Berita

M Prasetyo/Net

Wawancara

WAWANCARA

M Prasetyo: Paling Tidak, Koordinator KontraS Itu Harus Punya Tanggung Jawab Moral Membuktikan

SENIN, 08 AGUSTUS 2016 | 09:46 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Jaksa Agung M Prasetyo membantah ada intervensi kepentingan elite aparat hukum di balik dipercepatnya eksekusi mati terhadap gembong narkoba Freddy Budi­man. "Siapa bilang... Nggak ada dipaksakan itu. Freddy sendiri sudah siap kok... He-he-he," katanya kepada Rakyat Merdeka kemarin.

Seperti diketahui, sebelumnya Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Haris Azhar menilai eksekusi Freddy menjadi bagian penting untuk menghilangkan jejak. Khususnya terkait kasus dugaan suap ratusan miliar yang pernah mengalir kepada sejumlah elite aparat penegak hukum dari terpi­dana mati kasus narkoba itu.

"Sampai di situ, sebenarnya Jaksa Agung bertanggung jawab," ujar Haris beberapa waktu lalu.


Seperti diketahui, dari 14 terpidana mati pada gelombang ke tiga (27/7) lalu, ada 10 nama ditunda eksekusinya. Tapi tidak ada nama Freddy di dalamnya. Ia justru langsung dieksekusi bersama tiga terpidana mati lainnya.

Padahal menurut Haris, dia sudah melaporkan pengakuan Freddy pada Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi untuk diteruskan ke Presiden. Namun, hasilnya nihil. Freddy tetap dieksekusi.

Apakah benar ada intervensi dari pihak tertentu agar Freddy tetap dieksekusi mati, guna menghilangkan jejak kasus suap itu? Simak penuturan Jaksa Agung Prasetyo kepada Rakyat Merdeka berikut ini;

Terkait pengakuan Freddy itu, sikap Anda bagaimana sebenarnya?
Saya mendukung sepenuh­nya. Kalau diungkapkan dan seharusnya memang dilakukan secara tuntas ya. Hanya perso­alannya kenapa kok testimoni atau penyampaian yang dida­patkan keterangan dari Freddy itu disampaikan setelah Freddy itu dieksekusi. Kenapa nggak sebelumnya. Padahal kan dapat (informasinya) kan tahun 2014 katanya.

KontraS katanya punya prosedur kerja, sehingga tidak sembarangan membeberkan­nya?
Alasan apa pun sebenarnya kalau menurut saya nggak te­patlah. Kenapa nggak dari dulu. Sehingga dengan demikian kan mudah untuk mengklarifikasi kebenarannya.

Sekarang Freddy sudah tiada, pengakuannya itu ba­gaimana apakah akan ditin­daklanjuti?
Nah sekarang Freddy sudah nggak ada. Sementara si Haris Azhar sendiri katanya bukan tugas dia untuk mencari bukti-bukti... He-he-he. Tentunya ya tidak harusnya seperti itu.

Harusnya?
Ya tentunya Koordinator KontraS itu paling tidak, pu­nya tanggung jawab moral lah. Karena siapa pun yang mendal­ilkan, ya dia harus memberikan bukti-bukti. Kan gitu. Ini kan akhirnya menjadi liar, bias ke mana-mana kan.

Apakah benar eksekusi mati Freddy itu dipaksakan untuk menghilangkan jejak?
Siapa bilang... Nggak ada dipaksakan itu. Freddy sendiri sudah siap kok... He-he-he.

Dari mana Anda tahu?
Laporan dari tim lapangan, Freddy sudah siap kok.

Ada intervensi, atau doron­gan dari pihak tertentu agar Freddy segera dieksekusi?
Oh nggak... Nggak ada inter­vensi... Ya mestinya dia mem­berikan informasi sejak awal. Karena biar gampang menelu­suri. Kan begitu. Ini orangnya sudah meninggal, sudah diek­sekusi bagaimana. Kita mau nanya pada siapa. Sementara dia (Haris Azhar) mengatakan bukan tugasnya, mencari bukti-bukti itu tugas polisi. Tugas pe­nyidik. Ya gampang saja orang ngomong begitu dong. Kalau betul-betul ingin membantu mengungkapkan kebenaran kasus itu kan tentunya sewaktu Fredy masih ada.

Tidak masuk dalam daftar nama yang ditunda eksekusinya, apakah memang benar eksekusi Freddy itu dipaksa­kan?
Nggak ada itu dipaksakan. Yang maksakan siapa?...

Barangkali elite dari aparat hukum yang diduga pernah menerima suap dari Freddy?
Murni itu adalah eksekusi. Jangan menduga-duga. Hukum kok menduga-duga. Semua hak hukumnya sudah diberikan.

Haris katanya akan mem­beberkan bukti-bukti asal­kan dia dijamin aman oleh Presiden Jokowi?
He-he-he... Beberkan-beberkan lah, kalau itu memang ada bukti, kenapa. Ini kan negara hukum. Justru dia harus mem­bantu. Kalau tahu ada satu masalah hukum, ada tindak kriminal yang dia tahu, ada kewa­jiban dia untuk mengungkapkan itu. Memangnya kenapa dia. Dia takut pada bayangannya sendiri. Sampaikan saja. ***

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya