas. Sebab, selain bersikukuh tak melakukan pembunuhan Mirna, tak ada juga bukti substansial yang menunjukkan Jessica menaruh racun di kopi mirna.

Tetapi, mendekati akhir persidangan, Jessica mulai ragu. Keraguannya muncul karena melihat tayangan wawancara tantenya Mirna yang mengaku telah menghamburkan uang unyuk persidangan ini. "Dihamburkan ke mana, dan pada siapa? Apakah itu untuk mempengaruhi persidangan ini?"

Jessica juga takut melihat kedekatan JPU dengan keluarga Mirna yang beberapa kali diperlihatkan di pengadilan. Dia takut keputusan atau semua tindakan yang berhubungan dengan kasusnya terpengaruh oleh kedekatan itu.

Jessica pun meminta Presiden Jokowi untuk menaruh perhatian dalam kasus yang menjeratnya. "Tolong bapak Presiden cegah, jangan sampai ada pihak-pihak yang mengintervensi peradilan ini. Saya tak pernah menaruh racun di gelas kopi seperti yang dituduhkan kepada saya," pintanya.

Kalau ada fakta persidangan yang membuktikan kalau saya adalah seorang pembunuh, Jessica mengaku rela dihukum seberat-beratnya.

"Saya akan tetap berjuang samapai titik darah terakhir untuk keadilan dan kebebasan saya," imbuh Jessica.

Jessica mengakhiri duplik setebal 6 halaman itu dengan memberi dua informasi. Pertama, dia sebetulnya tidak setuju dengan tindakan suami Mirna, Arief dan Hani yang langsung membawa Mirna ke RS Abdi Waluyo tanpa memberikan kesempatan kepada dokter di klinik untuk melakukan pertolongan pertama.

Padahal dokter Andri Yoshua yang bertugas pada saat itu di klinik mengatakan jantung Mirna bagus, stabil, dan suhu badan hangat. Tapi dokter tak sempat memberi pertolongan karena Arif langsung membawa Mirna ke RS dengan mobil pribadi, bukan ambulans tanpa didampingi tim medis.

Setelah mengungkapkan hal itu, Jessica memgakhiri dupliknya yang dibacakan selama 13 menit. Tak jauh beda dengan pledoinya.

Setelah itu, giliran kuasa hukumnya. Kali ini, Hidayat Bostam yang duluan. Dia membacakan transkrip percakapan dirinya dengan Amir, seperti yang diungkapkan Jessica. Kemudian disusul Otto Hasibuan, dan kuasa hukum lainnya, bergiliran. Pukul 21.30 WIB, pembacaan duplik tim kuasa hukum Jessica baru selesai. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Fenomena Embun Upas Dieng Muncul Lagi, Ini Perkiraan Waktu Puncaknya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:13

Pidato Bahlil di Depan Prabowo: Kekuasaan Itu Harus Direbut!

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Kejagung Pelajari Pengajuan Justice Collaborator Sony Sonjaya

Rabu, 10 Juni 2026 | 18:10

Ranking FIFA Indonesia Naik Lagi Usai Kalahkan Mozambik 1-0, Kini di Posisi 118 Dunia

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:57

Prabowo Dorong HIPMI Cetak Pengusaha Patriotik yang Peduli Rakyat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:51

Bupati Muara Enim Suap ASN BPK untuk Tutup Temuan Audit

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:41

Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan Pertamax

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Bedah Rumah Warga, Wujud Nyata Pemasyarakatan Berdampak untuk Masyarakat

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:21

Prabowo Sering ke Luar Negeri karena Indonesia Disukai Banyak Negara

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:11

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Selengkapnya