Berita

Muhadjir Effendy/Net

Wawancara

WAWANCARA

Muhadjir Effendy: Mau 10 Ribu Atau 100 Ribu Yang Nolak Nggak Apa-apa, Karena Ini Baru Ide

KAMIS, 11 AGUSTUS 2016 | 09:45 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Belum lama dilantik, Menteri Pendidikan dan Kebu­dayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menggulirkan ide kontroversial untuk dunia pendidikan Indonesia. Peng­ganti Anies Baswedan itu mewacanakan sekolah sehari penuh atau full day school untuk siswa SD dan SMP.

Meski mendapat respons "han­gat", Muhadjir mengaku senang karena masyarakat mengkritisi gagasannya. Dia menegaskan, ide itu akan dikaji dan diuji. Tak akan diterapkan jika ditemukan banyak kelemahan.

"Ini kan masih sosialisasi, melontarkan gagasan. Kita ingin dapat masukan. Saya justru kalau ada orang yang baru diberi tahu langsung terima, malah curiga. Ini berarti tanda masyarakat kritis, masyarakat bagus. Saya juga senang kalau nanti ide itu diuji betul, sehingga nanti betul-betul matang," kata Muhadjir saat ditemui di Jakarta, Selasa malam lalu. Berikut penjelasan bekas Rektor Universitas Muhammadiyah Malang itu.


Gagasan Anda menerap­kan sistem full day school mendapat respons luar biasa. Tanggapan anda?
Ini kan masih sosialisasi, melontarkan gagasan. Kita ingin dapat masukan.

Tapi di masyarakat terlan­jur heboh…
Saya justru kalau ada orang yang baru diberi tahu langsung terima, malah curiga. Ini be­rarti tanda masyarakat kritis, masyarakat bagus. Saya juga senang kalau nanti ide itu diuji betul, sehingga nanti betul-betul matang.

Cerita sampai ide ini keluar bagaimana?

Apa yang saya sampaikan sudah dipraktikkan oleh banyak sekolah, khususnya sekolah swasta. Dan itu memang betul, dan justru saya banyak diilhami oleh banyaknya sekolah swasta yang menyelenggarakan full day school itu.

Apakah harus dengan full day?
Sebetulnya tidak otomatis namanya full day school. Saya ini pembantu presiden dan harus melaksanakan visi presiden. Dan visi presiden tertuang dalam Nawacita. Dalam Nawacita ada program pendidikan. Ide ini semata-mata untuk menyiapkan generasi muda Indonesia yang lebih bagus dan punya daya saingtinggi.

Dan cara menyiapkannya adalah dengan mewacanakan full day school ini?

Nanti kalau memang akhirnya ini belum juga bisa dilak­sanakan, saya akan mencari pendekatan yang lain. Saya tak berniat menimbulkan polemik di masyarakat atas adanya wacana penerapan full day school ini.

Kenapa gagasan anda ditu­jukan untuk SD dan SMP?
Porsinya pendidikan dasar itu, 80 persen pendidikan kara­kter dan 20 persen pendidikan pengetahuan. Nah waktu itu kita mencari cara bagaimana mengimplementasikannya. Kan dalam Nawacita ukuran pen­didikan dasar itu ada 18 butir. Mulai religius, karakter, kreatif, mandiri, cinta Tanah Air, dan seterusnya.

Karena 18 butir itu tidak mung­kin disisipkan dalam mata pelaja­ran, maka dari itu wacana penam­bahan jam sekolah muncul. Atas dasar itu saya perlu melihat, perlu adanya penambahan waktu baik di SD dan SMP dan itulah karena saya harus mengimplementasi­kan visi beliau.

Saat ini respon di masyarakat beragam. Ada yang mendu­kung dan banyak juga ke­beratan…

Nanti yang belum paham akan saya beri pemahaman. Setelah itu nanti kita akan olah respons masyarakat. Sebetulnya semua sudah siap. Dirjen-dirjen pun sudah siap. Ini masih panjang prosesnya. Nanti akan kita kem­balikan ke presiden.

Anda yakin gagasan ini su­dah cukup bagus…
Saya ingin sekali sekolah itu menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Jangan swalayan, mall, dan lainnya. Itu dasar dari penambahan jam tersebut. Tapi ini kan masih sebatas ide. Soal sekolah yang masih belum laik buat lama-lama belajar pun kami paham. Jadi inikan bisa diterap­kan secara bertahap.

Saat ini muncul petisi yang menolak gagasan Anda?
Jadi kalau saya sekarang ng­gak punya beban, mau 10 ribu (jumlah orang yang menolak di petisi), 100 ribu pun nggak apa-apa. Ini memang baru dilon­tarkan kok, baru ide. Tapi intinya begini, saya tidak mau berpan­jang-panjang. Ini baru ide.

Saya terima kasih atas respons masyarakat dan kami akan susun yang lebih menyeluruh yang lebih utuh. Nanti akan saya sam­paikan lagi ke masyarakat. Nanti biar ada uji. Kalau memang kira-kira dilanjutkan, mana yang akan kita sempurnakan, kita sempurnakan. Kalau tidak (jadi diterapkan-red), tidak apa-apa, nanti kita tarik. ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya