Berita

Foto/Net

Bisnis

Kementerian BUMN Pastikan PLN Cuma Suntik Modal Ke PGE

PGE Tetap Di Bawah Pertamina
MINGGU, 14 AGUSTUS 2016 | 08:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pari­wisata Kementerian BUMN Edwin Hidayat Abdullah men­gatakan, pemerintah saat ini sedang melakukan percepatan proyek pengelolaan panas bumi mencapai agar mampu mem­bangkitkan listrik hingga 7 ribu Megawatt (MW) pada 2025. PGE sendiri ditargetkan meng­hasilkan listrik 2.700 MW di rentang tahun 2020-2030.

Untuk itu, pemerintah beren­cana menjadikan PGE sebagai holding perusahaan geotermal, dimana PLN akan menjadi pena­nam modal di holding tersebut.

"Tidak ada akuisisi, PLN hanya akan inject (menyuntik) modal ke PGE. Jadi bukan PLN mencaplok, kalau mencaplok ini (geotermal) nggak berkembang. Justru ini kita ingin membesarkan potensi geot­ermal," kata Edwin di Jakarta.


Dilanjutkannya, Kementerian BUMN sudah melakukan dis­kusi dengan PLN terkait rencana tersebut. Kedepan, akan ada joint force antara kedua perusahaan ini agar PGE menjadi holding dari perusahaan geotermal milik bumn yang sekarang masih terpi­sah antara milik PLN dan PGE.

"Selama ini, keuangan PGE disupport Pertamina, mereka sudah mendanai PGE hingga 1,2 miliar dolar Amerika. Dengan masuknya PLN, diharapkan PGE akan lebih kuat, karena saat ini Pertamina punya penugasan lain yang cukup besar dari pe­merintah, seperti merevitalisasi sejumlah kilang-kilang yang juga membutuhkan kapitalisasi luar biasa," lanjut Edwin.

Meski PLN masuk ke PGE, kata Edwin, nantinya PGE tetap dibawah Pertamina, tapi untuk pengelolaan geotermalnya PLN ikut ambil bagian. "Jadi dibuatlah satu entity yang solid supaya geotermalnya BUMN bisa berkembang dan bisnisnya semakin kuat," tegasnya.

Analis Ketahanan Energi dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Dirgo D Purbo men­gatakan, Pertamina yang akan menjadi perusahaan induk (hold­ing) BUMN di sektor energi, dini­lai lebih ideal untuk mengelola PT PLN (Persero), dibandingkan PLN mengelola PGE.

"Karena, selama ini untuk urusan energi listrik, Pertamina yang memasok bahan bakar minyak dan panas bumi ke PLN. Cost-nya tentu akan jadi lebih murah jika PLN jadi anak usaha Pertamina," ujar Dirgo.

Menurutnya, mekanime hold­ing lebih tepat dibandingkan mengalihkan PGE ke PLN. Apalagi PGE merupakan peru­sahaan yang bergerak sebagai pengelola energi panas bumi, sedangkan PLN merupakan pe­rusahaan distribusi dan transmisi listrik. "Seharusnya masing-masing fokus saja dalam dua bi­dang usaha tersebut," tukasnya.

Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Gerindra Harry Poernomo menambahkan, lebih ideal kalau pemerintah membentuk holding BUMN energi yang didalamnya, tidak hanya berisi Pertamina dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk .

"Idealnya Pertamina, PGN, dan PLN sekaligus di dalam­nya, juga ada SKK Migas yang khusus untuk urusan kontraktor migas asing," kata dia.

Harry mengungkapkan tidak masalah kalau PGE akan disatu­kan dengan PLN sebagai pembeli tunggal uap panas bumi. Namun penyatuan tersebut menunjuk­kan tidak adanya kesatuan visi dan misi antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Min­eral (ESDM) dan Kementerian BUMN dalam mewujudkan ke­cukupan energi listrik murah dan ramah lingkungan.

Asosiasi Panas Bumi Indonesia (API) juga khawatir pengambila­lihan PGE oleh PLN berpotensi mematikan pengembangan panas bumi. Apalagi selama ini pengem­bangan panas bumi kerap kali ter­ganjal masalah harga jual listrik oleh PLN, sebagai satu-satunya pembeli listrik dari Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP).

Kita sudah susah payah mengembangkan panas bumi. "Kalau benar-benar terealasi, ini akan me­matikan itu semua," tegas Ketua API Abadi Purnomo. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Membaca Manuver Gibran Terima Mahasiswa Pendemo

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:23

Bamus Betawi Siapkan Program Strategis Menuju Lima Abad Jakarta

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:18

BEM Bersatu Ungkap Tiyo Ardianto Dekat dengan Jaringan PDIP dan Eks Timses Ganjar

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:08

Nasabah BRImo Bisa Beli Reksa Dana USD Batavia

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:04

BEM Bersatu: Mobil Tiyo Ardianto Diduga Milik Besan Andhika Perkasa

Rabu, 17 Juni 2026 | 00:01

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:30

Haikal Hassan Dianugerahi Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University Korsel

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:14

Rp35 Triliun Anggaran MBG Berubah Jadi Sampah

Selasa, 16 Juni 2026 | 23:00

Kemensos Genjot Sentra Terpadu jadi Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:57

Pola Kenaikan Tidak Biasa Kekayaan Menko Pangan Zulkifli Hasan

Selasa, 16 Juni 2026 | 22:43

Selengkapnya