Berita

Foto: Istimewa

Politik

Ini Empat Alasan Ahok-Djarot Kalah Kalau Head To Head

JUMAT, 07 OKTOBER 2016 | 17:36 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Ada empat alasan yang membuat pasangan petahana Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat menang saat ada tiga pasangan, sementara saat terjadi head to head keduanya keok.

Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI), ada perpindahan dukungan dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno ke Agus Harimurti Yudhoyono-Silvyana Murni dan sebaliknya saat salah satu pasangan tersebut head to head dengan Ahok-Djarot.  

"Hal ini karena pemilih pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi ‎memiliki kesamaan profil," ujar peneliti LSI Ardian Sopa saat memaparkan hasil survei bertajuk "Isu Agama Kalahkan Ahok?" di Jalan Pemuda No 70, Rawamangun, Jakarta, Jumat (7/10).


Alasan kedua adalah faktor pemilih muslim. Menurut Ardian, pasangan Anies-Sandi dan Agus-Sylvi unggul di pemilih muslim yang basis pemilihnya mencapai lebih dari 90 persen di DKI Jakarta. Dari basis ini, sebanyak 40 persen tidak menginginkan non muslim menjadi gubernur pada Maret 2016 dan meningkat menjadi 55 persen di bulan Oktober 2016.

"Alasan ketiga adalah faktor pemilih non tionghoa. Pemilih non tionghoa yang populasinya lebih dari 90 persen tidak ingin dipimpin. Tercatat di Maret 2016 sebanyak 30 persen dan meningkat jadi 50 persen di Oktober 2016."

Sementara alasan keempat lebih menekankan pada faktor personality dan kebijakan Ahok. "Di Maret 2016 yang tidak setuju dengan kebijakan dan personalitinya di angka 25 persen, di Oktober 2016 menjadi 38.6 persen," sambung Ardian.

Namun begitu, Ardian menekankan bahwa Ahok bisa bangkit kembali ‎jika mantan Bupati Belitung Timur itu bisa mengurang sentimen publik terhadap tingkahnya. Terutama, mereka yang dari kalangan pemilih muslim.

"Jika gagal, Ahok akan dikalahkan dalam Pilkada DKI lebih karena sentimen isu agama," tandasnya. [sam]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

MAKI Heran KPK Tak Kunjung Tahan Tersangka Korupsi CSR BI

Selasa, 13 Januari 2026 | 20:11

Keadilan pada Demokrasi yang Direnggut

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:54

Program MBG Tetap Harus Diperketat Meski Kasus Keracunan Menurun

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:51

Oegroseno: Polisi Tidak Bisa Nyatakan Ijazah Jokowi Asli atau Palsu

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:48

Ketum PBMI Ngadep Menpora Persiapkan SEA Games Malaysia

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

Sekolah Rakyat Simbol Keadilan Sosial

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:41

110 Siswa Lemhannas Siap Digembleng Selama Lima Bulan

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:30

PBNU Bantah Terima Aliran Uang Korupsi Kuota Haji

Selasa, 13 Januari 2026 | 19:08

Demokrat Tidak Ambil Pusing Sikap PDIP Tolak Pilkada Via DPRD

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:57

Amankan BBE-Uang, Ini 2 Kantor DJP yang Digeledah KPK

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:40

Selengkapnya