Berita

Abror (tengah)

Politik

Memimpin Dengan Moral Dan Agama

SENIN, 17 OKTOBER 2016 | 16:49 WIB

NASIB suatu organisasi berada ditangan para pemimpinnya, baik organisasi kecil maupun organisasi besar. Kepemimpinan merupakan topik yang menarik dan tidak pernah selesai sepanjang masa, sejak Fir’aun penguasa dari Mesir dan Julius Cesar dari Romawi hingga para pemimpin politik dan eksekutif puncak dewasa ini. 

Para peneliti dan pakar memberitahu kepada kita, bahwa pemimpin memang banyak jumlahnya, tetapi hanya sedikit diantara mereka yang memiliki kepemimpinan.

Kualitas pemimpin dan efektifitas kepemimpinan banyak terkait dengan kemampuan dan kemauan pemimpin dalam menggunakan pengaruhnya serta untuk tujuan apa pengaruh tersebut digunakan.


Demikian juga dengan keputusan yang diambilnya, untuk apa dan untuk kepentingan siapa dilakukan. Dan yang lebih penting lagi adalah dalam menggunakan kekuasaan, untuk apa kekuasaan itu dipergunakan? Dengan cara bagaimana digunakan? Untuk tujuan apa serta masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengukur kualitas dan efektifitas kepemimpinan seorang pemimpin.

Tragedi yang dialami oleh bangsa-bangsa saat ini seperti Indonesia, baik dalam masalah politik, moral dan hukum berupa penangkapan, penculikan, korupsi, kolusi, nepotisme, mafia peradilan, penjarahan teroganisir, pemerkosaan massal, penggusuran tanah rakyat, penyalah-gunaan jabatan dan kekayaan negara, dan lainnya merupakan panorama atraktif dari kesalahan menggunakan pengaruh, keputusan dan kekuasaan yang dipegang oleh sebagian orang-orang yang diberi amanah sebagai pemimpin.

Edwin A. Locke menggambarkan perbedaan antara kepemimpinan dan kediktatoran sebagai berikut: "Seorang diktator membuat orang lain bertindak melalui paksaan fisik atau ancaman serangan fisik".

Beberapa diktator memang melakukan aktifitas tertentu yang menjadi karakteristik dari para pemimpin, seperti menawarkan sebuah visi; sebagai contoh, Hitler membangkitkan inspirasi rakyat Jerman dengan menyodorkan suatu visi mengenai dunia yang didominasi oleh Jerman. Lenin menginspirasi para pengikutnya lewat sebuah visi mengenai dunia utopia (komunis).

Tapi seorang diktator selalu bertumpu pada "kekuatan" (force), untuk mengaktualisasikan visi apapun yang dimiliki, seperti apa yang pernah dikatakan Mao Zedong, "Kekuasaan tumbuh dari laras senjata". Pernyataan dan sikap ini mungkin benar bagi seorang diktator, tapi tidak tepat untuk seorang pemimpin yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Umar bin Khattab selalu berpesan kepada para pejabat yang diangkatnya agar tidak menyalahgunakan pengaruh dan kekuasaan karena dapat merusak serta merugikan hak-hak dan martabat orang lain yang berada di bawah kepemimpinannya. Umar menyadari bahwa kepemimpinan dalam ajaran Islam merupakan amanah yang harus dilaksanakan sebagaimana mestinya, terjaga dari berbagai macam distorsi dan penyimpangan hingga pada akhirnya dipertanggung-jawabkan kepada Tuhan selaku pemberi amanat.

Suatu ketika Umar bin Khattab menegur keras Amru bin Ash selaku Gubernur Mesir karena dinilai telah menyalahgunakan pengaruh dan kekuasaannya, sehingga terjadi perlakuan yang tidak wajar oleh anak gubernur terhadap anak rakyat biasa. Umar bin Khattab berkata kepada Amru bin Ash: "Sejak kapan engkau memperbudak rakyat, padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka sebagai orang-orang yang merdeka?"
 
Kepemimpinan pada dasarnya adalah kemampuan untuk mempengaruhi (influencing) dan membujuk (inducing) orang-orang lain untuk melakukan hal-hal yang diperlukan, dalam rangka mencapai sasaran yang diinginkan. Defenisi tersebut mengkategorikan tiga elemen sebagai berikut : Pertama, kepemimpinan merupakan suatu konsep relasi (relation concept); dalam artian kepemimpinan hanya ada atau terjadi dalam relasi dengan orang-orang lain (para pengikut). Jika tidak ada pengikut, maka tidak ada pemimpin. Oleh karena itu pemimpin dituntuk untuk membangkitkan inspirasi dan semangat, serta bagaimana dapat melakukan relasi yang baik kepada para pengikutnya.

Kedua, kepemimpinan merupakan proses. John Gedner mengatakan, "Kepemimpinan itu lebih dari sekedar menduduki suatu posisi otoritas". Meskipun posisi otoritas jika diformalkan sangat mendorong proses kepemimpinan, tapi jika hanya bertumpu pada posisi otoritas tanpa melakukan kerja apapun, tidak akan cukup membuat seseorang menjadi pemimpin.

Ketiga, pemimpin harus mampu mempengaruhi dan membujuk orang-orang lain mengambil langkah dan tindakan bersama-sama. Strategi mempengaruhi dan membujuk para pengikutnya dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan, seperti menggunakan otoritas yang terlegitimasi, menjadikan dirinya sebagai teladan atau pelopor, penetapan sasaran dan tujuan yang menarik, restrukturisasi organisasi yang menjanjikan, memberikan hadiah dan hukuman, atau mengkomunikasikan sebuah visi. 

Untuk dapat melakukan semua elemen kepemimpinan tersebut, diperlukan "kewibawaan, kepercayaan dan kecintaan" serta bukan kepatuhan dan ketakutan dari para anggota yang dipimpin. Para pemimpin-pemimpin besar dunia, seperti Nabi Ibrahim As, Nabi Musa As, Nabi Isa As dan Nabi Muhammad As adalah orang-orang yang memiliki kewibawaan luar biasa, mendapatkan kepercayaan yang tidak terbatas dan dicintai para pengikutnya sepanjang masa.

Demikian juga dengan Alexander Zulkarnain, Cleopatra, Umar bin Khattab, Salahuddin al-Ayubi, Mahatma Gandi, Martin Luter King, dan lain-lain dipandang sebagai pemimpin-pemimpin yang mempunyai reputasi dunia dengan pengaruh yang mengagumkan.

Dalam ajaran Islam, sebesar apapun kekuatan yang dimiliki oleh seseorang, dia harus menyadari adanya keterbatasan dan kekurangannya. Dan untuk itu dia harus berbuat arif (hikmah) dan mampu mengontrol diri (iffah), menjauhkan diri dari sikap sombong (kibr) dan mengagumi diri (ujub). Salah satu diantara pesan moral Rasulullah Saw adalah: "Orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya".

Kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa semoga dalam Pilkada serentak tahun 2017, masyarakat Indonesia yang ikut dalam pesta demokrasi tersebut diberikan wawasan yang baik, analisa yang tajam dan dibukakan hatinya untuk bisa memilih pemimpin yang menggunakan moral dan agama sebagai panduan hidupnya., pemimpin yang otentik dan bukan pemimpin figuran.

Semoga masyarakat mendapatkan Kepala Daerah yang mampu menyelesaikan semua permasalahan masyarakatnya, menjelaskan secara detail kebijakan yang ingin ia terapkan kepada masyarakat dan yang memilikii kepekaan dan hati nurani sehingga dapat memperlakukan masyarakat yang ia pimpin lebih manusiawi dan beradab. [***]

M. Abror Parinduri

Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya