Berita

Sutiyoso:net

Wawancara

WAWANCARA

Letjen (Purn) Sutiyoso: Kasus Upal, Ada Kemungkinan Terkait Pilkada, Sejauh Ini Motifnya Masih Ekonomi

RABU, 08 JUNI 2016 | 08:36 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kepala Badan Intelijen Negara ini mengendus adanya peningkatan peredaran uang palsu (upal) jelang lebaran dan pilkada serentak. Memang berdasarkan hasil pan­tauan Bank Indonesia (BI) tren peredaran upal sepan­jang tiga tahun belakangan ini menurun.
 
Pada 2014, dari satu juta uang rupiah yang beredar, sembilan di antaranya adalah uang palsu. Sedangkan pada 2015, per satu juta uang rupiah yang beredar, 21 lembar adalah uang palsu. Namun pada tahun ini, hingga Mei 2016, hasil pantauan BI, dari satu juta lembar uang yang beredar setidaknya ada lima lembar uang palsu.

BI pun mengimbau masyarakat agar lebih memperbanyak tran­saksi non-tunai. Alasannya, jika masyarakat tetap menggunakan transaksi tarik tunai maka prak­tis jumlah uang yang beredar menjadi makin banyak. Kondisi itu tentunya akan dimanfaat­kan oleh para pemalsu untuk mengoplos uang asli dengan yang palsu. Namun, bila meng­gunakan transaksi non-tunai, semisal kartu debit atau kredit, uang yang beredar menjadi minim. Risiko mendapat uang palsu pun kecil.


Lantas sejatinya di mana saja peredaran uang palsu itu. Berikut ini hasil temuan tim Botasupal yang dikomandoi pensiunan jenderal yang akrab disapa Bang Yos ini. Berikut penjelasannya;

Saat ini diduga peredaran upal meningkat jelang lebaran dan pilkada serentak. Berdasarkan hasil pemetaan Anda sebenarnya daerah mana saja yang rawan peredaran upal?
Ya memang biasanya setiap jelang lebaran dan pilkada ser­entak jumlah peredaran uang palsu cenderung meningkat. Nah dari hasil pemetaan kita, daerah rawan terjadinya peredaran uang palsu periode Maret-Mei 2016 antara lain, Bekasi, Banyumas, Polewari Mandar, Lumajang, Karawang, Bandung, Depok, Jakarta, dan Riau.

Memangnya ada berapa banyak kasus yang berha­sil ditemukan oleh Tim Botasupal?

Fakta-fakta dari kasus uang palsu yang menonjol pada pe­riode Maret-Mei 2016 itu di antaranya ditemukan di Bekasi. Di sana saja setidaknya ditemu­kan tiga kasus peredaran upal yakni di Bekasi dan Tambun yakni terjadi pada 15 Maret, 24 Maret, 15 Mei 2016. Tersangkanya total mencapai 10 orang. Kini kasusnya langsung ditan­gani Polres Bekasi.

Selain itu...
Di luar daerah yang tadi saya sebutkan di atas, kasus upal juga ditemukan di Banyumas, Jawa Tengah. Kasusnya langsung di­tangani Polres Banyumas. Selain itu kasus upal juga ditemukan di Malang Jawa Timur pada 19 April lalu, tersangka ada lima orang. Di Jakarta kasus upal ditemukan di Taman Mini, Jakarta Timur. Kini kasusnya ditangani Bareskrim Polri. Jadi penye­baran upal ini telah terjadi di beberapa daerah.

Apa modus yang dilakukan para pengedar upal itu?
Ya ada berbagai modus yang mereka lakukan. Nah dari hasil temuan kita itu biasanya mo­dus pertama itu dibelanjakan di warung dan toko kelontong, dengan harapan mereka menda­pat barang dan uang kembalian asli. Modus kedua upal itu dijual dengan perbandingan 1 : 2 â€" 6. Dan modus ketiga penipuan penukaran uang asing ke uang rupiah. Kasus yang seperti ini ditemukan di Karawang, dimana uang palsu yang beredar dengan kualitas rendah.

Apakah dari rentetan kasus itu semua terkait dengan hajat besar pilkada serentak yang sebentar lagi akan digelar?
Ya memang sejauh ini mo­tivasi dari pelaku tindak pi­dana upal itu masih dengan tujuan untuk mendapatkan ke­untungan ekonomi, tapi tidak tertutup kemungkinan terkait dengan pilkada serentak. Dari sisi sasarannya memang kalau dilihat masih sebatas masyarakat awam yang kurang mengetahui keaslian uang rupiah. Menurut prediksi saya, menjelang lebaran kasus upal akan terus terjadi dan dimungkinkan akan mengalami peningkatan.

Sebenarnya apa sih yang menjadi faktor utama hingga uang kita itu begitu mudah dipalsukan?
Ya memang selain lantaran faktor ekonomi, perkemban­gan ilmu pengetahuan dan teknologi percetakan yang ada di masyarakat kita sudah se­makin maju. Dan yang paling utama sekali adalah rendahnya teknologi pengamanan rupiah. Teknologi pengamanan uang kita masih mengandalkan teknologi lama yakni optically variable ink. (Teknologi pengamanan uang) kita itu sudah ketinggalan jauh dengan mata uang negara-negara lain.

Saya sudah mebanding-band­ingkan dengan uang euro, uang turki, uang kita amat lemah sehingga mudah dipalsu. Kayak euro misalnya itu sudah nyaris tidak bisa dipalsu, kalau pun dipalsu para pemalsu itu akan mengeluarkan modal yang san­gat besar untuk memalsukan. Tetangga dekat kita saja seperti Singapura dan Thailand itu te­lah menggunakan teknologi kinegram sebagai unsur utama sekuriti fiturnya.

Teknologi ini memiliki berba­gai keunggulan dalam teknologi percetakan sehingga sulit untuk dipalsukan, namun mudah dike­nali keasliannya. Makanya seba­gai Ketua Botasupal saya sudah laporkan, dan saat ini sudah dianggarkan agar pada produksi uang kita nanti ditingkatkan pengamanannya.  ***

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Nasdem Ingatkan Ancaman El Nino dan Dampak Geopolitik ke Pangan Nasional

Selasa, 07 April 2026 | 14:17

Istana Kaji Wacana Potong Gaji Menteri, Belum ada Keputusan

Selasa, 07 April 2026 | 14:14

Pemerintah Genjot Biofuel untuk Redam Dampak Kenaikan Harga Pangan

Selasa, 07 April 2026 | 14:02

Benteng Etika Digital: Pemerintah Godok Dua Perpres untuk Jinakkan Risiko AI

Selasa, 07 April 2026 | 13:53

KPK Panggil Petinggi 5 Perusahaan Travel Haji

Selasa, 07 April 2026 | 13:34

Seruan Saiful Mujani Tak Digubris, Istana: Prabowo Fokus Agenda Strategis

Selasa, 07 April 2026 | 13:33

Monitoring Ketat Jadi Kunci WFH ASN Tetap Produktif

Selasa, 07 April 2026 | 13:21

Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan Nasional Stabil hingga 11 Bulan ke Depan

Selasa, 07 April 2026 | 13:17

Jangan Adu Domba Rakyat dengan Pemerintah Soal BBM

Selasa, 07 April 2026 | 13:11

Kasus Suap Pemkab Bekasi: KPK Periksa Istri Ono Surono Sebagai Saksi

Selasa, 07 April 2026 | 13:08

Selengkapnya