Berita

Muhammad Soleh/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhammad Soleh: Awalnya Tidak Direncanakan, Didesak Jadi Ketua, Akhirnya Mengalir Saja

SENIN, 17 OKTOBER 2016 | 08:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Nama Mohammad Soleh sebelumnya tidak begitu diper­hitungkan untuk menggantikan posisi Irman Gusman yang telah diberhentikan dari jabatannya sebagai Ketua DPD. Bahkan untuk lolos dalam pertarungan di wilayah barat pun, senator asal Bengkulu ini diragukan untuk menang.

Namunkeraguan itu berubah, begitu seluruh anggota DPD yang hadir dalam rapat paripurna luar biasa pada Selasa (11/10) menggelar pemilihan pimpinan DPD untuk mengisi kursi bekas Irman Gusman. Senator yang ba­ru duduk menjabat satu periode di DPD ini langsung membuat dua kali kejutan.

Pertama yakni, saat pemilihan unsur pimpinan dari wilayah ba­rat. Pria yang berlatar belakang pengusaha ini jauh mengungguli 11 lawannya. Dia meraih suara tertinggi, yakni 59 suara dari total 117 suara. Jauh men­gungguli nama populer seperti Parlindungan Purba dari Sumut, Instyawati Ayus dari Riau, Andi Surya dari Lampung, dan kan­didat lainnya. Soleh terpilih sebagai unsur pimpinan DPD dari wilayah barat.


Kejutan lainnya yakni saat kocok ulang susunan pimpinan DPD RI melawan Gusti Kanjeng Ratu Hemas dari Wilayah Tengah dan Farouk Muhammad dari Wilayah Timur. Lagi, Soleh jauh mengungguli dua seniornya di DPD ini dengan meraih 61 suara dari 116 anggota yang mem­berikan suara. Sementara, Gusti Kanjeng Ratu Hemas di urutan dua dengan 31 dukungan, dan Farouk 23 suara. Alhasil, kursi ketua DPD kembali dipegang senator wilayah bagian barat Indonesia.

Bagaimana ceritanya Saleh yang kurang populer bisa meme­nangkan pemilihan ketua DPD waktu itu? Dan apa yang akan dilakukan di masa jabatan yang hanya enam bulan itu? Simak wawancara lengkapnya dengan Rakyat Merdeka berikut ini:

Bagaimana ceritanya, anda yang disebut kurang populer bisa terpilih sebagai Ketua DPD?
Ya sebetulnya saya pun maju untuk menjadi salah satu pimpi­nan pun ini kan sebetulnya tadinya tidak begitu direncanakan. Lebih didasarkan kepada dor­ongan kawan-kawan anggota DPD sendiri.

Jadi kapan kemudian Anda mulai terpikir untuk men­calonkan diri?

Nah, saya mengambil keputu­san untuk ikut menjadi pimpinan itu di hari Kamis. Ketika teman-teman bilang; Sudah, kayaknya dari calon-calon yang ada sebai­knya Pak Soleh mencalonkan saja.

Respons Anda waktu itu?
Saya bilang, saya tidak punya persiapan apa-apa. Kan waktu­nya sudah pendek. Saya susah menghubungi rekan-rekan ang­gota lain.

Apa kata mereka?
Ndak, biar kami yang ban­tu, katanya. Yang penting Pak Soleh bersedia. Itu kan ada lebih kurang 11 orang waktu itu, mereka mewakili ada yang dari daerah barat, daerah tengah, dan daerah timur.

Itu yang menguatkan anda untuk mencalonkan diri?
Ya, kalau misalnya rekan-rekan memang mau membantu, ya saya katakan mulai hari ini juga ikut bergerak. Nah, kemudian mereka berdiskusi mengajak kawan-kawan yang lain. Ketemu beberapa, bikin pertemuan, kemudian sepakat. Ya sudah, mengalir begitu saja.

Sesuai Tatib DPD yang baru, jabatan Anda ini hanya seki­tar 6 bulan saja dan kembali melakukan pemilihan pimpi­nan yang baru. Apa prioritas anda?
Ya saya pasti melanjutkan perjuangan untuk penguatan DPD itu ya. Amandemenlah ya. Amandemen kelima itu. Nah ini yang menjadi concern anggota DPD sekarang.

Ada lagi yang lain?
Kemudian, saya juga beru­saha untuk menciptakan sua­sana yang kondusif di tubuh DPD sendiri. Supaya semua bisa fokus dan konsentrasi pada amandemen dan penguatan lem­baga. Kemudian ya sama-sama berjuang untuk kepentingan daerah.

Dalam pemilihan pimpinan DPD tahun depan, anda akan kembali bertarung?
Ya saya melihat situasilah ya. Sekarang ini kan yang penting menyelamatkan lembaga ini. Tidak terjadi kekosongan dalam pimpinan, gitu kan. Nah kalau soal nanti setelah 2017 kita lihat dululah. Apa terus atau saya tidak melanjutkan.

Apa catatan penting anda pas­caterpilih sebagai ketua DPD?
Saya pertama mengucapkan terima kasih kepada anggota yang sudah mempercayakan amanah ini kepada saya. Karena ini juga merupakan amanah yang sangat berat kan.

Berat kenapa?
Saya masuk ke dalam sebuah lembaga tinggi negara, yang kondisinya dalam keadaan persepsi masyarakat yang sedikit minor. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya