Berita

Retno Lestari Priansari Marsudi/Net

Wawancara

WAWANCARA

Retno Lestari Priansari Marsudi: Kerap Ditanyai Otoritas Turki, Mahasiswa Indonesia Merasa Tidak Nyaman...

SABTU, 20 AGUSTUS 2016 | 08:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Menanggapi penahanan tersebut, Menteri Luar Negeri RetnoLestari Priansari Marsudi menjelaskan, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) telah memanggil Duta Besar Turki untuk Indonesia un­tuk meminta penjelasan. "Dirjen Amerop (Amerika-Eropa) kita su­dah memanggil Duta Besar Turki yang ada di Jakarta. Kami me­nyampaikan konsen bahwa ada beberapa mahasiswa Indonesia yang ditanya dan sebagainya yang menimbulkan ketidaknya­manan," kata Retno saat dijumpai di gedung DPR, Jakarta.

Handika ditangkap pada 3 Juni 2016 lalu usai kudeta gagal terhadap Presiden Turki Reccep Tayep Erdogan. Lalu, apa tindak lanjut pemerintah Indonesia terkait penahanan tersebut, beri­kut penjelasan bekas Duta Besar RI untuk Belanda ini;

Hingga saat ini bagaimana penanganan hukum terhadap mahasiswa Indonesia yang ditahan otoritas Turki karena diduga terkait Gulen?
Jadi perlindungan kita sudah ada suatu SOP yang sudah san­gat jelas setiap kali ada masalah dengan warga negara kita. Kita selalu melakukan beberapa step yang harus dilakukan.

Jadi perlindungan kita sudah ada suatu SOP yang sudah san­gat jelas setiap kali ada masalah dengan warga negara kita. Kita selalu melakukan beberapa step yang harus dilakukan.

Apa langkah awalnya?
Jadi saya telah menginstruk­sikan, dan Dirjen Amerop kita sudah memanggil Duta Besar Turki yang ada di Jakarta.

Apa saja yang disampaikan pada Dubes Turki?
Kami menyampaikan konsen bahwa ada beberapa mahasiswa Indonesia yang ditanya dan sebagainya yang menimbulkan ketidaknyamanan. Kami te­lah meminta Pemerintah Turki melindungi semua mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di negara mereka.

Lantas apa tindak lanjut dari pemerintah usai pemang­gilan Dubes Turki?
Saya telah menginstruksikan dubes Indonesia yang berada di Turki untuk melakukan komu­nikasi langsung dengan pemer­intahan Turki.

Apa hasilnya?
Jadi faktor atau elemen per­lindungan kita tentu jalan dan kita kirim melalui Dubes Turki yang ada di Jakarta. Sejauh ini pihak Turki telah memberikan respons yang baik atas permintaan pemerintah Indonesia.

Oh ya, dalam pidato kenegaraan yang lalu, Presiden Jokowi membahas tentang Laut China Selatan. Hingga saat ini bagaimana posisi Indonesia dalam konflik tersebut?

Saya ingin menegaskan bahwa Indonesia ingin menjaga perda­maian dan stabilitas terkait seng­keta Laut China Selatan. Indonesia sudah berkali-kali menyatakan tidak menginginkan konflik ter­jadi di kawasan tersebut.

Maksudnya...
Kalau yang terkait dengan Laut China Selatan, sebagaimana yang sudah berkali-kali Presiden katakan bahwa pesan utama Indonesia ada­lah untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan.

Apa saja upaya yang dilaku­kan Indonesia untuk mengu­rangi ketegangan di sana?
Indonesia selalu berusaha untuk mengurangi ketegangan konflik adu kekuatan negara-negara di wilayah tersebut. Indonesia juga tidak menginginkan Laut China Selatan sebagai lokasi proyeksi kekuatan negara-negara besar. Dan saya kira sudah jelas, pesan serupa juga dalam pidato kenega­raan Presiden.

Terkait kunjungan Dirjen ASEAN ke China, apakahjuga membicarakan mengenai Laut Cina Selatan?

Dirjen ke sana kan untuk pertemuan ASEAN dengan Tiongkok. Ada yang dibahas, yaitu dua dokumen akhir.

Apa saja?
Pertama draf joint statement on the code of unplanned encounter atthe sea. Dan kedua hotline communication. Ini isu yang sudah dibahas sejak lama. Yang dibahas yakni bagaimana menyiapkan satu hotline kalau terjadi sesuatu di laut dan sebagainya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya