Berita

Foto/Net

Bisnis

Pertamina Bakal Kedodoran, Swasta Diminta Ikut Bantu

Salurkan BBM Ke Wilayah Terpencil
RABU, 19 OKTOBER 2016 | 09:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Pertamina (Persero) dinilai bakal kedodoran bila dipaksakan memenuhi keinginan Presiden Jokowi menyeragamkan harga bahan bakar minyak (BBM) di seluruh Indonesia. Pemerintah disarankan mendorong swasta untuk berpartisipasi mengisi pasar di daerah terpencil.
 
Direktur Eksekutif Energy Watch Indonesia Mamit Setiawan menyambut positif keinginan Presiden Jokowi menyeragamkan harga BBM di seantero Indonesia.

"Itu harus direalisasikan, perbedaan harga selama ini kan terkesan tidak adil padahal sama-sama di Indonesia," kata Mamit kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Namun demikian, Mamit kurang setuju bila penugasan penyeragaman harga ini hanya dibebankan ke Pertamina. Menu­rutnya, perusahaan pelat merah tersebut akan kedodoran bila menanggung sendirian.

Dia menyarankan, pemerintah membuat kebijakan atau skema bisnis yang isinya mendorong swasta berpartisipai mengisi daerah yang selama ini tidak terjangkau.

"Jangan hanya diberi izin untuk wilayah gemuk (banyak konsumen). Kalau mau fair kita minta swasta juga ikut menyalur­kan BBM ke wilayah terpencil. Apalagi, Selama ini tidak ada peran swasta menyalurkan BBM ke sana," ungkap Mamit.

Pengamat Ekonomi dan Energi, dari Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmi Radhi pesimistis kesetaraan harga BBM antara barat dan timur Indonesia akan segera tercapai. "Kalau perhi­tungan bisnis ya susah. Karena, penjual akan memasukkan biaya distribusi ke dalam komponen penjualan," ungkapnya.

Namun demikian, Fahmi me­negaskan, penyeragaman harga bukan berarti tidak bisa. Karena, pemerintah bisa membiayai biaya distribusi lewat pemberian subsidi.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, pihaknya telah memiliki cara untuk menyeragamkan harga BBM. Salah satunya menye­diakan lembaga penyalur seperti Stasiun Pengisian Bahan Ba­kar Umum (SPBU) atau Agen Premium Minyak dan Solar (APMS).

Dia menjelaskan, selama ini harga BBM tidak merata karena tidak ada SPBUdan APMS di sejumlah wilayah di Papua. Hal tersebut lantaran sulitnya akses transportasi untuk menembus wilayah tersebut.

"Ada delapan wilayah sulit ditembus. Oleh karena itu biaya BBM dari SPBUnaik berkali-kali lipat karena ditambah biaya distribusi," ungkapnya.

Kedelapan wilayah tersebut antara lain pegunungan Arfak di Papua Barat, Illaga di Kabupaten Puncak, Kabupaten Tolikara, Yahukimo, Nduga, Mamberamo Tengah, dan Mamberamo Raya. Bambang menyebut Pertamina akan berinisiatif membuka be­berapa APMS yang akan mem­buat harga BBM sama dengan SPBU.

"Sekarang semua disamakan, artinya Pertamina menanggung ongkos angkut (subsidi) ke seluruh penjuru Indonesia," ujarnya.

Bambang mengungkapkan, Pertamina akan menyiapkan anggaran sekitar Rp 900 miliar untuk menyediakan premium dan solar. Sebab kebutuhan BBM di Papua sendiri tidak begitu besar, hanya sekitar 5 persen dari kebutuhan nasional. Untuk menjangkau wilayah su­lit, Pertamina juga akan mengin­vestasikan sejumlah transportasi pendukung.

"Kalau bisa darat, kita pakai seperti di Arfak. Tapi darat­nya truk nggak mungkin. Jadi akhirnya kita pakai mobil 4x4 (off road). Terus ada beberapa daerah juga yang bisa disuplai lewat laut, terus dipindahkan ke sungai. Ada di Illaga, Mamberamo Tengah. Yang lainnya harus lewat pesa­wat," terangnya.

Harapan Presiden Jokowi agar harga BBM seragam di seluruh Indonesia disampaikannya saat meresmikan sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan di Papua pada Senin (17/10).

"Di Jawa hanya Rp 7.000 per liter, di sini ada yang sampai Rp 100.000 per liter. Di Wamena Rp 60.000 hingga Rp 70.000 per liter. Tidak bisa seperti itu. Kalau di barat dan tengah (Rp 7.000), di sini harusnya sama harganya," kata Jokowi.

Jokowi mengakui, menyama­kan harga BBM di Papua dan Pulau Jawa dengan wilayah lainnya tidak mudah. Namun demikian, dia meminta kepada Pertamina untuk mencari solusinya. Menurut Jokowi, keseragaman harga BBM, bukanlah masalah untung rugi. Tapi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya