Berita

Ni Putu Eka Wiryastuti/net

Nusantara

Bupati Tabanan, Perempuan Pertama Yang Dinobatkan Sebagai Pemahat Gigi

JUMAT, 22 JULI 2016 | 07:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ritual potong atau memahat gigi yang dilakukan masyarakat Bali yang juga ritual wajib umat Hindu, menjadi keunikan tersendiri dari wisata budaya di Provinsi Bali.

Bukan saja jadi wisata budaya yang menarik para wisatawan tetapi juga memancing antusiasme masyarakat lokal sendiri. Dalam tradisi tersebut banyak sekali nilai budaya yang dapat ditonjolkan. Yang menarik, masyarakat baru saja menobatkan perempuan pertama sebagai "Mangku Sangging” yang dalam bahasa Bali artinya seseorang yang bertugas sebagai pemahat gigi.

Dialah Ni Putu Eka Wiryastuti yang sehari-hari menjabat Bupati Kabupaten Tabanan. Ini bukan sekadar pemahat gigi biasa karena penobatan gelarnya harus memenuhi beberapa syarat.


"Memiliki jiwa yang sehat dan sudah melakukan proses ritual penyucian diri yang cukup lama, jadi orang-orang yang sudah terpilih saja yang dinilai sudah bersih jiwanya untuk bisa menjalankan tugas menjadi seorang Mangku," jelas Ketua Yayasan Perguruan Siwa Murthi Provinsi Bali, Jero Mangku Gede Subagyo, di acara Mapatah Massal yang diselenggarakan oleh Yayasan Siwa Murthi yang diadakan di Denpasar, Bali, Kamis kemarin (21/7).

Tidak hanya jiwa saja yang harus bersih dan suci, melainkan ada hal lain yang harus dikuasai, yaitu memiliki keterampilan tangan dalam hal memahat, mengukir, atau mematahkan gigi yang bertujuan untuk mempercantik dan membersihkan diri dari roh-roh jahat dan musuh-musuh yang ada didalam diri manusia.
 
"Menjadi seorang mangku sangging berarti harus sudah bersih jiwa dan raganya. Sama halnya dalam menyapu, jika sapunya kotor maka tidak mungkin mampu memebersihkan sebuah tempat," ungkap Jero Subagyo.

Ni Putu Eka mengaku awalnya berat menjadi seorang mangku sangging, namun dengan dibekali kepercayaan dan sudah melalui proses penyucian diri ia mencoba dan menjadi satu-satunya perempuan yang menjalankan tugas sebagai mangku sangging. Misi lainnya adalah totalitas dalam melestarikan budaya Bali.

"Saya yang awalnya merupakan pejabat  politik sudah seharusnya mengabdikan jiwa dan raga ini untuk rakyat. Karena itu yang diberikan oleh Tuhan kepada saya yang harus dikembalikan kepada rakyat," ujar Eka.

Apresiasi dan tanggapan yang sangat positif diungkapkan anggota DPRD Provinsi Bali, Ketut Purnanye. Ia mengaku bahagia atas terselenggaranya metatah massal kemarin. Ia juga mengharapkan kegiatan mapatah massal bisa terus diadakan dengan adanya kerjasama baik di pemerintah dan masyarakat. [wah]

Populer

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya