Berita

T Bahdar Johan Hamid:net

Wawancara

WAWANCARA

T Bahdar Johan Hamid: Ini Benar-benar Kriminal, Jangan Dipancing Jadi Pengawasan Yang Nggak Benar

SELASA, 28 JUNI 2016 | 09:20 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Masyarakat di Tanah Air digegerkan dengan ditemukan­nya kasus vaksin palsu di beberapa daerah. Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) meng­gerebek beberapa tempat yang dijadikan pabrik pembuatan vaksin palsu.

Beberapa pihak menunjuk hi­dung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai pihak yang lalai dalam mengawasi peredaran vaksin-vaksin terse­but. Namun, Plt BPOM Tengku Bahdar Johan Hamid mem­bantahnya. Kata dia, pihaknya telah melakukan pengawasan sebagaimana mestinya.

"Jadi tolong dibedakan, ini masalah kriminal dan jalur res­mi. Jadi persoalan ini adalah benar-benar kriminal oleh orang jahat yang memalsukan. Jangan dipancing kenapa ini jadinya pengawasan yang nggak benar," kata Bahdar saat ditemui di Gedung DPR, semalam. Berikut penjelasan lengkapnya.


Kasus vaksin palsu men­cuat, BPOM dituding lalai dalam pengawasan?
Yang dipalsukan ini kan vaksin impor. Dan vaksin impor tetap diawasi, kita tetap membuat daftar dari produk impor. Jadi tolong dibedakan, ini masalah kriminal dan jalur resmi.

Jadi persoalan ini adalah be­nar-benar kriminal oleh orang jahat yang memalsukan. Jangan dipancing kenapa ini jadinya pengawasan yang nggak benar. Namanya penjahat, ada uang di jalan sana ya dirampok. Jadi bukan berarti sistemnya yang nggak benar. Belum tentu. Tapi yang pasti penjahatnya ada.

Artinya BPOM kecolongan dalam kasus ini?
Bukan kecolongan, tapi kerampokan. Kecolongan mah sedikit. Kan dia jual barang palsu kok. Kerampokan kita.

Anda bilang perampokan, lantas ke depan pengawasan­nya bagaimana?
Pengawasannya diperketat dan hukumannya dipertegas. Pengawasan diperketat tapi hukumannya nggak tegas kan percuma.

Sebelumnya pernah ada kasus pemalsuan obat yang diungkap BPOM?
Waktu itu vaksin ATS(anti tetanus) yang diedarkan tahun 2008 sudah kedaluwarsa.

Apakah ada kemungkinan pemalsu justru dari perusa­haan obat itu?
Nggak mungkin lah, kan di­lakukan di rumah. Orangnya juga sudah tertangkap.

Lantas cara membedakan obat itu palsu atau tidak ba­gaimana?
Nggak bisa, nggak bisa dibe­dain.

Kenapa?
Karena semua bisa ditiru. Semua bisa ditiru.

Artinya fungsi pengawasan BPOM nggak perlu jalan dong?
Sekarang kita bikin badan BPOM yang khusus untuk me­lihat obat itu asli atau palsu. Karena kalau kita kasih sama awam juga nggak mungkin mereka bisa membedakan.

Kalau kita beritahu ke masyarakat, apa masyarakat pasti mengerti? Kan nggak. Makanya nanti kita bikin badan khusus. Jadi kalau ada masyarakat curi­ga, nanti tim itu datang mengecek.

Apa mereka juga memalsu­kan surat izin distribusi?
Hanya izin edar saja, kalau izin distribusi mereka nggak punya. Ini masalahnya, ada orang yang mau beli harga murah, jadi bukan soal izin. Ini ada harga murah makanya dia beli.

Berapa jumlah total pemalsu yang sudah ditangkap?
Bintaro, satu kemang, satu di Bekasi Timur, sekarang ketemu lagi di Subang, jadi ada empat.

Katanya ada tujuh yang diperiksa?
Bukan. Jadi yang benar, fasili­tas kesehatan yang membeli itu ada delapan. Pemalsunya ada empat.

Fasilitas kesehatan daerah mana saja?
Batam, Riau, Jakarta dan beberapa daerah lain saya ng­gak ingat. Jadi kenapa mer­eka diperiksa, karena mereka kemugkinan memakai vaksin palsu. Nah sekarang kita stop dan kita amankan di rumah sakit masing-masing.

Rumah sakit pemerintah atau swasta?
Umumnya swasta seperti yang dikatakan ibu menteri.

DPR mempertanyakan koordinasi antara BPOM dengan Kepolisian, memang bagaimana sebenarnya?
Sebenarnya bagus. Yang diminta DPRtadi adalah produknya itu diperiksa. Ya kita nggak bisa maksain polisi kasih ke kita, ya pertanyaannya ke polisi dong.

Dia kan penyidik, mungkin punya hal-hal khusus. Saya ng­gak mau suudzon bilang polisi jahat atau nggak mau diajak kerja sama. Kita nggak usah menyalahkan polisi lah.

Selanjutnya, pengawasan apakah akan tetap dilaksana­kan BPOM?
Produk vaksin itu tetap dari BPOM. Cuma untuk penggu­naannya dari mana dia datang, itu tergantung rumah-rumah sakit.  ***

Populer

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

UPDATE

Wall Street Kompak Hijau Berkat Lonjakan Saham AI

Selasa, 17 Maret 2026 | 08:03

Krisis Energi Kuba: Blokade Minyak AS Picu Pemadaman Listrik Nasional

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:45

Festival 1000 Berkah: Dari Sampah Plastik Menjadi Paket Pangan untuk Sesama

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:35

Ancaman Inflasi Global Tekan Harga Emas Dunia ke Bawah Level 5.000 Dolar AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:22

Pasar Eropa Bangkit dari Tekanan, STOXX 600 Ditutup Hijau

Selasa, 17 Maret 2026 | 07:07

Melawan atau Hanyut dalam Tekanan

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:43

Negara Harus Petakan Pola Serangan KKB di Papua Demi Lindungi Warga

Selasa, 17 Maret 2026 | 06:23

Pedro Sanchez Warisi Politik Bebas Aktif Bung Karno

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:59

TNI AL Gelar Bakti Sosial dan Kesehatan di Pesisir Tangerang

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:45

SPPG IFSR Gelar Program Makan Berbuka Gratis Tanpa APBN

Selasa, 17 Maret 2026 | 05:22

Selengkapnya