Berita

net

Dunia

Kini Operasi ISIS Lebih Mirip Al Qaeda

RABU, 06 JULI 2016 | 09:38 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Serangan mematikan di empat negara (Turki, Bangladesh, Irak dan Arab Saudi) yang diklaim kelompok Negara Islam atau ISIS menunjukkan keterbatasan koalisi pimpinan Amerika Serikat (AS) untuk melumpuhkan kelompok itu.

Tantangan untuk menghentikan serangan ISIS tidak hanya karena serangan dilakukan secara global, tetapi juga tersebar dengan pilihan tarrget yang sangat variatif.

Dalam beberapa bulan terakhir, para pejabat di AS menggambarkan serangan mematikan ISIS di seluruh dunia adalah respons langsung terhadap keberhasilan koalisi militer pimpinan AS mengusir mereka dari basisnya di Irak dan Suriah.


Para pejabat AS dan mantan petinggi militernya menyatakan sebaran pengaruh ISIS di luar wilayah kontrol mereka di Irak dan Suriah berlangsung terlalu "sederhana".

Seorang pejabat AS yang lama meneliti kelompok Islam militan, dikutip reuters, menyatakan bahwa bukti menunjukkan bahwa ISIS telah memperluas jangkauannya, merekrut dan melakukan propaganda baik dengan online maupun lewat perwakilannya di berbagai benua.

Beberapa analis mengatakan, kini ISIS lebih dekat menyerupai Al Qaeda, yang memfokuskan serangan berskala besar daripada mencoba untuk menahan wilayah kekuasaannya.

Para pejabat AS mengatakan mereka masih menganalisis hubungan antara ISIS dengan serangan 28 Juni di bandara Istanbul yang menewaskan 45 orang; serangan terhadap sebuah kafe yang sering dikunjungi oleh orang asing di Dhaka, pada Jumat lalu, yang menewaskan 20 orang; dan bom truk bunuh diri di lingkungan Syiah di Baghdad pada hari Sabtu malam lalu yang menewaskan sedikitnya 175 orang.

Terakhir yang mencengangkan adalah serangan terhadap Arab Saudi menargetkan kawasan diplomatik AS, jamaah Syiah dan kantor keamanan di sebuah masjid di kota suci Madinah.

Semua berlangsung selama bulan suci Ramadhan, yang diakhiri dengan hari raya Idul Fitri.

Serangan di Turki, Irak dan Arab Saudi diduga memiliki jaringan langsung dengan ISIS. Sedangkan serangan di Bangladesh mungkin hanya terinspirasi, namun juga memiliki akar di tingkatan lokal.

Ahli kontra terorisme mengatakan tidak ada "peluru" yang akan menghentikan gelombang serangan terhadap warga sipil secara global yang menggunakan metode serangan bom bunuh diri tunggal, bom truk hingga teknik penyanderaan.

"Tantangannya adalah tindakan dan inisiatif datang dari banyak tempat yang berbeda," kata analis terorisme yang juga bekas agen CIA, Paul Pillar.

Dia menyebut, kerjasama diplomatik yang lebih erat, berbagi informasi intelijen dan pelacakan arus uang dari jaringan terorisme adalah yang terpenting saat ini.

"Kami selalu menegaskan bahwa kampanye militer tidak cukup untuk mengalahkan ISIS atau untuk menghapus ancaman yang menimbulkan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby.

"Kampanye holistik yang membahas akar penyebab ekstremisme adalah satu-satunya cara untuk memberikan hasil," tambah dia. [ald]

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

KPK Dikabarkan OTT Walikota Madiun Maidi

Senin, 19 Januari 2026 | 15:23

Eggi Sudjana Kerjain Balik Jokowi

Selasa, 20 Januari 2026 | 15:27

Aneh! UGM Luluskan Jokowi dengan Transkrip Nilai Amburadul

Minggu, 18 Januari 2026 | 00:35

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

UPDATE

Corak Kita di Mata Marx

Kamis, 29 Januari 2026 | 06:01

Hoaks Tersangka Putriana Dakka Dilaporkan ke Divisi Propam Mabes

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:55

Pelukan Perkara Es Jadul

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:29

Eggi Sudjana: Roy Suryo Belagu, Sok Merasa Hebat

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:12

Sekda Jateng Turun Tangan Cari Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang

Kamis, 29 Januari 2026 | 05:00

Polisi Pastikan Seluruh Karyawan Pabrik Swallow Medan Selamat

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:31

Mengenal Luluk Hariadi, Tersangka Korupsi Pengadaan Baju Ansor Rp1,2 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:17

Tanggung, Eggi-Damai Lubis Harusnya Gabung Jokowi Sekalian

Kamis, 29 Januari 2026 | 04:11

Eggi Sudjana: Tak Benar Saya Terima Rp100 Miliar

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:40

Hukum Berat Oknum Polisi-TNI yang Tuduh Penjual Es Gabus Jual Produk Berbahan Spons

Kamis, 29 Januari 2026 | 03:08

Selengkapnya