Berita

Abraham Lulung Lunggana/Net

Politik

Lulung: Saya Tetap Konsisten Menolak Paslon Ahok-Djarot

Tanggapi PPP Kubu Djan Faridz Dukung Incumbent
SABTU, 08 OKTOBER 2016 | 08:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RMOL. Partai Persatuan Pembangunan kubu Djan Faridz resmi mendukung Ahok Di Pilgub DKI 2017. Tapi, dukungan ini ditolak politisi dari kubu Djan Faridz, Abraham Lulung Lunggana alias Haji Lulung.

PPP kubu Djan Farid memu­tuskan mendukung pasangan Ahok-Djarot di Pilgub DKI tahun depan. Djan memastikan sikap DPP PPP ini akan dii­kuti semua kadernya, termasuk Ketua Dewan Pimpinan (DPW) PPP DKI, Haji Lulung.

"Pasti, setiap keputusan DPP akan diikuti keputusan DPW," kata Djan dalam jumpa pers di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, kemarin.


Dikatakan Djan, keputusan mendukung Ahok-Djarot di­ambil berdasarkan rapat ple­no DPP PPP pada 4 Oktober 2016. Keputusan ini juga sesuai Silaturahim Nasional PPP 6 Oktober 2016 yang dihadiri semua pengurus wilayah PPP se-Indonesia, termasuk Haji Lulung. "Kalau hadir artinya mendukung keputusan itu kan," ucap Djan.

Namun, Djan tidak mengeta­hui kenapa Haji Lulung tidak hadir dalam jumpa pers hari ini. Djan mengatakan, PPP se­lanjutnya akan berkomunikasi dengan Ahok-Djarot untuk bergabung jadi pendukung. Jika diizinkan, deklarasi secara resmi akan dilakukan.

"Nanti saat deklarasi, Lulung akan hadir," yakinnya.

Djan membolehkan memi­lih gubernur non muslim. Dia mengatakan penafsiran atas kepemimpinan seseorang non muslim sudah banyak dilakukan. PPP yang dipimpinnya meny­impulkan gubernur bukanlah pemimpin agama. PPP pun per­nah mencalonkan FX Rudi Di Pilkada Kota Solo 2010.

Terkait beredarnya video Ahok yang dinilai melecehkan Al Quran, Djan mengatakan, kedepannya PPP akan menjem­batani antara umat Islam dengan pasangan Ahok-Djarot. "Adalah langkah kontraproduktif bila umat Islam menjauhi pasangan Ahok-Djarot yang berpotensi besar memenangi Pilgub DKI 2017," tukasnya.

Bagaimana reaski Haji Lulung atas sikap PPP kubu Djan Faridz yang mendukung pasangan Ahok-Djarot? Rupanya, Haji Lulung, politisi PPP kubu Djan Faridz ini tetap konsisten dengan pendiriannya, menolak pasangan Ahok-Djarot.

Awalnya, Wakil Ketua DPRD DKI ini mengaku kesal karena disebut mendukung pasangan incumbent. Bahkan, akunya, banyak warga kecewa akibat informasi yang menyebutkan di­rinya mendukung Ahok-Djarot. "Gara-gara itu sekarang sudah banyak orang kecewa sama saya," ujar Lulung.

Meski demikian, Lulung men­gatakan, kabar dirinya mendu­kung Ahok-Djarot adalah tidak benar. "Itu fitnah," ujarnya.

Diketahui, PPP kubu Romahurmuziy mendukung pasangan Agus Harimurti Yudhyono-Sylviana Murni. Sementara, Haji Lulung berada di PPP Djan Faridz "Saya kan di PPP Djan Farid. Kalau PPP saya dukung ke Ahok, ya saya nggak ke Ahok," ujar Lulung.

Lulung mengatakan, tetap menolak Ahok. "Seperti masyarakat umum tahu, bahwa selama ini saya menjadi lambang perlawa­nan buat Ahok," kata Lulung.

Menurutnya, dia menghormati keputusan DPP. Tapi perlu juga dicatat, keputusan pribadinya untuk tidak mendukung Ahok pun harus dihormati.

"Masyarakat semua tahu, dia (Ahok) yang dari dulu jahat sama saya. Ingat ngggak Ahok mau mempidanakan saya di kasus Uninterruptible Power Supply (UPS). Karena memang saya dengan Ahok gak bisa nyambung. Ahok juga sudah caci maka saya," tegasnya.

Sementara, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PPP kubu Romahurmuziy, Arsul Sani mengatakan, alasan partainya tidak mengusung pasangan Ahok-Djarot lantaran tidak ada satupun konstituen atau segmen di dalam organisasi PPP yang mengusul­kan untuk mendukung pasangan incumbent itu.

"Kenapa PPP tidak dukung Ahok? Tidak ada ada satu kon­stitun pun yang mengusulkan kepada DPP PPP mengusung Ahok. Tidak ada satu pun," kata Arsul Sani di Komplek, Senayan, Jakarta, kemarin.

Apabila PPP memaksakan mengusung Ahok, menurut Arsul, partainya akan kehilan­gan kepercayaan dari konstituen. Karena selama ini Partai meru­pakan perwakilan konstituen.

"Lalu kalau partai tidak ada yang mengusulkan kemudian DPP membuat keputusan yang sementara tidak ada satu usulan pun, Ia (partai) mewakili siapa sekarang ini," ujarnya. ***

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya