Berita

Foto: Dok

Politik

Lab Psikologi UI Lebih Baik Periksa Kejiwaan Ahok

SELASA, 13 SEPTEMBER 2016 | 15:08 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Demi menjaga integritas dan tanggungjawab moral (intelektual) civitas akademika Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Ir Muhammad Anis, M. Met. sebagai rektor lebih baik segera membentuk tim khusus guna memeriksa kejiwaan Gubernur Ahok, yang kian hobi nebar ancaman kepada masyarakat.

Rektor UI bisa menugasi Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia (LPP-UI) pimpinan Prof Dr Hamdi Muluk, M Si. ditambah psikiater andal untuk memeriksa kondisi kejiwaan Ahok karena sekarang dia sedang memimpin Jakarta, Ibu Kota NKRI yang menjadi pusat kegiatan sosial, politik dan ekonomi di negeri ini.

Hal ini ditegaskan Adhie M Massardi, inisiator Gerakan Masyarakat Sipil untuk Pemilu Bersih kepada wartawan di Jakarta, Selasa (13/9).
 

 
Alasan Adhie karena "pikiran, ucapan dan tindakan" Gubernur Ahok sudah melampaui batas, sehingga merusak kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara, serta mengguncang tata-nilai yang hidup di negeri ini.

"Gaya Gubernur Ahok memerintah tampak dilandasi kesumat terutama terhadap golongan tertentu, yang bisa jadi dilandasi dendam masa lalu (masa kecil) sebagaimana literatur menyebut Hitler menciptakan holocaust bagi kaum Yahudi karena dendam masa kanak-kanak terhadap bangsa yang kemudian mendirikan negara yang bernama Israel itu," katanya.

"Jangan sampai bangsa Indonesia mengulang kesalahan bangsa Jerman, terutama kaum intelektualnya, yang membiarkan bahkan cenderung mendukung tindakan-tindakan bodoh dan antisosial tokoh politik baru (Adolf Hitler) hanya karena retorikanya yang di akhir 1930-an, tampak berbeda dengan poltisi lain," tutur Adhie.
 
"Lihat saja, jangankan mahasiswa Boby Fibri Krisdiyanto yang diminta dikeluarkan dari UI hanya karena anti-Ahok. Bahkan Presiden RI Joko Widodo disuruh menindak menteri-menteri yang melawan kebijakannya memberikan kemudahan kepada para pengembang untuk mereklamasi pantai utara Jakarta sekalipun melawan hukum dan mencemari lingkungan. Karena katanya, para pengembang telah mengeluarkan banyak uang untuk membiayai pilpres. Apalagi kepada rakyat kecil. Dia menggusur tanpa kompromi!" masih kata Adhie.

Adhie menambahkan, Ahok juga sangat anti-kritik seperti Hitler. Cuma bedanya, bila Hitler mengirim pasukan khusus (SS) untuk melibas lawan-lawannya, Ahok mengirim cyber terorist untuk melakukan teror di dunia maya (sosmed) untuk membunuh karakter para pengeritiknya.
 
"Saya berharap kalau Tim UI yang dibentuk Rektor Muhamad Anis nanti menghasilkan temuan menarik mengenai masa kecil Ahok, bisa segera diumumkan kepada publik agar bisa dijadikan referensi bagi masyarakat Jakarta dalam memutuskan pilihan pada pilgub DKI 2017," katanya.

"Harus kita hindari munculnya pemimpin semacam Hitler di muka bumi ini. Kalau ini berhasil, akan dicatat sejarah sebagai sumbangan civitas akademika UI terhadap sistem demokrasi dan rezim pemilu di negeri ini. Saatnya dunia kampus berhenti menjadi parasit demokrasi," pungkas jubir presiden era Gus Dur ini.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya