Berita

Presiden Jokowi/Net

Politik

Jokowi Harus Tunjuk Menteri ESDM Yang Revolusioner

SENIN, 29 AGUSTUS 2016 | 08:41 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Indonesia sebagai bangsa yang besar, dengan target pertumbuhan ekonomi 5,3  persen, sebagaimana pidato kenegaraan yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Sidang Paripurna di Gedung MPR/DPR/DPD RI pada 16 Agustus 2016 lalu, harusnya tidak hanya mengejar keuntungan finansial seperti pajak, deviden ataupun pembagian royalti saja dari sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM), akan tetapi juga harus fokus pada keuntungan ekonomi jangka panjang.

Demikian disampaikan Ketua Presidium Front Revolusi Selamatkan Kekayaan Bangsa (FOROS-Bangsa) Rakhmat Abril Kholis dalam keterangannya, Senin (29/8).

Menurutnya, pemerintah selayaknya mempunyai visi besar dalam mengelola SDA yang dimiliki. Dalam hal ini, pemerintah harus mempunyai koridor kebijakan yang jelas mengenai bagaimana pemanfaatan segala sumber daya alam demi kemajuan ekonomi bangsa Indonesia dan pada akhirnya berefek kepada kesejahteraan rakyat Indonesia.


Rasanya belum luput dari ingatan kita gonjang-ganjing tata kelola energi dan sumber daya mineral pada era Menteri ESDM Sudirman Said beberapa bulan yang lalu tentang habisnya masa tenggat izin eksport konsentrat tembaga PT. Freeport Indonesia per tanggal 28 Januari 2016, yang berarti bahwa Freeport telah kehilangan hak untuk mengekspor konsentrat tembaga senilai lebih dari satu miliar dolar AS. Ditambah lagi sikap Freeport yang tak kunjung mau menyetorkan jaminan keuangan untuk pembangunan fasilitas pengolahan mineral (smelter) senilai 530 juta dolar AS ke Indonesia. Di saat permasalahan ini belum usai, pada 27 Juli 2016 Presiden Jokowi malah melakukan kebijakan kontroversial dengan mengganti Sudirman Said dari jabatannya sebagai Menteri ESDM ke pangkuan Arcandra Tahar (pakar dalam bidang energi), di saat "dosa-dosa" lama Sudirman Said yang tak kunjung dituntaskan.

Rakhmat menyatakan bahwa sebenarnya pengangkatan Arcandra Tahar membawa harapan besar dalam tata kelola energi dan sumber daya alam Indonesia kedepan. Ia adalah putra terbaik bangsa yang memiliki kapabilitas tinggi dalam bidang yang ia tekuni. Namun, hal ini kandas dengan terbongkarnya kasus kewarganegaraan ganda yang melibatkan menteri ini hingga berujung pada pemberhentian Arcandra dari tahtanya sebagai menteri.

"Hal ini seakan menyurutkan keyakinan kita bahwa pemerintah mampu bersungguh-sungguh dalam menempatkan manusia yang capable secara pengetahuan dan integritas untuk dapat menyelesaikan carut-marut pengelolaan eneri dan sumber daya mineral di Indonesia saat ini," ungkapnya.

Secara sederhana, Rakhmat menyikapi problem ini dalam dua hal. Pertama, Jokowi selaku kepala negara sekaligus kepala pemerintahan sudah menyia-nyiakan aset terbaik Indonesia hanya karena verifikasi calon menteri yang tidak profesional. Kedua, Jokowi dirasa masih memiliki bayang-bayang gelap dalam hal interaksi dengan para pengusaha yang mengeruk sumber daya alam di Indonesia sekarang, dan hal ini sepertinya akan mendapatkan hambatan jika Arcandra tetap dipertahankan dalam struktur pemerintahan.

Selain itu, FOROS-Bangsa memandang sudah seyogyanya status pelaksana tugas (PLT) Menteri ESDM yang menempatkan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan harus diselesaikan secepat-cepatnya agar tidak ada ruang untuk menetapkan kebijakan yang tak pro rakyat.

"Jokowi harus sesegerakan mungkin mengangkat anak bangsa yang revolusioner dan berintegritas tinggi yang mampu menjadi tangan kanan terbaik dalam tata kelola energi dan sumber daya mineral di Indonesia sehingga kekayaan bangsa dapat secara baik diamankan," tegas Rakhmat.

Problem tata kelola sumber daya alam dari hulu hingga hilir masih banyak yang perlu diselesaikan. Mulai dari komitmen pemerintah dalam menyelesaikan kasus-kasus sentral terkait tata kelola tambang di Indonesia seperti Freeport, kepemilikan saham pemerintah yang masih sangat kecil terhadap aset-aset sumber daya energi dan mineral, kewajiban pembangunan smelter bagi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia yang tak kunjung diindahkan, dinamika pengembangan Blok Masela, hingga pada tataran kebijakan pemerintah tentang harga bahan bakar di pasaran yang memang harus dicarikan formula untuk menyelesaikannya.      

"Sumber daya alam yang terkandung dalam bumi Indonesia merupakan anugerah dan amanat dari Tuhan Yang Maha Esa. Predikat negara dengan jumlah cadangan energi gas alam terbesar di dunia layaknya mampu disyukuri oleh bangsa ini. Namun, justru kekayaan ini menjadi laknat, ketika tidak mampu dikelola oleh putra-putri bangsanya sendiri. Maka dari itu, FOROS-Bangsa menuntut agar Presiden cepat mengambil sikap dalam masa transisi menteri ESDM ini. Menteri yang revolusioner harus lahir agar mampu menjadi pengawal terhadap aset kekayaan bangsa yang melimpah," demikian Rakhmat. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya