Berita

Politik

Pesona Sikap Ramah

RABU, 31 AGUSTUS 2016 | 09:26 WIB | OLEH: TATANG MUTTAQIN

OM MENNO, warga negara Belanda mukim di sebuah kota dekat pantai di ujung utara negeri Kincir Angin, Kota Delfzil merasa sangat  terkesan saat berkunjung ke Indonesia dengan keramahan tukang becak yang puluhan tahun lalu sering mangkal di dekat stasion Surabaya, Jawa Timur.

Kesan yang mendalam tersebut melahirkan keinginan sampai di usia yang mulai senja dengan moda transportasi becak yang barangkali di kota besar Indonesia pun sudah mulai jarang ditemui. Kesan tersebut mengkristal menjadi keinginan yang mendalam untuk memiliki becak dan bisa dikemudikan di negeri Oranye sekedar untuk dikendarai berdua bersama isteri terkasihnya, Uwak Asiyah, demikian mahasiswa Indonesia lazim menyapanya.

Usia yang semakin bertambah beriringan dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan kontrol rutin membuat sang isteri khawatir jika keinginan yang mendalamnya, untuk memiliki becak tak terkabul sehingga dengan beragam upaya beruasaha mencari cara untuk mendapatkan becak. Lewat kenalan di tanah air yang pernah belajar dan mukim di Belanda, Uwak Asiyah meminta bantuan mencarikan becak yang cukup layak untuk bisa dikirim melintasi samudra ke Belanda.


Dengan usaha yang tidak sedikit sekaligus apik, jadikah becak yang cocok untuk ukuran orang Belanda dengan fisik yang kokoh dan tampilan yang ciamik. Perjuangan selanjutnya bagaimana becak tersebut bisa dikirim ke Delfzil dan ternyata tak mudah sebagaimana mengirim paket biasa. Akhirnya menemukan kenalan yang punya usaha pengiriman barang sehingga becak sampai di Delfzil dengan biaya lebih mahal dari sepeda motor namun menentramkan karena mampu mewujudkan cita-cita berbecak di Belanda.

Cerita tersebut menunjukkan bagaimana pentingnya kesan terutama untuk para pelancong yang selama ini kita dambakan datang ke tanah air untuk menambah devisa negara sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal, setidaknya di kawasan destinasi pariwisata dan sekitarnya termasuk akomodasi, rumah makan, sarana transportasi serta jasa ikutannya.

Jika para wisatawan terkesan dengan kunjungannya maka akan dengan mudah menyebarkan kesan tersebut baik lewat lisan sebagaimana zaman Om Menno dulu dan juga dilengkapi dengan beragam media sosial di zaman kiwari. Rekomendasi personal lebih kuat pengaruhnya untuk menarik para wisatawan daripada rekomendasi dan promosi pada umumnya yang sering dinilai sudah dikemas sedemikian rupa.

Di sinilah jargon Sapta Pesona yang sejak lama dikumandangkan dalam dunia perpariwisataan di tanah air menjadi penting. Bahkan Menteri Pariwisata paling popular, mendiang Joop Ave mengabadikan jargon tersebut dalam wujud gedung megah Sapta Pesona.

Sapta Pesona terdiri dari tujuh komponen, yaitu: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan. Jika komponen keamanan, ketertiban, kebersihan, kesejukan dan keindahan merupakan perpaduan ikhtiar banyak pihak namun ramah tamah dan kenangan bisa dilakukan oleh keunikan layanan personal. Di sinilah keramahtahaman yang akan meninggalkan kenangan menjadi penting untuk diinternalisasi, dirawat dan terus dipraktekkan apalagi keramahtamahan tersebut sudah menjadi ciri khas orang Indonesia sejak zaman dulu yang nampaknya kini semakin memudar.

Sekalipun identitas keramahtamahan sedikit pudar seiring dengan kuatnya arus dunia yang semakin materialistik dan kalkulatif namun Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) BPS terkait aspek modal sosial menunjukkan keramahtamahan dan kebersamaan serta sikap resiprokal masih cukup signifikan setidaknya di masyarakat perdesaan dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah. Bahkan kemudahan untuk meminjam dan memberi pinjaman di saat tertentu juga masih cukup jamak di perdesaan namun di kalangan yang berpunya apalagi tinggal di perkotaan sudah semakin memudar.

Dalam prakteknya, kebersamaan dalam membantu korban bencana masih cukup nampak sebagaimana terjadi dalam pengalaman Tsunami di Aceh dan erupsi Merapi di Yogyakarta dengan gradasi yang bervariasi. Kembali kepada ikhtiar pemerintah untuk menggenjot sektor pariwisata, pengejawantahan Sapta Pesona menjadi penting untuk dipahami untuk semuapemangku kepentingan untuk bersinergi memastikan agar
Wisatawan akan senang berkunjung ke tujuan wisata yang aman, tenteram, tidak takut, terlindungi dan bebas tindak kriminal, penyebaran penyakit juga yang tidak melanggar hukum namun mengganggu seperti pemaksaan dalam penawaran barang dan jasa.

Di samping terjamin keamanannya, para pelancong juga merasakan adanya keteraturan atau ketertiban sehingga tak terjadi penyerobotan antrian dan juga layanan moda transportasi yang tertib. Ketertiban dan keteraturan akan lebih baik dengan dukungan keadaan tujuan wisata bebas dari kotoran, sampah, limbah, penyakit dan pencemaran sehingga merasa betah berlama-lama di setiap destinasi pariwisata. Di samping akomodasi yang bersih, ketersediaan rumah makan yang sehat dan bersih juga sangat penting.

Wisatawan dari negara-negara empat musim sangat senang dengan daerah tropik seperti Indonesia dengan limpahan karunia cahaya matahari yang nyaris tanpa henti. Teriknya matahari akan terasa gersang jika tidak diimbangi dengan kesejukan lingkungan tujuan wisata yang serba hijau, segar, rapi sehingga temperatur yang panas terkompensasi oleh suasana yang hijau mendeduhkan.

Selanjutnya, secara bertahap semua pemangku kepentingan pariwisata perlu terus meningkatkan kemampuan untuk menonjolkan keindahan destinasi pariwisata dengan menampilkan lingkungan yang menarik dan enak dipandang alias indah baik secara tata warna, tata letak, tata ruang dan tata gaya dan gerak yang serasi dan enak dilihat.

Kelima komponen tersebut akan menyisakan kesan yang kuat jika semua layanan dilakukan dengan penuh keramah-tamahan, suka tersenyum dan menarik hati sehingga meninggalkan kesan yang mendalam dan kenangan yang sulit dilupakan. Itulah hubungan kesan becak Om Menno dan esensi Sapta Pesona untuk pariwisata Indonesia yang lebih baik. Semoga! [***]

Penulis adalah peneliti di The Inter-university Center for Social Science Theory and Methodology (ICS),University of Groningen, The Netherlands.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Wall Street Lesu, Nasdaq Anjlok Paling Dalam

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:20

Tok! Pertamax Naik Drastis Jadi Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

Rabu, 10 Juni 2026 | 08:02

Peringati 100 Hari Perang, Ghalibaf Puji Keteguhan Rakyat Iran

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:49

Logam Mulia Melemah, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi AS

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:39

JIS Diburu Sponsor, Jakpro Mulai Proses Tender Naming Rights

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:27

AS Gempur Iran Setelah Helikopter Apache Ditembak Jatuh di Selat Hormuz

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:16

Saham Teknologi dan Perbankan Tertekan, Bursa Eropa Ditutup Lesu

Rabu, 10 Juni 2026 | 07:05

Ditopang Geng Solo dan Golkar, Duet Gibran-Bahlil Bisa jadi Efek Kejut di Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:58

Iran Disebut Memiliki Tiga Senjata Nuklir yang Bikin AS-Israel Ketar-ketir

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:30

Lagu ‘MBG’ Sarana Efektif Dongkrak Popularitas Bahlil Menuju Pilpres 2029

Rabu, 10 Juni 2026 | 06:01

Selengkapnya