Berita

Tuti Hendrawati Mintarsih:net

Wawancara

WAWANCARA

Tuti Hendrawati Mintarsih: Ke Depan Daerah-Daerah Yang Pengelolaan Sampahnya Kurang Baik Akan Kita Beri Sanksi

JUMAT, 15 JULI 2016 | 09:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Penumpukan sampah setiap pascalebaran menjadi pemandangan yang seakan lumrah terjadi setiap tahun. Alasannya klasik, petugas kebersihan libur. Padahal produksi sampah sepanjang Ramadhan hingga pascale­baran biasanya cenderung meningkat. Sehingga, jika petugas libur, otomatis sampah menggunung. Dan hal itu terjadi di berbagai daerah di Indonesia.Lalu, apa sebenarnya yang harus dilakukan ke depan?

Simak wawancara Rakyat Merdeka dengan Tuti Hendrawati Mintarsih, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berikut ini;

Pasca Lebaran, sampah menumpuk, sebenaranya apa yang menjadi kendala?
Pertama, begini. Berdasarkan Undang-Undang Sampah Nomor 18 Tahun 2008, memang tanggung jawab utama pengelolaan sampah ada di pemerintah daerah.

Pertama, begini. Berdasarkan Undang-Undang Sampah Nomor 18 Tahun 2008, memang tanggung jawab utama pengelolaan sampah ada di pemerintah daerah.

Kalau di pemerintah pusat?
Nah terkait dengan Lebaran, sebelum Lebaran itu, KLHK(Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) sempat membuat edaran berupa infografis. Supaya bagaimana mudik itu aman, mudik ramah lingkungan. Itu sudah kita bikin. Kita buat berupa edaran yang mudah dibaca.

Misalnya lebih baik pakaitransportasi umum, selain menghemat emisi kendaraan, kemudian selama jadi penumpang itu jan­gan buang sampah sembarangan, lebih baik bawa tempat minum sendiri yang bisa dipakai berkali-kali. Sampai kayak gitu. Tetapi memang susah juga mengubah budaya. Tapi tetap kita mengajak masyarakat untuk sadar.

Selain sampah akibat mudik, sampah rutin yang menumpuk di pasar dan pemukiman juga terjadi itu bagaimana penan­ganannya?

Memang, edaran untuk pe­merintah daerah kita nggak buat (untuk antisipasinya).

Jadi, bagaimana menyele­saikannya?
Jadi ini ketika saya melihat beberapa kasus (penumpukan sampah) terjadi, langsung saya telepon.

Contohnya?
Ada kasus misalnya di Pekanbaru, ternyata pihak ketiganya bermasalah. Sehingga tidak bisa membayarkan gaji.

Hasilnya?
Setelah saya monitor, saya telepon lagi, akhirnya tuntas, beres. Kemudian, ada lagi masalah manajemen (di beberapa daerah) itu di sistem pembagian tugas. Jadi jangan semuanya libur. Harus ada yang piket, sehingga sampah tidak numpuk di jalan.

Untuk ke depan, apa harus­nya dilakukan?
Untuk antisipasi ke depan, di hari libur Idul Fitri, Idul Adha, Natal, dan Tahun Baru, kita har­us buat edaran untuk pemerintah daerah mengingatkan supaya ada yang piket, jangan semuanya libur. Karena sudah banyak keja­dian (penumpukan sampah).

Dengan edaran itu, Anda optimistis bisa mengantisipasi penumpukan sampah, khusus­nya saat pascalebaran?
Kalau saya sih memang harus optimistis ya. Karena kalau ng­gak, kita nggak berani ngapa-ngapain. Tapi juga harus realistis. Karena memang ujung tombak itu ada di pemerintah daerah, kita di pusat monitor setiap ada masalah kita hubungi, kita minta direkturnya telpon BLHD (Badan Lingkungan Hidup Daerah) nya. Atau Dinas Kebersihannya.

Apa respons dari daerah ketika dihubungi terkait pen­umpukan sampah?
Biasanya mereka memberi alasan. Kemarin itu lalai memang kami mengingatkan harus ada edaran sebelumnya (Lebaran). Walaupun tahun sebelumnya sudah, kita yang lewat Humas itu ternyata nggak cukup. Harus lewat tertulis langsung ke Gubernur, Bupati/ Walikota.

Jika surat edaran tidak dihiraukan?
Ke depan akan kita coba beri­kan sanksi untuk daerah-daerah yang pengelolaan sampahnya kurang baik. Misalnya, bisa den­gan penarikan piagam adipura dan sanksi lainnya.

Apa yang akan menjadi konsentrasi Anda untuk me­nangani persoalan sampah?

Ke depan ini kan banyak yang bermasalah dengan TPA (Tempat Pembuangan Akhir) nya. Jadi kita akan memberikan semacam workshop kepada pe­merintah. Pengelolaan sampah yang baik, perhitungannya sep­erti ini. Kita akan bekerjasama dengan pakar.  ***

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya