Berita

Jenderal (Purn) Suroyo Bimantoro:net

Wawancara

WAWANCARA

Jenderal (Purn) Suroyo Bimantoro: Dari Aspek Angkatan Tito Junior, Tapi Dari Jabatan Dia Lebih Senior

SABTU, 25 JUNI 2016 | 08:23 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon Kapolri Komjen Tito Karnavian di Komisi III DPRberlangsung mulus. Bekas Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Suroyo Bimantoro menilai, mulusnya langkah Tito karena kualitas yang dimilikinya. Meski berlangsung mulus, Komjen Tito masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah. Berikut peti­kan wawancara dengan Jenderal Bimantoro.

Fit and proper test Tito ber­langsung mulus. Komentar Anda?
Saya melihat Tito itu me­mang sudah begitu. Dari dulu sudah kelihatan. Jadi sejak saya Kapolri dan dia masih (berpang­kat) Mayor, saya lihat dia ini bakalan jadi. Sebetulnya kita ini bisa menilai kok, sebagai atasan dan senior, mana yang punya potensi dan mana yang kerjanya molor aja.

Waktu menangkap Tommy Soeharto itu, sebelumnya saya kan bentuk tim. Banyak jenderal di situ. Tapi karena nggak me­muaskan, saya panggillah Tito ke rumah saya. Saya bilang, sekarang kamu yang pimpin tim, anggotanya cukup letnan dan sersan dan kamu hanya lapor kepada Kapolda dan saya. Tidak sampai sebulan langsung tertangkap.

Waktu menangkap Tommy Soeharto itu, sebelumnya saya kan bentuk tim. Banyak jenderal di situ. Tapi karena nggak me­muaskan, saya panggillah Tito ke rumah saya. Saya bilang, sekarang kamu yang pimpin tim, anggotanya cukup letnan dan sersan dan kamu hanya lapor kepada Kapolda dan saya. Tidak sampai sebulan langsung tertangkap.

Dibandingkan waktu Anda jadi Kapolri dengan tantangan yang akan dihadapi Tito tentu berbeda?
Yang jelas ancaman, ham­batan, gangguannya tentu lebih kompleks ya. Karena teknologi dan segala macam. Kemudian interaksi antara bangsa kan semakin intens. Berbeda den­gan zaman dulu. Makanya saya ngomong dengan senior saya, (mereka bilang) nggak bisa mencela adik-adik yang sekarang ini. Karena adik-adik kita tantangannya jauh lebih kompleks.

Sekarang sudah ada sosial media ini, itu. Dulu kan ng­gak. Apalagi waktu kita masih di ABRI, semuanya kan di-handle Menhankam/Panglima ABRI. Semuanya di-handle Pak Harto. Semuanya diselesaikan oleh beliau-beliau itu. Sekarang tidak, dengan tugas dan fungsi sekarang, jelas beban tugasnya lebih berat. Dan saya bersyukur Tito yang terpilih.

Tito dianggap melangkahi seniornya, bagaimana kira-kira soliditas Polri ke depan?
Begini, kita itu di sekolah dari dulu, mulai dari AKABRI, kita sudah ditanamkan nilai-nilai kepatuhan kepada atasan. Nilai-nilai disiplin. Disiplin itu artinya apa sih? Disiplin itu menyesuai­kan tingkah laku kita kepada norma yang ada. Kita dulu kalau nggak disiplin ditempelengin. Jadi kita mengikuti aturan yang ada. Dengan aturan yang ada di TNI dan Polri, itu adalah tunduk kepada pimpinan.

Jadi saya yakin dia mampu mengatasinya, karena anggota-anggota juga sudah terbiasa seperti itu. Kalau tanpa disiplin itu, sudah bubar organisasi kita. Siapapun dia, kalau sudah diaju­kan dengan prosedur yang benar, pasti yang lain juga akan patuh. Lagipula, di kita itu, normanya, yang pertama menjadi ukuran senioritas itu adalah jabatan.

Maksudnya?
Contohnya saya, sejak jadi Kapolres, saya sudah memimpin senior. Wakil saya itu letingan 68. Nggak ada masalah. Saya jadi Kapolri juga ada dari 67, saya kan 70. Karena memang begitu, sudah nilai yang di­tanamkan kepada kita. Kecuali, kecuali ya, ada nilai-nilai yang dilanggar. Dan bicara senioritas yang pertama itu adalah jabatan. Tito dengan Komjen yang lain kan sama dari segi kepangkatan. Dari aspek angkatan mungkin dia junior, tapi dari jabatan dia lebih senior.

Kenapa?
Karena dari segi jabatan dia itu kepala BNPT. Makanya pelantikannya di Istana oleh Presiden, seperti menteri. Kalau Wakapolri, Irwasum kan Kapolri. Itu kadang-kadang yang nggak dilihat orang.

Soal kesejahteraan ang­gota, sebagai bekas Kapolri, bagaimana Anda mensiasat­inya, dibandingkan dengan sekarang?
Jadi kalau sekarang, kes­ejahteraan anggota lebih ba­guslah. Cuma remunerasi yang diberikan kepada polisi baru 56 persen dari yang seharusnya di­terima. Jadi kita dibiasakan sejak zaman revolusi dulu, gaji nggak ada yang pernah cukup. Tentara pejuang dulu juga kan makan dari pemberian rakyat kan, nggak ada yang dari logistik. Mengingat itu dan kewenangan yang kita miliki, itulah yang harus diperbaiki. Maka dari itu, mensiasatinya adalah jangan membebani anak buah dengan yang tidak perlu.

Termasuk meminta setoran?
Apalagi meminta setoran. Itu kurang ajar sekali. Karena sudah jelas nggak ada kok dimintai setoran. Selanjutnya, saya waktu jadi Kapolri itu nggak mau men­jabat ketua ini itu.

Memang kenapa?
Karena buntutnya dana. Sementara dana itu tidak tersedia dalam APBN untuk Kepolisian. Makanya, saya lepaskan semua itu, ketua ini, ketua itu. Selanjutnya, jangan memotong hak anggota yang sudah kecil. Selanjutnya basic orang bekerja adalah rumah. Organisasi bisa maju kalau dia bisa menampung basic itu. Buat apa kantor bagus-bagus kalau rumah anggotanya reyot? Dan itu sudah dikemukakan Tito. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya