Berita

foto:net

Bisnis

Sampai Kapan Gali Lobang Tutup Lobang

Utang 3.264 Triliun
SELASA, 24 MEI 2016 | 08:10 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Siapapun presidennya, Indonesia akan selalu berutang untuk menambal kekurangan APBN. Di medio Maret 2016, Kementerian Keuangan mencatat total utang Indonesia sudah sebesar Rp 3.264 triliun. Sampai kapan kita terus gali lobang tutup lobang?

Seperti diketahui, total utang Rp 3.264 triliun itu meningkat dibandingkan dua tahun lalu. Pada 2015 senilai Rp 3.098,64 trilun dan pada 2014 senilai Rp 2.608,78 triliun. Sekalipun negara berutang ribuan triliun, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menerangkan Indonesia masih digaris aman.

Bambang menjelaskan, posisi utang pemerintah pada Maret 2016 mencapai Rp 3.264 triliun itu, terdiri dari pinjaman Rp 750,16 triliun dan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 2513,36 triliun. Nah, jika dihitung berdasarkan produk domestik bruto (PDB) menggunakan APBN 2016, masih di kisaran 27 persen. Jadi, total akumulasi utang pemerintah 27 persen dari total PDB.


"Jelas termasuk relatif rendah dibanding negara yang perekonomiannya sama atau lebih besar dibandingkan Indonesia," ujar Bambang usai raker dengan Komisi XI DPR, di Gedung DPR RI Jakarta, kemarin.

Bambang menjelaskan, dari utang ini, pinjaman luar negeri mendominasi, ada bilateral, multilateral, komersial dan suplier. Lima lander terbesar hanya pinjaman Bank Dunia, Jepang, ADB, Prancis dan Jerman.

"Sedangkan SBN yang sudah diterbitkan Rp2.513,36 triliun terdiri dari valas Rp 658,6 triliun ini ada valas USD, EURO dan Yen. Sisanya Rupiah, yaitu pinjaman Rp 1854,78 triliun. Saat ini sekitar 38 persen SBN didominasi Rupiah dipegang investor asing," terangnya.

Seperti diketahui, batas ratio utang yang ditetapkan oleh Undang-Undang adalah sebesar 60 persen. Artinya, ratio utang dari penerbitan sukuk di Indonesia masih sangat aman. Penerbitan sukuk ini pun tetap akan dilakukan demi pembiayaan infrastruktur.

Sekalipun dijelaskan aman oleh pemerintah, namun Komisi XI DPR tetap merasa gerah atas hutang negara yang kian melambung. Alhasil, Komisi Keuangan pun sepakat untuk membentuk panitia kerja (panja) pembiayaan dan utang negara.

"Indonesia memiliki utang yang cukup besar. Mungkin saat ini sudah tujuh turunan utang yang harus dilunasi pemerintah," ujar Anggota Komisi XI, Hendrawan Supratikno saat raker dengan Kemenkeu.

Politisi PDIP itu juga tak langsung percaya soal angin segar utang Indonesia yang lebih rendah dibandingkan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand, yang berada sekitar 50 persen PDB. Indonesia, hanya 27 persen PDB atas APBN 2016. "Indikatornya harus lengkap, jangan hanya dihibur dengan rasio utang dengan PDB yang rendah. Sampaikan juga debt service rasio yang tinggi, ini kan cukup merisaukan sekali," pungkasnya.

Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus mengatakan, utang luar negeri merupakan permasalahan klasik pemerintah Indonesia. Mulai dari Soekarno hingga Jokowi, utang selalu ada. "Ibaratnya utang ini gali lobang, tutup lobang. Di era Jokowi ini, setiap tahun selalu utang," ujar Heri kepada Rakyat Merdeka, semalam.

Heri menjelaskan, tak bisa selamanya kita berhutang sebagai solusi singkat pembangunan di Tanah Air. Menurutnya, ada cara lebih baik selain utang luar negeri. Yaitu, memaksimalkan uang yang ada di dalam negeri seperti pemangkasan anggaran tidak perlu, hingga penggunaan dana premi masyarakat seperti iuran BPJS Ketenagakerjaan.

Pemangkasan anggaran tidak perlu itu misalnya, uang belanja dinas, dan rapat-rapat yang dianggap memboroskan uang negara. Sedangkan dana BPJS Ketenagakerjaan, bisa dilakukan sistem investasi oleh pemerintah.

"Iuran BPJS itu kan rutin, itu dana nganggur. Bisa diinvestasikan untuk pembangunan," sarannya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya