Berita

Net

Bisnis

Persaingan Global, Cak Imin Punya Lima Strategi Tingkatkan Daya Saing

KAMIS, 25 AGUSTUS 2016 | 20:40 WIB | LAPORAN:

Kunci kesuksesan dalam kontestasi global sebuah negara terletak pada daya saingnya. Negara yang tidak berdaya saing niscaya akan terlempar dari sejarah dan hanya akan menjadi penonton.

Demikian disampaikan Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar saat menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa baru Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, Kamis (25/8).

Menurutnya, negara dengan daya saing rendah tidak hanya akan mengalami defisit neraca perdagangan baik barang maupun jasa, namun struktur perekonomiannya juga terancam mengalami kehancuran. Padahal, saat ini era persaingan bebas sudah berjalan melalui berbagai kesepakatan dan perjanjian-perjanjian internasional. Ditambah lagi, kesepakatan antar negara-negara anggota Asean di bidang ekonomi atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah diberlakukan sejak 31 Desember 2015.
 

 
"Pasar bebas ini merupakan konsekuensi dari arus globalisasi yang telah dan tengah berlangsung," kata Cak Imin, begitu dia disapa, dalam keterangannya. 

Cak Imin menjelaskan, Indonesia dengan total populasi penduduk terbesar ke empat di dunia sudah semestinya menjadi negara yang diperhitungkan dalam dinamika global. Bahkan dapat menjadi salah satu poros ekonomi dunia. Namun, kesiapan daya saing Indonesia masih perlu ditingkatkan untuk memegang peran tersebut.

"Jika melihat beberapa data yang dikeluarkan lembaga internasional, dapat dilihat bahwa peningkatan posisi daya saing Indonesia jauh dari harapan," bebernya.

Cak Imin mengutip data World Economy Forum (WEF) 2015-2016 menyebut daya saing Indonesia berada di peringkat 37 dari 140 negara yang disurvei. Capaian tersebut cukup baik mengingat posisi Indonesia masih berada di atas beberapa negara berkembang lain seperti Brazil, Turki, dan Afrika Selatan bahkan beberapa negara Eropa seperti Italia, Portugal dan Rusia. Akan tetapi, di lingkup regional Asean, Indonesia belum bisa menjadi raja karena masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.

"Pada konteks MEA, percepatan peningkatan daya saing penting sebagai fokus kerja bersama pemerintah dan masyarakat," tutur mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi tersebut.

Cak Imin melihat upaya pemerintahan Joko Widodo dalam meningkatkan daya saing dari pembangunan infrastruktur hingga peningkatan sumber daya manusia. Tetapi, upaya tersebut belum berhasil mendongkrak pertumbuhan ekonomi, stabilitas nilai tukar rupiah, pengurangan angka kemiskinan dan penggangguran. Justru, di sisi lain, defisit anggaran meningkat yang berdampak meningkatnya utang luar negeri. Sementara daya saing produk-produk domestik masih kalah dibandingkan negara-negara lain.

"Itu menunjukkan bahwa fondasi ekonomi dan daya saing bangsa ini masih jauh dari harapan," paparnya.

Menurut Cak Imin, saat ini Indonesia berada dalam arena persaingan global yang menantang dan tidak mudah. Kondisi ini harus menjadi cambuk untuk membawa Indonesia menaklukkan tantangan itu.

"Lalu menjadi pemenang dan bukan pecundang dalam persaingan global yang ketat dan kerapkali jahat itu," katanya.

Dia menambahkan, Indonesia mampu menjadi pemenang dengan modal sumber daya manusia dan kekayaan alam yang melimpah. Selain juga menerapkan lima strategi memenangkan persaingan global. Yakni segera membangun industri hilir baik di bidang pangan maupun SDA, peningkatan kreativitas generasi muda, negara memegang kendali atas sumber-sumber pangan dan sumber air sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri. Selain itu, membangun pertanian, perikanan dari hulu hingga hilir sebagai basis kekuatan, serta menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam setiap sendi kehidupan untuk menangkal pengaruh negatif globalisasi.

"Pancasila adalah benteng negara dalam menghadapi gempuran negatif globalisasi," tegas Cak Imin. [wah] 

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya