Berita

basuki purnama/net

Politik

PILKADA JAKARTA

Risma Dan Djarot Menenggelamkan Ahok

JUMAT, 24 JUNI 2016 | 16:25 WIB | OLEH: ALDI GULTOM

Mulai hari ini, konstelasi politik DKI Jakarta jelang Pilkada tahun depan diprediksi bakal berubah.

Dua kelompok masyarakat berbeda, pada jam hampir bersamaan, menggelar kegiatan yang sarat dukungan politik kepada calonnya masing-masing untuk berlaga di Pilkada DKI Jakarta 2017.

Yang pertama adalah Barisan Risma (Baris), kelompok pendukung Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini (Risma). Baris menilai dukungan kepada Risma untuk menjadi Cagub DKI Jakarta semakin kuat, karena itu merasa perlu melakukan deklarasi dukungan. Dalam undangan kepada wartawan, disebutkan acara bakal digelar di Kampung Guji Baru, Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat pada petang ini.


Yang kedua adalah Rumah Aliansi Djarot (Radja), selaku pendukung Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, untuk menggantikan Gubernur Basuki Purnama alias Ahok. Dalam undangan persnya, kegiatan kelompok Radja terkesan lebih santai karena hanya beragenda dialog dengan masyarakat dan pedagang UKM Kemayoran. Acara digelar pada sekitar pukul 15.00 WIB di halaman Masjid Al Ihsan, Jalan Kemayoran Gempol, Kecamatan Kemayoran, Jakpus.

Dua nama itu bukan sosok sembarangan. Mereka sudah terbukti menancapkan karir cemerlang dalam pembangunan daerah. Selain itu, keduanya berasal dari partai yang sama, PDI Perjuangan, dan sangat berpengaruh di akar rumput. Keduanya juga disebut sebagai aset partai yang berkontribusi besar bagi kemenangan pada pemilihan skala lokal maupun nasional. Mereka juga mendapat predikat "kesayangan" Ibu Mega, tokoh sentral di PDIP.

Djarot pernah sukses memimpin Kota Blitar selama dua periode, sejak 3 Mei 2000 hingga 3 Agustus 2010. Sebelumnya ia duduk sebagai anggota DPRD Jawa Timur. Ia menjabat Wakil Gubernur Jakarta pada 2014 atas penugasan PDIP untuk mengisi posisi yang ditinggal Basuki Purnama alias Ahok. Dia juga sempat mencicipi kursi DPR RI periode 2014-2019. Di PDIP, Djarot berada di pos strategis sebagai Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi

Sedangkan Risma saat ini masih menjabat Wali Kota Surabaya untuk periode kedua. Aslinya bukan politikus, melainkan birokrat murni. Pernah menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya dan Kepala Badan Perencanaan Kota Surabaya. Walikota perempuan pertama di Surabaya itu berkali-kali masuk dalam daftar para pemimpin lokal terbaik di dunia.

Kehadiran dua nama itu menjelang Pilkada Jakarta diyakini akan semakin menenggelamkan "kedigdayaan sementara" Ahok selaku calon incumbent.

Emosi Ahok yang meledak-ledak makin dicobai dengan rentetan kasus yang menerpanya. Sebut saja dugaan aliran dana para raksasa properti untuk operasi penggusuran kawasan miskin, yang terkait dengan barter proyek reklamasi. Kasus reklamasi sendiri tengah berada di ranah penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  

Kemudian, masih ada polemik pembelian lahan Sumber Waras yang tetap jadi perdebatan hangat di kalangan pakar hukum, politikus dan antar lembaga negara. Ada lagi isu manipulasi data KTP dukungan dan stok dana tak wajar yang dimiliki organisasi Teman Ahok. Teranyar, adalah unjuk rasa warga yang berujung ricuh di Penjaringan, Jakarta Utara akibat masifnya penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Menguatnya dukungan kepada Risma dan Djarot bagai jalan alternatif yang muncul ketika satu-satunya calon kuat, yang tadinya sangat diimpikan publik, mulai kewalahan menghadapi isu-isu negatif yang kerap mencengangkan.  

Di sisi lain, satu juta KTP yang diklaim Teman Ahok tidak otomatis membuat kepercayaan diri Ahok memuncak. Malah sebaliknya, Ahok kian dilematis di persimpangan jalan. Dengan banyaknya isu negatif yang menyeret dirinya, Ahok terkesan enggak pede hanya berbekal dukungan anak-anak muda relawan (yang belakangan dicap karyawan karena dibayar dengaan imbalan besar).

Ahok yang selama ini kerap berkonfontrasi dengan parpol boleh lega dengan dukungan resmi dari tiga parpol Nasdem, Golkar dan Hanura. Tetapi, ketiga mesin partai itu tak akan mampu berbuat banyak selama Ahok sendiri masih bertahan pada jalur independen.

Berdasar rekam jejak, prestasi dan besarnya mesin politik di belakang Djarot maupun Risma, kian kuatnya dukungan kepada dua kader banteng itu adalah ancaman yang sangat berarti bagi Ahok, yang selama ini tak mendapatkan lawan tanding sepadan.

Selain itu, tentu saja ancaman besar lain tetap datang dari bergulirnya penanganan hukum atas kasus-kasus besar yang menyeret nama sang gubernur. [ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Ijazah Gibran Jadi Bom Waktu

Rabu, 07 Oktober 2026 | 02:03

Danantara Gelontorkan Rp4,4 Triliun untuk Masuk Bisnis Migas AS

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:31

PIP dan KIP Kuliah Tak Boleh Lagi Salah Sasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:21

Jangan Korbankan Konektivitas Antar Pulau Gegara Kebijakan Panik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 01:09

Inilah Beda FIFA ASEAN Cup dan Piala AFF

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:34

Ahmad Doli Soroti Dugaan Bullying Bocah SD di Pemalang: Mukanya Lucu-lucu, tapi Berstatus Pembunuh

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:21

Gibran Tak Punya Ijazah SMA, Said Didu: Pemakzulan Bisa Lewat Proses Politik

Rabu, 07 Oktober 2026 | 00:04

Danantara Penetrasi ke Ekosistem Aviasi Timur Tengah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:43

34 JPU Disiapkan Hadapi Sidang TPPU Febrie Adriansyah

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:20

Juara Setelah 35 Tahun Menunggu

Selasa, 06 Oktober 2026 | 23:01

Selengkapnya