Berita

Bisnis

Naiki Crane, Aktivis Lingkungan Teriak Stop Batubara

SENIN, 16 MEI 2016 | 13:36 WIB | LAPORAN:

Sejumlah aktivis koalisi Break Free yang terdiri dari Greenpeace, Walhi dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), menggelar aksi damai dengan menaiki crane pelabuhan batubara, hari ini (Senin, 15/5).

Mereka menuntut penghentian aktivitas bongkar muat batubara di Pembangkit Listrik Batubara (PLTU) Cirebon. Pasalnya, rencana ekspansi PLTUI Cirebon dinilai berdampak negatif terhadap lingkungan hidup dan sosial, khususnya kesehatan masyarakat.

Para aktivis dalam aksinya membentangkan spanduk besar bertuliskan 'Quit Coal' yang berarti, pemerintah Indonesia harus segera mengambil tindakan beralih dari batubara sebagai sumber energi demi kesehatan lingkungan dan keselamatan warga negara.


Disebutkan, polusi dari pembangkit listrik batubara telah menyebabkan 6.500 kematian dini per tahun, karena berbagai penyakit pernapasan.

PLTU Cirebon adalah salah satu dari sekian banyak PLTU yang akan memiliki rencana penambahan unit atau kapasitas di bawah proyek 35 ribu megawatt. Namun rencana ekspansi ini mendapat perlawanan yang kuat dari masyarakat setempat.

Unit pertama telah beroperasi sejak Juli 2012, dan kerap bermasalah, termasuk di antaranya meledak pada bulan September tahun 2014.

PLTU Cirebon sendiri didanai oleh investasi Jepang JBIC (Japanese Bank for International Cooperation).

Sekadaar info, pemerintah Indonesia saat ini sedang mengembangkan proyek listrik 35 ribu MW. Organisasi lingkungan menyoroti tajam proyek tersebut karena lebih dari 60 persen sumber energi yang akan digunakan berasal dari batubara, sementara sumber energi terbarukan hanya mendapat porsi sebesar 20 persen.

Koordinator Jatam, Hendrik Siregar mengatakan, pembakaran batubara PLTU Cirebon akan berkontribusi cepat terhadap kondisi iklim, khususnya di pulau Jawa yang listriknya banyak dipasok oleh PLTU.

PLTU Cirebon menurutnya, salah satu potret buruk yang mengabaikan suara, hak dan keselamatan rakyat.
 
Khalisah Khalid selaku jurubicara Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia/Walhi menyampaikan bahwa aksi ini sebagai bentuk keseriusan menuntut tanggung jawab negara untuk segera berhenti memproduksi pembangunan yang berisiko tinggi baik bagi lingkungan hidup, keselamatan dan ruang hidup rakyat.
 
"Presiden Jokowi memiliki pilihan tetap dengan pendekatan business as usual untuk menghasilkan listrik dan melihat kehidupan dan kesehatan ribuan orang Indonesia, atau memimpin transisi dan ekspansi yang cepat untuk energi yang aman, bersih, dan terbarukan," paparnya.[wid]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya