Berita

Asrorun Ni'am Sholeh/Net

Wawancara

WAWANCARA

Asrorun Ni'am Sholeh: Pendidikan Proses Membuat Beradab Dan Berbudaya, Kekerasan Cermin Kebiadaban

MINGGU, 14 AGUSTUS 2016 | 08:18 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kasus kekerasan di sekolah kembali terjadi. Di Makassar, Sulawesi Selatan, seorang guru SMK Negeri 2 Makassar, dianiaya orangtua siswa. Penyebabnya, anaknya men­gadu telah ditampar oleh gurunya karena tidak menger­jakan pekerjaan rumah.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Asrorun Ni'am Sholeh menyayangkan terjadinya peristiwa tersebut. "Harusnya kalau ada anak yang nggak mengerjakan PR kemudi­an dia ngadu ke orangtua, orang tua bukan memarahi guru, tapi seharusnya menasihati anak," kata Ni'am kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Lantas, apa penyebab peristiwa kekerasan di sekolah selalu berulang, berikut penjelasan Ni'am.

Kasus kekerasan di seko­lah kembali terjadi, apa pe­nyebabnya?
Peristiwa itu terjadi karena tidak ada integrasi antara orang­tua siswa itu sebagai penanggung jawab pendidikan di keluarga, dengan guru sebagai penang­gung jawab pendidikan di seko­lah. Alih-alih saling mendukung justru saling menegasikan dan saling bertabrakan. Tentu ini bermasalah dari sisi konsep dan nggak pas juga.

Peristiwa itu terjadi karena tidak ada integrasi antara orang­tua siswa itu sebagai penanggung jawab pendidikan di keluarga, dengan guru sebagai penang­gung jawab pendidikan di seko­lah. Alih-alih saling mendukung justru saling menegasikan dan saling bertabrakan. Tentu ini bermasalah dari sisi konsep dan nggak pas juga.

Lantas bagaimana sehar­usnya sikap orangtua yang sudah menitipkan anaknya di sekolah?
Harusnya kalau ada anak yang nggak mengerjakan PR kemudi­an dia ngadu ke orangtua, orang tua bukan memarahi guru, tapi menasihati anak.

Tapi guru kan tidak perlu pakai kekerasan juga kepada siswanya?
Nah di situ-lah pentingnya keterkaitan antara orangtua sebagai pendidik dan pengasuh anak di rumah, dengan guru sebagai pendidik dan pengasuh di lingkungan sekolah saling mendukung. Kasus ini menjadi bahan evaluasi dan menunjuk­kan pentingnya pusat-pusat pendidikan untuk membentuk karakter siswa, dengan dukun­gan dari keluarga.

Bagaimana cara memben­tuk karakter tersebut?
Untuk membentuk karakter anak bermoral yang dibutuhkan adalah pendidikan, terutama pendidikan karakter. Sembari proses perbaikan di lingkungan sekolahnya dengan seluruh sum­ber daya yang ada juga, jangan lupa kita melakukan penguatan di level keluarga karena di dalam sistem pendidikan kita dikenal tiga pusat pendidikan, yaitu ke­luarga, sekolah, masyarakat.

Terkait pernyataan Mendikbud yang sepertinya mentoler­ir sanksi fisik dari guru untuk menertibkan siswa, tanggapan Anda?
KPAI juga sudah mengklari­fikasi soal pernyataan tersebut, karena memang mengesankan adanya toleransi terhadap sanksi fisik dalam pendidikan. Kami menegaskan bahwa, pendidikan adalah proses untuk membuat orang beradab dan berbudaya. Sedangkan kekerasan cermin kebiadaban dalam menyelesai­kan masalah. Untuk itu tidak ada ruang kekerasan dalam pendidikan.

Oh ya, soal rencana penera­pan full day school, bagaimana hasil pertemuan Anda dengan Mendikbud?
Mendikbud menjelaskan wa­cana tentang full day school yang dikaitkan dengan pengua­tan pembangunan budi pekerti dan karakter.

Tanggapan Anda?
KPAI menyampaikan pandan­gannya terkait isu-isu yang lebih prioritas.

Apa itu?
Terkait keberagaman kon­disi. Kesiapan infrastruktur dan kasus-kasus pendidikan yang harus diantisipasi. Dan Mendikbud menyampaikan bahwa konsepnya sudah ada tapi masih mentah. Mendikbud meminta masukan KPAI.

Seberapa penting penera­pan full day school bagi anak sekolah?
KPAI menyampaikan penting­nya penguatan perspektif perlind­ungan anak dalam penyusunan kebijakan nasional pendidikan. Lalu, KPAI juga menyampaikan pentingnya penguatan pendidi­kan keluarga. Undang-Undang Sisdiknas mengamanahkan pen­didikan pada tiga sektor; formal, nonformal dan informal. Untuk itu, keinginan pembangunan karakter harus ditopang den­gan penguatan tiga aspek ini. Pendidikan di level keluarga juga menduduki kedudukan yang sangat penting. Bukan sekedar di sekolah. Apalagi hanya men­gandalkan dan bertumpu pada sekolah semata. Di sinilah pent­ingnya pembangunan ketahanan keluarga. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Ramos-Horta Puji Toleransi dan Ketangguhan Rakyat Indonesia

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:17

Polisi Konfirmasi Korban Tewas saat Demo DPR Seorang Pedagang Cermin

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:10

Aturan Turunan UU DKJ Harus Rampung Sebelum Keppres IKN Terbit

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:09

Astra Sudah Jangkau 35.726 Warga Lewat 7 Posko Gempa NTT

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:04

Penanganan Karhutla di Riau Jadi Contoh yang Baik

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:01

Budi Arie Pasang Badan Cuci Nama Jokowi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 22:00

Peluncuran Wajah Baru RS Tria Dipa, Hadirkan Teknologi Medis Teranyar

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:57

BI: Daripada Kredit, Mayoritas Bank Parkir Likuiditas di Surat Berharga

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

LPJ Diterima, Gus Yahya Akui Tak Sempurna Pimpin PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:51

Pengusutan Dugaan Korupsi di Pemkab Bogor Merembet ke Dinas Pendidikan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:50

Selengkapnya