Berita

Ilustrasi

Hukum

Dana Proyek Infrastruktur KA Masih Jadi Bancakan, KPK Harus Audit

KAMIS, 25 AGUSTUS 2016 | 21:25 WIB | LAPORAN:

Pembangunan infrastruktur sektor transportasi khususnya jaringan kereta api  yang dilaksanakan Pemerintahan Jokowi- Kalla di seluruh wilayah merupakan proyek mercusuar sebagai jalan keluar atas ketimpangan pembangunan. Namun proyek mercusuar tersebut terancam gagal karena masih banyak birokrat dan elite politik yang bermental korup.

Demikian disampaikan Direktur Indonesian Club, Gigih Guntoro, dalam diksusi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (24/8).

"Perubahan kualitas layanan masih bersifat mencari keuntungan proyek. Publik masih sering melihat pendingin kereta tidak berfungsi, toilet kotor, kursi tunggu tidak layak, perlintasan kereta tidak memadai, kereta anjlok, sinyal rusak hingga terganggunya jadwal," kata Gigih.


Kehadiran negara dengan terbitnya UU 23/2007 tentang Perkeretaapian dan Permenhub 156/2015 tentang Pedoman Pedoman Perhitungan Biaya Perawatan dan Pengoperasian Prasarana Perkeretaapian Milik Negara merupakan bentuk nyata pelayanan publik yang prima.

Atas dasar produk hukum tersebut, maka moda transportasi kereta api mendapat skema mengelola anggaran Publik Services Obligation (PSO) bidang angkutan kereta api pelayanan kelas ekonomi, biaya perawatan dan pengoperasian prasarana kereta api/infrastructure, maintenance and operation (IMO) dan biaya penggunaan prasarana perkeretaapian/track access charge (TAC) yang dilakukan per tahun dengan besaran terus mengalami peningkatan. Skema ini telah berlangsung hampir 5 tahun lebih.

"Kehadiran negara yang paripurna melalui PSO dan IMO, mengapa layanan publik kereta api terkesan ala kadarnya dan cenderung bersifat proyekisme?" kritik Gigih

Gigih membeberkan meskipun sudah berlangsung lima tahun lebih tidak terdapat monitoring secara independen atas penyelenggaraan sarana dan prasarana kereta api.

Menurutnya, penyelenggaraan kewajiban pelayanan umum (PSO) untuk kereta ekonomi pada tahun 2015 mengalami kenaikan 24,45 persen menjadi Rp 1,52 triliun dari Rp 1,22 triliun pada tahun 2014. Namun disisi lain, PT KAI masih bersikukuh untuk terus menaikan harga tiket.

"Seharusnya jika alokasi anggaran PSO terus meningkat, tentu harga tiket masih tetap atau bahkan lebih murah. Ini tidak transparan, kami duga ada penyelwengan anggaran," kata Gigih.

Sementara skema perawatan (IMO) pada tahun 2015 yang bernilai Rp 1,7 triliun di dalam prakteknya, publik masih sering melihat layanan prasarana publik belum memadai dan tidak berkualitas. Tragisnya menurut audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada tahun 2015 menemukan kerugian negara dalam skema IMO mencapai Rp 110 miliar lebih.

Berdasarkan temuannya, Gigih membeberkan skema dana PSO dan IMO di PT KAI saat ini justru terkesan menjadi modus bancakan bagi pejabat di Kementrian Perhubungan (jajaran dirjen Perkeretapaian dan PT KAI) dan elite politik untuk mengeruk uang negara.

"KPK harus melakukan audit investigasi secara menyeluruh dana PSO dan IMO dikelola Kementerian Perhubungan (Dirjen Perkeretapian) dan PT KAI. Hal ini penting dilakukan supaya ada transparansi pengelolaan anggaran. Aparat harus hukum bergerak cepat melakukan penyelamatan pembangunan infrastruktur dan pencapaian tujuan pembangunan nasional," demikian Gigih. [zul]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Gus Ipul Cek Perkembangan Siswa Sekolah Rakyat Menengah Pertama Manado

Jumat, 12 Juni 2026 | 00:14

Pegawai Imigrasi Jaksel Tingkatkan Kemampuan Jurnalistik dan Kehumasan

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:46

Pengawasan MBG Harus Diperkuat Usai Dadan Dkk Dicokok Kejagung

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:28

Pemerintah Sepakati Kerangka RAPBN 2027, Pertumbuhan Ekonomi Dibidik 6,5 Persen

Kamis, 11 Juni 2026 | 23:02

Piala AFF U-19: Drama VAR Kubur Impian Garuda Muda ke Final

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:56

Mahasiswa Jabar Turun ke Jalan Suarakan RUU Polri dan BBM

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:24

PLN Berhasil Operasikan Tower Emergency, Sistem Kelistrikan Sumut Kembali Normal

Kamis, 11 Juni 2026 | 22:14

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tetap, Pertamax Naik Ikuti Harga Pasar

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

Target Pendapatan Dipatok Naik, DPR Restui Minuman Manis Kena Cukai

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:36

PLN Pulihkan Sistem Kelistrikan Sumatera Utara 72 Jam Lebih Cepat

Kamis, 11 Juni 2026 | 21:02

Selengkapnya