Berita

Retno Lestari Priansari Marsudi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Retno Lestari Priansari Marsudi: Kita Dapat Info, Kasus Haji Ilegal Ini Bukan Yang Pertama Kali Terjadi

RABU, 24 AGUSTUS 2016 | 08:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menteri Retno Marsudi lang­sung mengutus tim khusus be­gitu mendengar kabar ada 177 jemaah calon haji Indonesia di­tahan petugas imigrasi Filipina, lantaran berhaji menggunakan paspor Filipina. Menteri Retno mengungkapkan, kasus seperti ini bukanlah kali pertama terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun dari polisi dan Kementerian Agama, agen travel yang mem­berangkatkan calon haji via Filipina adalah Aulad Amin Tours, KBIH Arafah Pandaan, Shafwah, PT Taskiah, PTAulad Amin, Hade El Barde Jakarta Utara, dan KBIH Arafah.

Menurut Retno para jemaah calon haji adalah korban, bukan pelaku tindak kejahatan pelintas negara. Lalu apa saja langkah yang sudah diambil untuk me­lindung mereka, dan langkah hukum apa yang bakal diambil pemerintah untuk menjerat agen travel haji nakal itu, berikut pen­jelasan Menteri Retno;

Bagaimana nasib 177 jemaah calon haji yang kini terjaring petugas imigrasi Filipina?
Sampai saat ini ada di imigrasi Manila. Kita melakukan kor­dinasi erat dengan Menkumham (Menteri Hukum dan HAM), Menteri Agama dan dengan Kapolri untuk penanganan 177 WNI.

Sampai saat ini ada di imigrasi Manila. Kita melakukan kor­dinasi erat dengan Menkumham (Menteri Hukum dan HAM), Menteri Agama dan dengan Kapolri untuk penanganan 177 WNI.

Apakah pemerintah Filipina menetapkan mereka sebagai pelaku tindak kejahatan?
Saudara-saudara kita ini ada­lah korban dari kejahatan yang terorganisir.

Kenapa dikategorikan kor­ban?
Karena dari pembicaraan Pak Dubes yang sudah bertemu den­gan mereka dua hari lalu, kita dapat info (kasus) ini bukanlah yang pertama kali terjadi.

Lantas apa langkah hukum yang akan diambil pemerin­tah?
Oleh karena itu penanganan tindakan melawan hukum tentu­nya sudah ada yang menangani. Tetapi yang perlu kita utamakan saat ini adalah memberikan per­lindungan maksimal kepada 177 WNI kita yang menjadi korban.

Apakah ke 177 WNI itu sudah diverifikasi?
Kita sudah beberapa hari melakukan verifikasi, yang di­lakukan oleh imgrasi di Manila, yang didampingi oleh KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dan untuk membantu KBRI karena SDM (Sumber Daya Manusia) di KBRI terbatas untuk menangani kasus yang banyak sekali.

Apa saja langkah yang su­dah diambil Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk melindungi mereka?
Kemenlu kemarin sudah menurunkan tenaga tambahan ke Manila untuk membantu sau­dara-saudara kita tersebut, dan selama ini KBRI Manila juga terus memberikan bantuan yang sifatnya logistik kepada saudara-saudara kita tersebut.

Apa hasilnya?
Dari 177 WNI, 144 diantaran­ya sudah kita cocokan dengan data SIMKIM. SIMKIM adalah sistem informasi manajemen keimigrasian. Jadi dari 177, 144 sudah cocok dengan data yang ada di SIMKIM, dan untuk yang lain sedang terus diverifikasi. Pendalaman masih terus dilaku­kan, akses dibuka oleh pemer­intah dan otoritas Filipina. Jadi kita sudah bertemu dari waktu ke waktu,bantuan logistik dari KBRI terus mengirim.

Bagaimana koordinasi yang dilakukan sejauh ini dengan Pemerintah Filipina?
Kemarin saya melakukan komunikasi dengan kementerian luar negeri Filipina.

Dengan Menlunya?
Tadinya saya ingin berbicara dengan Menlu Filipina, tetapi dia sedang ada kegiatan, jadi ketemu dengan under secretary dan menyampaikan mengenai permintaan Indonesia untuk memberikan perhatian khusus pada kasus ini. Dan saya te­kankan bahwa 177 ini adalah korban. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya