Berita

Foto/Net

Nusantara

232 Hotspot Terdeteksi, Tidak Ada Daerah Yang Tertutup Asap

SENIN, 08 AGUSTUS 2016 | 13:39 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Kondisi cuaca yang makin kering telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah titik panas alias hotspot di beberapa wilayah di Indonesia. Berdasarkan laporan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) disebutkan bahwa satelit Modis dengan sensor Terra dan Aqua mendeteksi 232 hotspot yaitu 159 hotspot pada tingkat kepercayaan sedang (30-79 persen) dan 73 hotspot tingkat kepercayaan tinggi (80-100 persen) pada Minggu sore (7/8).

Demikian disampain Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho kepada wartawan di Jakarta, Senin (8/8).

"Tingkat kepercayaan sedang artinya berdasarkan suhu yang terekam di daratan ada potensi wilayah tersebut terbakar, sedangkan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan bahwa wilayah tersebut sedang terbakar," kata Sutopo.


Sebaran dari 159 hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang terdapat di Bengkulu 5, Jambi 4, Jawa Barat 1, Kalimantan Barat 7, Kalimantan Tengah 2, Kepulauan Bangka Belitung 27, Lampung 2, Aceh 2, NTT 3, Riau 27, Sulawesi Tengah 1, Sumatera Barat 12, Sumatera Selatan 39, dan Sumatera Utara 27. Sedangkan sebaran 73 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdapat di Jambi 2, Kepulauan Bangka Belitung 10, Riau 18, Sulawesi Selatan 2, Sumatera Barat 5, Sumatera Selatan 14, dan Sumatera Utara 22.

"Patroli udara dan darat menunjukkan bahwa karhutla (kebakaran hutan dan lahan) terjadi di beberapa tempat dengan luas wilayah yang tidak terlalu besar. Karhuta terjadi di perkebunan, pekarangan, dan hutan di daerah yang seringkali aksesnya sulit dijangkau," ujar Sutopo.

Jumlah hotspot ini 232 sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 lalu. Selama 1-7 Agustus 2015 jumlah hotspot di Indonesia mencapai 14.451 titik, namun pada periode 1-7 Agustus 2016 hanya ada 491 titik. Bahkan pada Agustus 2015 jumlahnya mencapai 14.451 titik.

Jelas Sutopo, penurunan jumlah hotspot saat ini disebabkan upaya pencegahan dan pemadaman karhutla yang lebih baik dibandingkan tahun 2015. Upaya antisipasi dilakukan berbagai pihak dengan lebih baik. Selain itu faktor cuaca juga sangat berpengaruh. Adanya anomali cuaca dan pengaruh La Nina menyebabkan hujan banyak terjadi di wilayah Indonesia pada saat musim kemarau. Kondisi tersebut menyebabkan lahan tetap basah sehingga sulit terbakar. Sebaliknya pada tahun 2015 terjadi El Nino hebat sehingga curah hujan menurun dan cuaca sangat kering serta mudah terbakar.

Saat ini, lanjut Sutopo, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) masih tergolong sedang hingga baik. Tidak ada daerah yang tertutup asap dan memiliki ISPU tercemar. Aktivitas masyarakat dan penerbangan sipil berjalan normal.

Dia menambahkan, ancaman karhutla masih akan mengancam hingga Oktober mendatang. BNPB bersama TNI, Polri, KLHK, BPBD, SKPD, Damkar, relawan dan dunia usaha terus melakukan langkah-langkah antisipasi karhutla.

BNPB telah menambah satu helikopter water bombing di Riau sehingga di Riau terdapat 3 heli water bombing dan satu pesawat untuk hujan buatan. Di Sumatera Selatan juga digelar hujan buatan dan 2 heli water bombing. Operasi darat melibatkan ribuan personil secara terus menerus melakukan patroli, pemadaman dan sosialisasi.

"Jadi upaya penanganan karhutla pada tahun ini berjalan dengan baik," demikian Sutopo. [rus]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya