Berita

Foto: Dok

Nusantara

Fasilitas Tempat Belajar Bagi Anak Merdeka Tak Mencukupi

SENIN, 17 OKTOBER 2016 | 09:35 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di tengah perubahan peradaban yang cepat akibat perkembangan teknologi, dunia pendidikan mengalami tantangan mendasar. Ilmu pengetahuan terus berubah sehingga hal-hal yang dipelajari di sekolah atau kampus seolah telah usang saat seorang pelajar tamat.

Kaum pendidik dan kalangan industri mesti terus memperbaharui diri agar dapat selalu menyelenggarakan pendidikan yang memenuhi prinsip dasar agar anak bisa merasakan kemerdekaan dalam mengembangkan potensi dirinya.
 
Pokok pikiran tersebut muncul dalam  acara bertajuk Bincang Santai Pendidikan Yang Memerdekakan untuk Zaman Yang Berubah, Minggu (16/10) siang di Kinosaurus, Jalan Kemang Raya 8B, Jakarta Selatan. Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Pendidikan Alternatif, sebagai rangkaian menuju Pertemuan Nasional Pendidikan Alternatif yang akan diselenggarakan di Jogjakarta, 21-23 Oktober mendatang.
 

 
"Membaca itu bukan hanya pada aksara atau abjad, tetapi membaca kehidupan. Anak merdeka adalah anak yang bukan hanya membaca buku, tetapi anak yang mampu memaknai kehidupannya dan menginspirasi banyak orang. Dan itu diperkaya dari pengalaman hidupnya, sehingga mampu menjadi drinya sendiri di zaman yang berubah ini," ujar  Susilo Adinegoro, wakil Jaringan Pendidikan Alternatif dalam sambutannya.
 
Menjadi diri sendiri tentu bukan menjadi seperti apa yang diinginkan orangtua atau lingkungan pergaulannya. Meskipun tidak bisa dibantah bahwa selaku manusia muda, seorang anak amat dipengaruhi lingkungan yang ada di luar dirinya.
 
Monika Irayati selaku inisiator dari Eurodio School of ART (ESoa), sebelumnya mengingatkan bahwa kebutuhan anak sangat banyak dan beragam.

"Sayang  tempat belajar yang ada tidak cukup memfasilitasi kebutuhan anak," tutur dia.
 
Oleh karenanya, untuk memfasilitasi hal itu,  lanjut Ira, berkembanglah tempat-tempat  belajar yang sengaja dirancang untuk menfasilitasi kebutuhan tersebut. Tempat-tempat pendidikan itu hadir dengan tujuan untuk memerdekakan anak.
 
"Namun kemudian di mana tempat anak-anak merdeka itu dalam perubahan zaman?" katanya mempertanyakan.
              
Atas pertanyaan itu, Direktur Sumberdaya Manusia Samsung Electronics Indonesia, Susi Boediman menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan modern dalam mengembangkan inovasi mengandalkan kreativitas SDM-nya.  Dalam hal ini, bila perusahaan tersebut berskala global struktur organisasinya niscaya berubah mengikuti perkembangan zaman sehingga ada kebutuhan mencari generasi muda kreatif.
 
"Saya kira disinilah tempatnya anak merdeka tersebut," tegas dia.
 
Dari sisi yang berbeda, Arleene Yuliana, Vice President bidang Corporate Finance Kartuku, sebuah perusahaan  Fin-Tech, menegaskan bahwa kebutuhan inovasi  kalangan perusahaan terdorong oleh  perubahan cepat yang dimaksud  di atas.
 
"Kalau kita tidak bergerak dengan cepat mengikuti perubahan ini, kita akan tertinggal jauh. Ada kondisi dimana kita harus terus membangun sesuatu yang baru yang berorientasi pada teknologi dan SDM-nya," tegas dia.
 
Namun, untuk memenuhi kebutuhan ini, sumber daya manusianya sangat terbatas. Di negeri maju, SDM punya kreativitas dan inovatif. Sementara di Indonesia, ada gap yang besar saat perusahaan butuh  SDM yang tepat dan  kreatif. Dalam ini, Arlene mengaku perusahaannya dalam dua tahun terakhir  telah melakukan proses ini, mencari dan mengajak talenta-talenta merdeka.
 
Hal yang mirip juga diakui Imron Zuhri, Chief Technical Officer dari Dattabot. Dia menegaskan bahwa  perusahaannya butuh orang-orang yang bisa bermain. Talenta-talenta merdeka itulah yang mengisi  kekosongan sumber daya manusia.
 
"Data itu diam dan perlu orang yang bisa berinteraksi langsung dengan data. Namun, sebagian besar orang, bermain itu menakutkan. Mereka hanya ingin diberi tugas kerja yang jelas, sementara di perusahaan saya tugas kerjanya tidak jelas," ujar dia.
 
Dalam mengatasi hal itu,  akhirnya, perusahaan yang dia pimpin  mampu merekrut  sekitar 200 orang anak muda yang sanggup  bermain dengan data. Ijasah mereka ketika sekolah menjadi tidak dipakai lagi, karena mereka menemukan tempat dimana mereka bisa menjadi dirinya sendiri dengan segala kreativitas yang dimilikinya.

Senada dengan pengakuan itu, pencarian talenta merdeka itu, bagi Arleene Yuliana, adalah sebuah tantangan tersendiri.  Diingatkannya bahwa banyak lulusan perguruan tinggi yang tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan perusahaan.
 
Kurikulum yang mereka dapatkan di bangku sekolah tidak cukup memfasilitasi talenta-talenta merdeka ini. Di Indonesia, kita hanya melihat kemajuan teknologi hanya dari produknya. Tetapi, kita jarang melihat proses kemajuan teknologi muncul dan berkembang di Indonesia,” tambah dia.
 
Orang Indonesia hanya terbiasa melihat hasil akhirnya, tidak mementingkan inovasi apa yang dihasilkan dari satu produk, meskipun dihasilkan dari perusahaan yang berbeda. Sesungguhnya, kita   hanya perlu melihat kebutuhan nmasyarakat itu apa, dan tidak perlu berpendidikan tinggi untuk punya sensitivitas dalam melihat kebutuhan itu.”
 
Tentang kontribusi anak-anak merdeka diakui Imron Zuhri. Dia menyaksikan hal itu benar-benar terjadi. Di perusahaan saya, anak-anak ini menciptakan hal-hal yang luar biasa tanpa perlu diperintah. Dan talenta-talenta ini tidak mungkin didapat dalam sistem sekolah umum. Anak sekarang sudah agak malas kerja di perusahaan mapan, maunya perusahaan yang keren. Terbayang talenta yang dibutuhkan seperti apa. Untuk itu, kami mencari talenta-talenta merdeka ini dengan cara memfasilitasi anak-anak ini  bekerja  dengan menjadi dirinya sendiri. Disitulah makna memerdekakan, menempatkan orang sesuai habitatnya,” ungkapnya.
 
Sementara itu, Resita Kuntjoro, pengajar Design Grafis di Universitas Binus, menggambarkan peran orang tua dalam membimbing anak merdeka berdasar pengalaman hidupnya. membagikan pengalamannya sebagai anak yang dimerdekakan oleh orang tuanya.
 
Dulu saya kerjanya hanya coret-coret dinding dan orangtua saya tidak masalah,” ujar dia.  Melihat gejala itu, kedua orangtuanya  memfasilitasi dia agar bisa terus menggambar. Dia pun dapat kesempatan menyalurkan talenta sehingga akhirnya di umur 12 tahun banyak mengikuti lomba gambar hingga tingkat internasional.
 
Di situlah dia menemukan sendiri apa yang diinginkan, maka jadilah  dia  seorang desainer grafis. Sekarang, pola  pendidikan yang memerdekakan itu pun dia terapkan kepada mahasiswanya. Bahkan dia juga memilih memasukkan anak kandungnya di sekolah alternatif agar dapat berkembang  berkembang menjadi dirinya sendiri, yang mana itu tidak akan didapatkan di sekolah umum.[wid] 

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

JK Bukan Pelaku Penista Agama

Rabu, 22 April 2026 | 04:11

Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Rabu, 22 April 2026 | 03:37

GoSend Rilis Fitur Kode Terima Paket

Rabu, 22 April 2026 | 03:13

Disita Aset Rp2 Miliar dari Safe Deposit Box Pejabat Bea Cukai

Rabu, 22 April 2026 | 03:00

Rano Tekankan Integritas CPNS Menuju Jakarta Kota Global

Rabu, 22 April 2026 | 02:24

Pegawai BUMN Dituntut Tangkal Narasi Negatif terhadap Pemerintah

Rabu, 22 April 2026 | 02:09

Ibrahim Arief Merasa Jadi Kambing Hitam Kasus Chromebook

Rabu, 22 April 2026 | 02:00

Keluarga Nadiem Adukan Dugaan Kejanggalan Kasus Chromebook ke DPR

Rabu, 22 April 2026 | 01:22

Fahira Idris: Perempuan Jadi Tumpuan Indonesia Maju 2045

Rabu, 22 April 2026 | 01:07

Dony Oskaria: Swasembada Pangan Nyata Bukan Hoaks

Rabu, 22 April 2026 | 01:03

Selengkapnya