Berita

Foto/Net

Bisnis

Cemas Nasabah Dicaplok Bank Gurem, Bank Mandiri Ogah Pangkas Special Rate

SABTU, 20 AGUSTUS 2016 | 09:04 WIB

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan era suku bunga rendah masih akan ber­lanjut hingga akhir 2016. Tren penurunan suku bunga tetap ada kendati cenderung tipis.

Hal tersebut dikatakan Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho. Ia mengatakan, outlook tren penu­runan bunga simpanan hingga akhir 2016 tidak akan setajam di tujuh bulan pertama tahun ini. Sebab, makin terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter, serta pertumbuhan kredit yang mulai membaik.

"Selain itu, keberadaan SBN (Surat Berharga Negara) ritel yang makin berlimpah di pasar menjadi kompetitor langsung bagi dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Sehingga berpotensi menahan penurunan suku bunga simpanan lebih dalam," terang­nya di Jakarta, kemarin.


LPS mencatat rata-rata suku bunga deposito acuan bank tu­run lagi sebesar 8 basis points (bps) menjadi 6,41 persen per 4 Agustus 2016 dibandingkan posisi akhir Juni 2016 senilai 6,49 persen.

Laporan indikator likuiditas oleh LPS yang terbit bulan ini mencatat, penurunan bunga de­posito terjadi pada batas atas dan batas bawah. Misalnya, rata-rata bunga maksimum turun 18 bps menjadi 7,29 persen, serta bunga minimum yang turun 3 bps ke level 5,48 persen.

Sementara, sambung Samsu, penurunan suku bunga pasar yang terjadi sejak Februari 2016 terlihat lebih tajam. Penurunan suku bunga deposito tersebut didorong perlambatan pertum­buhan ekonomi dan penurunan BI rate hingga empat kali di semester I-2016.

Senada, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menuturkan, tanpa menyebutkan angka, ada ruang bagi LPS untuk memangkas bunga penjaminan karena bank mulai menurunkan bunga. Karena level LPS rate tidak akan naik, sehingga tentu bunga penjaminan akan menurun.

LPS juga mencatat arah suku bunga deposito perbankan berada di bawah tingkat suku bunga LPS. Tercermin dari semakin sedikit bank yang menawarkan bunga di atas bunga penjaminan yaitu 6,75 persen untuk rupiah dan 0,75 persen untuk valuta asing (valas). "Sebenarnya masih ada bank yang memberikan bunga deposito di atas LPS rate, tapi jumlahnya sedikit," ucap Halim.

Bankir mengamini sinyal penurunan suku bunga yang diberikan BI dan LPS. Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Haru Koesmahargyo mengakui, pihaknya berencana menurunkan suku bunga deposito sebesar 25 bps. Saat ini bunga de­posito BRI sebesar 7 persen.

"Pasti kami turunkan, tapi ada deposito yang belum jatuh tempo. Rata-rata deposito yang dimiliki kami jatuh tempo dalam dua bulan hingga tiga bulan," ka­tanya kepada Rakyat Merdeka.

Tak jauh berbeda, Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Kartika Wirjoatmodjo men­gatakan, Mandiri juga akan menyesuaikan bunga deposito. Cuma untuk suku bunga depos­ito special rate akan sulit turun karena persaingan dana-dana besar cukup ketat.

Kata Tiko, bank besar harus bersaing dengan bank kecil salam menghimpun dana. Di mana bank kecil masih mematok bunga de­posito spesial di level 8-9 persen. "Untuk bunga deposito spesial rate kami masih di kisaran 7,25 persen," imbuhnya.

Namun Tiko memastikan, pihaknya akan mengikuti ke­tentuan maksimal bunga pen­jaminan untuk deposito dengan nominal di bawah Rp 2 miliar. "Yang tidak dijamin LPS, akan mengikuti maksimal capping bunga dari OJK," tuturnya.

Sementara Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melihat, bank sebe­narnya masih memiliki ruang untuk kembali memangkas suku bunga deposito. Pasalnya, sejak kemarin BI telah menggunakan acuan BI 7 days reverse repo rate, di mana acuan bunga ini lebih rendah dari BI rate.

"Nah, bunga deposito bank akan turun seiring pelaksanaan suku bunga acuan BI seven days. (Penurunan) suku bunga deposito dan bunga kredit masih terbuka sangat lebar terutama bunga kredit. Paling tidak tren penurunan bunga deposito akan sama dengan penurunan bun­ga deposito sepanjang Januari hingga Juni 2016 sebesar 80 bps pasca BI rate turun 100 bps," tutup Perry. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Fakta Sidang Blueray Cargo: Kode BC1 Mengarah ke Djaka Budi Utama

Senin, 15 Juni 2026 | 18:15

Anak Buah Bahlil Irit Bicara Usai 7 Jam Diperiksa KPK

Senin, 15 Juni 2026 | 18:08

KPU Patok Anggaran Rp4,6 Triliun di Tahapan Awal Pemilu 2029

Senin, 15 Juni 2026 | 17:59

IHSG-Rupiah Menguat Sore Ini Usai AS-Iran Sepakat Damai

Senin, 15 Juni 2026 | 17:47

Demo Mahasiswa Ucapkan Selamat Atas Kegagalan Prabowo-Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 17:46

Wapres Gibran Terima Perwakilan Mahasiswa di Tengah Unjuk Rasa

Senin, 15 Juni 2026 | 17:23

Sifra Kejar Cita-cita di Sekolah Rakyat Demi Bantu Orang Tua Disabilitas

Senin, 15 Juni 2026 | 17:19

Demi Kepercayaan Masyarakat, Mahasiswa UBK Desak MBG Dihentikan

Senin, 15 Juni 2026 | 17:06

Komisi II DPR: KPU dan Bawaslu akan Tetap Eksis di 2027

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

DPR Minta Kejagung Tingkatkan Anggaran Perkara untuk Kejati dan Kejari

Senin, 15 Juni 2026 | 16:47

Selengkapnya