Berita

Jenderal (Purn) Wiranto/Net

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal (Purn) Wiranto: Usaha Terus Dilakukan, Kita Awasi Sandera Dengan Cara-cara Khusus

SELASA, 16 AGUSTUS 2016 | 09:14 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kemarin, 15 Agustus adalah batas waktu terakhir yang diberikan kelompok bersenjata Filipina, Abu Sayyaf un­tuk menyerahkan uang tebusan Rp 60 miliar. Tapi hingga kemarin pula, upaya pembebasan terhadap tujuh anak buah kapal tunda Charles 001 yang disandera sejak 20 Juni itu masih belum jelas.

Pasalnya, hingga detik-detik terakhir deadline yang ditentukan penyandera, belum terlihat upaya konkret dan signifikan yang dilakukan pe­merintah. Ketika ditanyakan, Menko Polhukam Wiranto pun hanya menjawab normatif saja. Keluarga korban bahkan merasa bantuan pemerintah saat ini hanya setengah hati.

"Kan kita sudah sampaikan bahwa sekarang ini usaha-usaha terus dilakukan," ujarnya ketika ditemui Rakyat Merdeka di kantornya.


Wiranto yang ketika itu ten­gah bergegas menuju Istana Negara menemui Presiden Joko Widodo, terlihat lebih banyak menanggapi persoalan Arcandra Tahar. Menteri ESDM itu tengah dihebohkan dengan dwi kewar­ganegaraan yang belakangan bocor ke publik. Arcandra yang mengaku orang Padang asli dikabarkan telah mengantongi paspor Amerika Serikat melalui proses naturalisasi pada Maret 2012. Dia sudah mengucapkan sumpah setia kepada Amerika Serikat. Tadi malam, Arcandra dicopot dari jabatannya sebagai Menteri ESDM.

Berikut penjelasan seleng­kapnya;


Nasib tujuh WNI yang dis­andera oleh pihak Abu Sayyaf, bagaimana sekarang?
Masalah sandera, kan kita sudah sampaikan bahwa seka­rang ini usaha-usaha terus di­lakukan.

Usaha-usaha apa yang di­lakukan?
Baik usaha diplomasi, ker­jasama untuk melakukan suatu langkah-langkah yang lebih tepat mendorong pemerintah Filipina supaya melakukan lang­kah-langkah yang lebih tepat dalam rangka menyelesaikan penculikan kasus itu.

Cuma itu saja?
Tetapi dengan cara-cara lain tetap dilakukan. Ya untuk ba­gaimana intinya adalah bagaima­na penyelamatan teman-teman kita yang sedang disandera itu. Jadi keselamatan sandera itu tetap menjadi suatu acuan utama dan sekarang sedang dilakukan pendekatan itu.

Tapi kan deadline-nya hari ini?
Yang penting adalah bahwa kita selalu mengikuti perkem­bangan teman-teman yang ter­sandera itu dengan cara-cara khusus ya, kerjasama intelijen.

Oh ya, soal dwikewarganegaraan Menteri ESDM Arcandra Tahar yang belakangan bocor ke publik?
Pemerintah menyadari betul apa yang berkembang di masyarakat, terjadi satu dis­kursus, penilaian, pendapat para pakar-pakar paham itu mengenai keberadaan menteri ESDM ya.

Lalu?
Nah justru karena pemahaman itulah maka tentu pemerintah akan sangat berhati-hati untuk melakukan suatu penjelasan ke publik.

Apa sikap resmi pemerintah soal dwi-kewarganegaraan itu?
Saat ini saya mendapatkan informasi, kita masih perlu men­dalami masalah itu. Pemerintah masih terus mendalami masalah itu, karena ini masalah yang cukup penting dalam rangka ki­nerja kabinet kerja pemerintahan Jokowi-JK.

Sampai kapan?
Oleh karena itu diharapkan masyarakat bersabar. Masyarakat menyerahkan sepenuhnya ke­pada pendalaman oleh pemer­intah. Pada waktunya pasti akan dijelaskan secara menyeluruh hal-hal yang menyangkut men­teri ESDM itu.

Pendalaman apa lagi?
Pendalaman itu ya dipela­jari dari berbagai aspek, dari berbagai segi. Sehingga pen­jelasan ke masyarakat nanti cukup komprehensif ya, nggak sepotong-sepotong. Sekarang ini kan penjelasannya sepotong-sepotong.

Nanti dijelaskan secara me­nyeluruh supaya masalah ini segera clear, selesai dan kabinet kerja bisa bekerja lebih tenang dalam rangka memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Nah ini baru pendalaman oleh pemerin­tah. Nanti kalau sudah selesai pasti dijelaskan. Suatu saat pen­jelasan ini penting. ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya