Basuki Tjahaja Purnama/Net
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Golkar, Akbar Tandjung telah mendengar mengenai usulan kader muda untuk menarik dukungan terhadap calon inkumben Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama lantaran ucapannya yang dianggap banyak pihak telah menistakan ajaran agama.
Menurut dia, kader muda Partai Golkar tak perlu ragu untuk menarik dukungan kepada Ahok, jika telah meyakini bahwa ucapan Ahok yang berbau penistaan ajaran agama dapat merugikan partai.
"Saya tidak tahu persis, tapi saya pernah mendengar (menarik dukungan), kalau yakin harus diperjuangkan. Harus perjuangkan pendapatnya, sejauh mereka mempuyai dasar untuk berpendapat seperti itu jangan perlu ragu-ragu," ujar Akbar saat ditemui di Kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (7/10).
Akbar kembali menegaskan, alasan menarik dukungan terhadap Ahok harus benar-benar didasari atas kepentingan partai dan bukan kepentingan pribadi atau golongan, apalagi bersifat SARA. Namun jika alasan menarik dukungan didasari atas cara kepemimpinan Ahok yang dinilai Arogan, dirinya tidak ingin menghalangi langkah tersebut.
"Kalau alasan mereka yang bersifat SARA saya tidak setuju, kita harus hormati Ahok walaupun dia orang Tionghoa, tapi kalau orang tidak Suka dengan Ahok dengan cara kepemimpinannya itu bisa saja tapi bukan karena dia orang Tionghoa itu tidak boleh," ujar Akbar.
Terkait ucapan Ahok yang dianggap banyak pihak telah menistakan ajaran agama, Akbar enggan berkomentar banyak. Menurut dia, sesama umat beragama, mesti menghargai keyakinan dan kepercayaan umat lainnya.
"Saya tidak tahu persis ucapanya, tapi kalau itu ucapanya itu, keyakinan kita masing-masing sebagai umat beragama, jadi kita tidak boleh keyakinan kita itu di campuri oleh orang lain. Kita harus menghargai keyakinan masing-masing orang," ujar Akbar.
Sebelumnya, sejumlah pihak menilai ucapan Ahok telah menistakan ajaran agama. Ucapan tersebut terjadi saat Ahok melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016.
Saat itu, Ahok menyatakan tidak memaksa warga Kepulauan Seribu untuk memilih dirinya pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Pernyataan Ahok itu disertai ucapan yang mengutip Surat Al Maidah ayat 51. Pidatonya di Kepulauan Seribu itu, muncul di media sosial dan tersebar secara viral.
Ahok sendiri membantah, jika dirinya pernah menghina ayat suci dalam Al Quran. Menurutnya, video yang tersebar di media sosial itu telah disalahgunakan oleh sejumlah orang dengan menampilkan cuplikan pernyataannya dan tidak menampilkan video secara utuh.
Ahok menjelaskan alasannya melontarkan penggalan Surat Al Maidah ayat 51 disebabkan ayat tersebut kerap digunakan oleh lawan politik untuk menyerangnya. Kondisi itu, kata Ahok sudah terjadi sejak ia pertama kali terjun di dunia politik pada 2003 di Belitung Timur.
[sam]