Berita

daniel johan/net

Politik

Daniel Johan Gugat Data Harga Daging Sapi Jokowi

SELASA, 07 JUNI 2016 | 11:37 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Data yang diterima Presiden Joko Widodo (Jokowi) seputar masalah harga daging sapi diduga ngawur alias sesat.

Hal itu seperti disampaikan Dewan Pengawas Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman), Daniel Johan, yang juga Wakil Komisi IV DPR RI.

Ia mengkritik keras permintaan Jokowi untuk menurunkan harga daging sapi di bawah Rp 80 ribu/kg sebelum Lebaran.


"Saya pertanyakan itu data dari mana yang diterima oleh Presiden Jokowi," kata Daniel.

Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai, bila pemerintah menurunkan harga daging sapi sampai di bawah Rp 80 ribu per kilogram, pasti berdampak kepada para peternak. Dia mengkhawatirkan para peternak akan kehilangan lapangan pekerjaan karena pasti mengalami kerugian akibat harga yang diminta presiden.

"Kalau dipaksakan peternak menurunkan harga daging sapi, itu sama saja mematikan para peternak," ujarnya.

Ia juga pertanyakan data Presiden Jokowi bahwa harga daging di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura hanya di kisaran Rp 50 ribu-an per kilogram. Dikatakannya, harga daging di dua negara yang berdekatan dengan Indonesia itu juga dipatok Rp 80 ribu-an per kilogram.

"Saya sudah cek harga daging di Malaysia dan Singapura, itu harganya sama dengan Indonesia," katanya.

Menurut Daniel, jika pemerintah bisa menurunkan harga daging di bawah Rp 100 ribu saja sudah prestasi luar biasa.

Sebelumnya dalam sebuah diskusi akhir pekan lalu di bilangan Cikini Jakarta, Daniel juga menyinggung soal data yang salah ini. Dia bilang, kalau data stok pangan benar tapi masih terjadi kenaikan tak wajar, berarti perencanaan pangan ngawur.

"Bisa ngawur karena bodoh enggak tahu persoalan, tapi bisa juga korup. Misalnya, seharusnya enggak perlu impor tapi malah impor. Itu korup," tegas politisi PKB ini lagi.

Terkait itu, Daniel minta pemerintah memperbaiki data stok pangan. Dengan data yang baik, pemerintah bisa lakukan perencanaan baik. [ald]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya