Berita

Dunia

Sudah Enam Orang Ditahan Terkait Tragedi Di Nice

SENIN, 18 JULI 2016 | 02:45 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Pihak berwenang di Perancis kembali melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang diduga terlibat serangan truk yang menewaskan 84 orang di Promenade des Anglais, kota Nice, Prancis, Kamis (14/7).

Hari Minggu (17/7), otoritas Perancis menangkap pasangan keturunan Albania. Dengan demikian, jumlah orang yang diciduk terkait tragedi itu bertambah menjadi enam orang. Operasi penangkapan sudah dilakukan sejak Jumat (15/7).

Jurubicara kejaksaan di Paris, Agnes Thibault Lecuivre,
tidak memberi keterangan rinci soal keterkaitan pasangan tersebut dengan serangan teror.

tidak memberi keterangan rinci soal keterkaitan pasangan tersebut dengan serangan teror.

Kepolisian Perancis mengumumkan, pelaku dari serangan itu adalah Mohamed Lahouaiej-Bouhlel (31). Dia adalah warga Nice yang lahir di Tunisia tetapi memiliki izin untuk tinggal dan bekerja di Perancis.

Malam itu, Bouhlel mengendarai truk peti kemas melindas ratusan orang yang berkumpul saat menonton pesta kembang api Bastille Day di kota tepi pantai Mediterania itu.

Aparat pun menciduk istri Bouhlel dari apartemennya pada Jumat lalu, namun ia dibebaskan pada hari Minggu seperti dijelaskan pengacaranya, Jean-Yves Garino, kepada CNN.

Perempuan yang memiliki tiga anak dari Bouhlel itu mengaku tidak pernah berkomunikasi dengan suaminya itu karena mereka sedang berada dalam proses perceraian.

Bouhlel ditembak mati oleh polisi yang mencoba menghentikan aksi brutalnya. Kepolisian mengidentifikasinya lewat sidik jari setelah kartu identitasnya ditemukan di dalam truk.

Kelompok ekstremis ISIS mengaku berada di belakang aksi keji itu. Tetapi klaim itu masih diragukan hingga kini.

Menteri Dalam Negeri Perancis, Bernard Cazeneuve, menyebut sosok Bouhlel tidak masuk dalam radar intelijen. Dia tidak memiliki catatan keterlibatan dengan kelompok militan dan tidak disorot oleh dinas intelijen.

"Sepertinya dia menjadi radikal dengan sangat cepat," kata Cazeneuve, Sabtu (16/7).

Meski begitu, Bouhlel pernah terjerat kasus pengancaman, kekerasan dan pencurian selama enam tahun terakhir. Dia juga pernah dinyatakan bersalah dalam kasus kekerasan bersenjata. [ald] 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya