Berita

Hukum

Politikus PDIP Minta KPK Ikut Campur Di Perkara Asian Agri

KAMIS, 06 OKTOBER 2016 | 16:24 WIB | LAPORAN:

Kasus dugaan penggelapan pajak PT Asian Agri hingga saat ini belum juga dituntaskan Kejaksaan Agung. Dalam kasus itu  baru satu orang  yang dipidana, yakni bekas manajer pajak Asian Agri, Suwir Laut. Sedangkan delapan pimpinan perusahaan lainnya tak tersentuh oleh hukum.
 
Terkait hal itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Hendrawan Supratikno, mendesak Kejaksaan Agung dan Direktorat Jenderal Pajak untuk segera bekerja tuntas.

"Yang pasti semua kasus penyimpangan atau penggelapan pajak harus diusut tuntas. Jangan biarkan para pengemplang (pajak) lalu lalang seenaknya," kata Hendrawan kepada wartawan, Kamis (6/10).


Politikus PDI Perjuangan ini menengarai delapan pimpinan perusahaan milik taipan Sukanto Tanoto itu tak tersentuh oleh hukum karena kongkalikong dengan aparat.

Karena itulah, Hendrawan juga mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk turun tangan menyelesaikan kasus tersebut.

"Setuju (KPK ambil alih). Sejauh ditengarai ada keterlibatan penyelenggara negara dan aparat birokrasi pemerintahan," tegasnya.

Sementara itu, poltikus PDIP lain yang bertugas di Komisi III DPR RI, Masinton Pasaribu, mendesak Kejagung agar membuka lagi kasus penggelapan pajak yang telah lama "dipetieskan" itu.

"Ada apa dengan Kejagung hingga kasus itu tak ditindaklanjuti? Kenapa hanya satu orang setingkat manajer pajak di perusahaan yang divonis bersalah sementara pemiliknya lepas tak tersentuh,” katanya.

Masinton meminta Jaksa Agung, H.M. Prasetyo, tidak tebang pilih menuntaskan kasus yang ditanganinya. Kerugian negara atas kasus itu diperkirakan mencapai triliunan rupiah.

Sebelumnya, Prasetyo sudah membantah kabar yang menyebut kejaksaan menghentikan penuntutan kasus pajak Asian Agri. Menurutnya, skandal pajak tersebut masih dilanjutkan JAM Pidsus Kejagung.
 
Berdasarkan laporan audit investigasi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), terdapat empat modus pengemplangan pajak yang dilakukan Asian Agri. Pertama, dengan memperbesar harga pokok penjualan barang dari harga yang sebenarnya.

Kedua, dilakukan dengan menjual produk kepada perusahaan afiliasi mereka di luar negeri dengan harga yang sangat rendah. Modus ketiga, membuat catatan pemasukan management fee dan kegiatan jasa konsultan yang dimasukkan dalam biaya. Padahal setelah diteliti, pekerjaannya tidak ada. Keempat, dilakukan dengan membebankan biaya ke dalam keuangan, dan perhitungan laba rugi yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya