Berita

Kamashakti Wondoamiseno

Nusantara

Lalu lintas Jeron Beteng Yogya Harus Ditata Ulang

JUMAT, 23 SEPTEMBER 2016 | 00:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Lalu lintas di wilayah jeron beteng Yogyakarta, lingkungan dalam Kraton, perlu ditata ulang. Jika tidak, kepentingan wisata dan hunian di wilayah destinasi utama wisata di Yogyakarta tersebut tidak akan berjalan dengan harmonis.

"Dan bukan tidak mungkin langkah ini akan mendorong pengembangan jeron beteng sebagai destinasi wisata akan lebih meningkat. Untuk itu perlu diatur ulang persoalan lalu lintas agar kepentingan wisata dan kepentingan hunian tidak bertubrukan," kata pengamat pariwisata Yogyakarta, Kamashakti Wondoamiseno, S.An, M.Sc kepada media, Kamis (22/9).
 
Pernyataan Kamashakti itu terkait dengan dideklarasikannya "Langenastran Sebagai Kampung Wisata Budaya" Yogyakarta yang terletak di jeron beteng (dalam beteng kraton), pada awal September 2016 lalu.
 

 
Menurut pengamatan Kamashakti, ada beberapa titik kemacetan lalu lintas yang mengganggu arus masuk dan keluar kendaraan dari dalam ke luar wilayah jeron beteng. Gangguan arus kendaraan terutama terjadi ketika akhir pekan dan hari libur.
 
"TItik-titik kemacetan selama ini terjadi di beberapa tempat yang senantiasa dikunjungi oleh wisatawan seperti pusat penjualan Gudeg yang terletak di jalan Wijilan, Alun-alun Selatan yang menjadi destinasi wisata kayuh (odong-odong) dan wisata misteri pohon beringin kembar serta daerah Pasar Ngasem ke utara yang merupakan pusat batik," ujar Kamashakti.
 
Sarjana Antropologi itu mengusulkan perlu revitalisasi dan pengaturan ulang lalu linta di dalam beteng agar kepentingan wisata yang menjadi mata pencaharian masyarakat dalam beteng dan kepentingan penghuni jeron beteng dapat saling mendukung pengembangan pariwisata.

"Jika Langenastran yang telah dideklarasikan sebagai Kampung Wisata Budaya setiap bulan memiliki acara budaya dan gelar wisata, aka nada tambahan kemacetan. Saat ini pada akhir pekan dan liburan panjang, wilayah jeron beteng bagian timur padat lalu lintas bahkan sampai pada tingkat kemacetan di luar kendali. Kondisi itu akan bertambah ketika Langenastran yang menjadi kampung wisata menggelar kegiatannya," ujarnya.
 
Kampung Langenastran meliputi Jalan Langensuryo, Langenastran Lor, Langenastran Kidul, Langenarjan Lor dan Langenarjan Kidul. Langenastran dan Langenarjan terutama Langenastran Lor dan Kidul merupakan akses utama menuju Alun-alun selatan.  Selama ini Langenastran Lord an Kidul hanya merupakan tempat parkir bagi kendaraan yang mengunjungi Alun-Alun Selatan.
 
"Praktis sebelum kampung wisata dideklarasikan, kedua jalan itu sudah macet karena menjadi tempat parkir dadakan bagi pengunjung Alun-alun Selatan. Jika,  kegiatan sebagai kampung wisata budaya dilaksanakan, di empat tempat itu, bisa dibayangkan kemacetan yang akan terjadi. Oleh karena itu penataan ulang lalu lintas serta perparkiran di wilayah Jeron Beteng akan memberi dampak positip bagi semuanya," tegas Kamashakti.
 
Dampak positif dari adanya kampung wisata budaya Langenastran adalah, jalan di dalam Jeron Beteng yang biasanya tidak terlewati oleh kendaraan akan terlewati dan menghidupkan potensi wisata di daerah tersebut. Namun muncul dampak negatif di mana masyarakat penghuni yang tidak memiliki usaha di situ akan merasa terbatasinya ruang gerak.
 
Oleh karena itu, pengaturan ulang dan revitalisasi lalu lintas Jeron Beteng menurut pengamat pariwisata itu suatu keharusan. Cepat atau lambat, demikian ditegaskannya, kemacetan di Jeron Beteng akan menyadarkan  seluruh masyarakat Jeron Beteng perlunya mengatur-ulang lalu lintas di wilayahnya. Kepentingan bersamalah yang akan menjadi jalan keluar dari pengaturan dan revitalisasi lalu lintas serta perparkiran. [rus]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Saham-saham AS Bergerak Variatif Pantau Perkembangan Negosiasi

Sabtu, 11 April 2026 | 08:20

Mali Cabut Pengakuan Negara Buatan Polisario, Dukung Otonomi Sahara di Bawah Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 08:10

Dorong Pivot Bisnis, KADIN Sebut MBG Berkah bagi Petani dan Peternak

Sabtu, 11 April 2026 | 08:02

BI Ungkap Konsumen Tetap Pede, Ekonomi Dinilai Baik hingga Akhir Tahun

Sabtu, 11 April 2026 | 07:47

Kenya Dukung Otonomi Sahara di Bawah Kedaulatan Maroko

Sabtu, 11 April 2026 | 07:27

Harapan Damai Picu Penguatan Pasar Eropa di Akhir Pekan

Sabtu, 11 April 2026 | 07:18

Drama Diplomasi Dimulai: Iran-AS Adu Kuat di Islamabad

Sabtu, 11 April 2026 | 07:04

Kepsek SMK jadi Otak Pengoplosan Gas LPG 3 Kg di Brebes

Sabtu, 11 April 2026 | 06:46

Prabowo Tetap Waras soal Demokrasi, Tidak Seperti Jokowi

Sabtu, 11 April 2026 | 06:20

Soemitronomics dan Kedaulatan Ekonomi

Sabtu, 11 April 2026 | 05:59

Selengkapnya