Berita

ist

Hukum

Disebut Sekelas Polsek, Ini Komentar Pimpinan KPK

RABU, 13 JULI 2016 | 21:44 WIB | LAPORAN:

Sejak dipimpin Agus Rahardjo cs, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah melakukan 10 operasi tangkap tangan (OTT). Namun, sebagian besar hasil tangkapan itu hanya "bernilai" ratusan juta. Masih doyan kasus recehan, KPK dinilai sekelas Polres.

Bagi Ketua KPK Agus Rahardjo, masyarakat jangan hanya melihat besar kecilnya uang suap atau kerugian negara dari sebuah perkara yang ditangani.

"Pesannya, bahwa dunia peradilan belepotan, sasarannya penegakan hukum," tutur Agus melalui pesan singkat, Rabu (13/7).


Dia mengingatkan, jika lembaga yudikatif negara tidak mampu memperbaiki dirinya sendiri, mestinya dua cabang yang lain, yakni eksekutif dan legislatif segera berinisiatif memperbaikinya.

"KPK siap memberikan bantuan dan pengawalan," imbuhnya.

Sejurus dengan Agus, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang menilai, korupsi bukan dinilai dari besar kecilnya uang suap atau kerugian negara dalam suatu kasus. Melainkan rusaknya mental penegak keadilan serta rusaknya mental bangsa.

"Jadi bukan dari besar kecilnya rupiah," ujar Saut dikonfirmasi terpisah.

Soal belum mampunya KPK memenjarakan banyak orang, baik orang besar maupun kecil, Saut bilang itu lain persoalan. Keterbatasan SDM di lembaga antirasuah itu menjadi penyebabnya.

"Saya pribadi bilang paling tidak pegawai KPK itu harus 8000 orang dari 1300-an yang ada sekarang," beber Saut.

Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman sebelumnya menyayangkan, KPK di bawah kepemimpinan Agus lebih doyan menangani kasus duit receh. KPK, dinilainya, seperti pesawat jet tempur, namun dikemudikan sopir angkot.

"Kalau hanya menangani kasus ratusan juta, KPK sekelas Polres. Itu sangat disayangkan. Istilahnya, pesawat jet tempur dikemudikan sopir angkot," katanya kepada Harian Rakyat Merdeka, kemarin.

Menurut Boyamin, Agus Rahardjo cs terkesan mengabaikan kasus-kasus yang jauh lebih besar ketimbang kasus-kasus yang mereka tangani saat ini. Boyamin menyebut dua kasus di antaranya, yakni kasus dugaan korupsi pembelian lahan RS Sumber Waras dan kasus SKL BLBI.

"KPK malah lembek di kasus RS Sumber Waras yang nilai kerugian negaranya ratusan miliar. Kesannya sangat tidak adil. Itu justru menurunkan derajat KPK. Apalagi yang triliunan seperti BLBI, Century, sudah menguap," jelas Boyamin.

Boyamin pun menilai, pimpinan KPK sekarang terlihat demam panggung, grogi, tidak berjiwa petarung, dan kelihatan cari aman. Nah, untuk menutupi kelemahan itu,  KPK pun memperbanyak OTT. Sementara kasus yang bersifat strategis dan kebijakan tak berani mereka perkarakan.

"Kalau boleh menilai sekarang ini adalah pimpinan KPK dengan nilai paling rendah jika dibandingkan dengan sebelumnya," kritiknya.

Bahkan, Boyamin meminta para pimpinan komisi antirasuah itu untuk mundur secara kolektif. "Daripada mempermalukan KPK dan diri sendiri," tandasnya. [sam]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya