Berita

Rizal dan Risma/Net

Politik

PILKADA JAKARTA

PDIP Lebih Beresiko Dukung Risma Dan Yusril Ketimbang RR

SENIN, 08 AGUSTUS 2016 | 14:38 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Hingga saat ini baru satu pasangan yang nekat melawan calon petahana Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, yaitu Ichsanuddin Noorsy. Noorsy bersama Ahmad Daryoko kemarin resmi mendaftar diri ke KPU Jakarta sebagai calon gubernur dan wakil gubernur lewat jalur independen.

Banyak yang mengatakan, Noorsy bukanlah lawan berat Ahok. Mengingat ekonom itu belum memiliki popularitas yang cukup terutama di kalangan masyarakat bawah ibukota.

Lalu siapa lawan sepadan Ahok? Diyakini, calon yang bisa mengimbangi Ahok adalah usungan koalisi besar yang dimotori PDI Perjuangan.


Sementara koalisi besar termasuk PDIP hingga saat ini belum memunculkan nama untuk melawan Ahok yang sudah diusung Partai Nasdem, Partai Hanura, dan Partai Golkar.

Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan PDIP bisa melirik tiga nama yang bisa disandingkan dengan Sandi Uno yang sudah diusung Partai Gerindra dan PKS. Yaitu, Tri Rismaharini, Rizal Ramli dan Yusril Ihza Mahendra.

Jelas Pangi, tiga nama itu sepadan untuk melawan petahana.

Namun, lanjut dia, kalau dikalkulasikan dengan cermat, RR adalah calon yang tepat berkompetisi dengan Ahok, mengingat dia adalah antitesis Ahok. Apalagi RR saat ini bukan di pemerintahan dan bukan pula salah satu anggota partai politik.

Kalau mendukung Risma atau Yusril resiko politiknya lebih besar.

Misalnya, Risma, PDIP bisa kehilangan Jawa Timur dan Surabaya bahkan Jakarta. (Baca: Mega Pertimbangkan Kekalahan Ganda Jatim Dan Jakarta)

Sementara Yusril, mendukung Yusril sama saja PDIP membesarkan Partai Bulan Bintang (PBB), partai Yusril, yang sudah dua kali pemilu tidak lolos ke DPR.

"Mendukung Rizal Ramli tidak banyak resiko politik yang diambil PDIP dibandingkan mengusung Risma dan Yusril," demikian Pangi. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya