Berita

foto:net

Bisnis

Kementan Pasrah 3 Provinsi Tolak Jeroan & Daging Kerbau Impor

Bulog: Jadwal Impor Mundur Terkendala Protokol Kesehatan
SENIN, 25 JULI 2016 | 08:16 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Langkah pemerintah mengimpor jeroan dan daging sapi terus mendapatkan protes. Tiga Pemerintah Provinsi (Pemprov) menolak keras komoditas tersebut masuk ke wilayah mereka. Pemerintah pusat pasrah.
 
Selama sepekan kemarin, setidaknya ada tiga Pemprov menolak jeroan dan daging ker­bau impor. Mereka yakni, Pem­prov Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng), dan Kalimatan Barat (Kalbar).

Kepala Biro Humas dan Infor­masi Publik Kementerian Perta­nian (Kementan) Agung Hendriadi mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan pe­nolakan tersebut. Menurutnya, impor jeroan dan daging kerbau memang dilakukan sebagai alter­natif pilihan supaya masyarakat bisa membeli daging dengan harga terjangkau.


"Tidak apa-apa kalau ditolak, karena memang bukan untuk dipaksakan. Lagian juga belum diputuskan kapan akan dilaku­kan impor. Nanti kalau dibuka diutamakan untuk wilayah Jabo­detabek. Karena harga wilayah itu dijadikan patokan harga di daerah lain," kata Agung kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Agung memahami, Pemprov yang melakukan penolakan. Karena, mereka memang ber­hasil surplus produksi sapi. Misalnya Jawa Timur, produksi sapi di wilayah ini mencapai 1,1 juta ekor per tahun, tetapi kebutuhannya jauh di bawah angka tersebut.

Agung menegaskan, pihaknya di dalam memutuskan impor selalu berupaya menyesuaikan dengan kebutuhan. Pembu­kaan impor jeroan dan daging kerbau hanya bersifat semen­tara. Misalnya impor jeroan. Impor dilakukan dengan tujuan mengintervensi harga daging sapi yang sangat tinggi.

"Impor jeroan dan daging kerbau bisa dilarang kembali jika kebutuhan daging sapi baik beku maupun segar sudah tercukupi," jelasnya.

Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu memastikan pihaknya tidak akan mengirim daging impor ke wilayah yang sudah surplus sapi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Itu hanya Jakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, terutama Bandung," katanya.

Ketua Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Teguh Boediyana men­dukung Pemprov yang menolak jeroan dan daging kerbau impor. "Mereka punya pemikiran se­jalan dengan peternak. Karena, masuknya varietas seperti daging kerbau dan jeroan akan memukul harga daging yang sudah terben­tuk di pasaran," katanya.

Sekadar informasi, penolakan terhadap jeroan pertama dilaku­kan Pemprov Kalbar. Kepala Di­nas Kehewanan dan Peternakan Pemprov Kalbar Abdul Manaf Mustafa menolak impor jeroan dengan alasan masyarakat tidak membutuhkannya.

"Pemenuhan bahan baku un­tuk pedagang bakso dan rumah makan masih terpenuhi, dari pemotongan lokal. Ini meng­gambarkan pangsa pasar yang belum meningkat," ujar Manaf, Senin (18/07).

Selain stok cukup, Manaf juga menolak dengan alasan kesehatan. Menurutnya, meng­konsumsi jeroan dapat memicu kolesterol tinggi.

Tiga hari berikutnya peno­lakan disampaikan Gubernur Jatim Soekarwo. Dia melarang daging kerbau dan jeroan impor masuk ke wilayahnya.

Pakde Karwo sapaan akrab­nya, berjanji akan mengeluarkan surat edaran agar dua komoditas itu tidak masuk ke wilayah Ja­tim. Menurut dia, masyarakat Jatim lebih senang mengkon­sumsi daging sapi ketimbang kerbau. Daging kerbau kurang diminati karena seratnya yang besar. "Apalagi jeroan. Tidak ada yang mau, tidak cocok," tegasnya.

Alasan lain ialah potensi penu­runan harga daging sapi di pasar. Jatim memiliki 4,3 juta produsen sapi. Belum termasuk kambing. Produksi sapi di Jatim, kata Soekarwo, sudah berlebihan. Padahal wilayahnya hanya mem­butuhkan 500 ribu sapi. Namun kenyataannya, angka kelahiran sapi mencapai 1,1 juta ekor.

Dan terakhir penolakan disampaikan Kepala Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jateng Withono pada Jumat (22/07). Dia juga beralasan produksi daging di wilayahnya sudah mencu­kupi kebutuhan masyarakat di Jateng. Bahkan, sudah surplus sehingga bisa mendistribusikan ke wilayah lain.

"Karena itu, masuknya impor daging dan jeroan ke Jateng sangat tidak diperlukan," tegasnya.

Jadwal Impor Mundur

Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu mengungkapkan, masuknya daging kerbau asal India akan mundur sekitar dua minggu dari jadwal semula yang ditargetkan akhir bulan ini.

Menurutnya, ada masalah teknis terkait protokol kesehatan. Protokol tersebut harus lebih dahulu disepakati oleh kedua pemerintah, Indonesia dan India. Namun demikian, dipastikannya, masalah tersebut bukan masalah besar. Untuk jumlah, Wahyu menjelaskan, tidak mengalami pengurangan, sekitar 10 ribu ton. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

UPDATE

Penumpang Kereta Bandara Tembus 6,2 Juta Pelanggan Hingga Mei 2026

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:20

Fantastis! Harta Menteri dari PAN Trenggono Melejit Setengah Triliun dalam Setahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:15

Prabowo Dorong WNI Masuk Pasar Kerja Teknologi Jerman

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:11

Warna-warni Kendaraan Hias Meriahkan Perayaan 1 Muharam

Selasa, 16 Juni 2026 | 14:10

Oktasari: Kritik Boleh, Tapi Jangan Abaikan Kerja Pemerintah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:46

Prabowo Sampaikan Ucapan Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Belum Lapor LHKPN 2025, Mendes Yandri Punya Harta Rp20,95 Miliar Saat Awal Menjabat

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:20

Israel Masih Tak Terima Rencana Damai Iran-AS

Selasa, 16 Juni 2026 | 13:12

Kekayaan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan Naik 83 Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:52

Universitas Binawan Buka Akses Penyetaraan Kualifikasi Nakes Indonesia di Uni Eropa

Selasa, 16 Juni 2026 | 12:44

Selengkapnya