Berita

foto :net

Politik

Teka Teki Munaslub Golkar Di Tengah Dinamika Politik (3)

ADA NAMA SOEHARTO DI BURSA CAKETUM
SABTU, 14 MEI 2016 | 15:39 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

NAMA mantan penguasa Orde Baru, Soeharto banyak disebut-sebut oleh beberapa caketum (calon ketua umum) dalam acara "Debat Calon" yang digelar Panitia Munaslub. Baik di Surabaya maupun di Bali,  dalam rangkaian acara menyongsong pelaksanaan Munaslub Golkar yang direncanakan akan dibuka oleh presiden Jokowi pada 14 Mei 2016 di Nusa Dua Bali.

Tidak bisa dibantah, tujuan membawa bawa nama mantan presiden RI yang ke-2 itu, adalah sebagai strategi jangka pendek pemanis program, untuk mendapatkan dukungan dari basis keluarga besar Golkar. Bahkan dikatakan kalau PDIP dibawah pimpinan Megawati Soekarnoputrii menjadikan Soekarno presiden pertama RI itu sebagai ikon. Maka Soeharto hendak dibaiat juga menjadi ikon Partai Golkar.

Yang dikenal sebagai basis keluarga besar Golkar adalah purnawiraean TNI dan Polri bersama keluarganya plus kalangan pensiunan PNS (Pegawai Negeri Sipil).


Termasuk sisa-sisa laskar panjang, yang tergabung dalam ormas pendiri dan yang didirikan. Masih tersisa di dalam wadah Partai Golkar, setelah belakangan ini mengkerut, akibat lahirnya beberapa parpol sempalan Golkar yang didirikan mantan tokoh terasnya.

Berdasarkan ilusi yang agak aneh ini, ada Caketum yang santai tanpa beban dan nyaris sumringah menyebut, kalau dia terpilih sebagai Ketua Umum Golkar, Soeharto akan diperjuangkan menjadi pahlawan nasional. Untuk itu sang caketum rajin bolak balik mengadakan pertemuan dengan putra bungsu Soeharto di Cendana.
Padahal di era reformasi yang menganut sistem politik multi partai yang demikian terbuka ini, "Soeharto" sendiripun andaikata masih hidup, tidak akan mampu memimpin Golkar di era reformasi yang demikian liberal ini" kata Prof. Salim Said, pakar politik dan militer ini pada salah satu acara diskusi pembahasan Pernyatan Politik" oleh SC (Steering Comitte) dimana saya salah seorang anggotanya.

Pelibatan nama Soeharto mencerminkan kurang mendalamnya penghayatan caketum terhadap situasi dan kondisi politik mutakhir dewasa ini. Semua juga tahu betapa jauhnya perbedaan kondisi kekinian it. Bagaikan bumi dan langit dibanding denganOrde Baru ; dimana system mobilisasi lebih dominan dan membunuh apa yang disebut aspirasi. Padahal aspirasi adalah salah satu elemen demokrasi itu sendiri.

Nama Soeharto oleh penggerak reformasi 1998 lebih diposisikan sebagai raksasa” pembunuh demokrasi atas nama demokrasi. Bagaimana mungkin, masih saja ada upaya upaya oknum tertentu yang bermimpi mengusung nama Soeharto, tanpa mempertimbangkan situasi demokrasi mutakhir yang menolak semua bentuk refresif hidup di bumi ini.

Panggung Munaslub Golkar nampaknya selalu memancing minat keluarga Cendana untuk ikut bermain”. Ada indikasi mereka melihat perhelatan parpol berlambang beringin itu sebagai pintu masuk recovery” setelah keruntuhan politik Soeharto yang pernah berjaya bersama Golkar selama 32 tahun di era Orde Baru.
Pada Munas VIII Golkar di Pekanbaru 2009, Putra bungsu Soeharto, Hutomo mandala Putra (HMP) atau Tommy Soeharto sempat mendaftar sebagai caketum dan bahkan sempat melalui verifikasi. Sekalipun sesudah itu tidak ada kabar apa apa lagi. Hanya tingkat verifikasi tok.

Akan tetapi, nampaknya Cendana tidak punya figur petarung politik yang mumpuni, yang dapat diandalkan untuk membikin terobosan, Tommy Soeharto yang banyak diposisikan sebagai pewaris politik keluarga Soeharto, ternyata tidak cukup siap. Baik secara mental maupun secara politik.

Nampaknya nama Tommy lebih banyak disuarakan oleh pendukungnya yang tidak punya basis politik yang jelas dan tidak punya organisasi yang poltik yang kuat. Termasuk dengan munculnya kembali nama itu dalam gelombang konflik Golkar yang berujung pada Munaslub di Bali.

Sebagaimana sudah diungkap pada tulisan sebelumnya, caketum Golkar yang memiliki peluang besar dipilih atau terpilih pada ajang Munaslub di Bali, paling tidak harus memiliki 3 modal dasar dalam dirinya. Pertama, tidak bisa tidak, harus ada restu” dari Istana. Trauma konflik satu setengah tahun cukup menjadi pelajaran berharga, Meskipun yang berkelahi” di atas permukaan adalah ARB (Aburizal Bakrie) dan AL (Agung Laksono), tapi publik tetap melihat adanya tangan” Istana di dalam pusaran konflik itu.

Oleh karena itu, baik elite Golkar maupun kalangan Istana sama �" sama sadar : jalan kompromi adalah yang terbaik untuk terciptanya stabilitas iklim politik bagi pemerintah ke depan.

Yang kedua, sang caketum dipastikan sudah punya jejak panjang di kalangan kader Golkar, terutama di tingkat kabupaten kota dan propinsi, alias sang pemilik suara. Jejak panjang itu adalah : pemodal kuat yang telah berjasa” dan dinilai loyal” memibiayai kehidupan partai selama, paling tidak �" enam tahun sejak Munas Golkar VIII di Pekanbaru hingga menjelang Munaslub.

Sehari sebelum Munaslub, koran lokal di Bali menurunkan berita yang cukup tegas : Bali menghendaki Ketua Umum yang finansialnya kuat”, kira �" kira begitu judul kepala berita itu.

Yang ketiga, sang caketum harus memiliki dukungan dari ketum ARB. Dan telah membuktikan juga loyaltasnya selama ini di mata ARB. Artinya, caketum wajib hukumnya memiliki kartu kredit” platinum yang menghimpun ketiga syarat mutlak tersebut, untuk dapat berlenggang merebut kursi Goklar Satu.

Apakah ini demokratis? Apakah ini kondisi yang sehat? Bukankah ini namanya malah mengkerdilkan” Golkar?  Rasanya kritikan itu tinggal kritikan. Keluhan tinggal keluhan. Dan janji tinggal janji. Akan tetapi  : the show must go on”.

Dari sisi lain, pelaksanaan debat calon harus diakui cukup berhasil mengangkat harkat dan martatat Golkar sebagai parpol senior. Parpol yang berhasil mencetak kader handal dan berkualifikasi nasional.

Hampir semua peserta Munaslub, termasuk seluruh Caketum mengakui keberhasilan Tim SC (Steering Commitee), yang dipimpin Nurdin Halid. Debat Calon yang disiarkan lewat TV nasional secara live tdi Surabaya dan di Denpasar, Bali telah sukses membangkitan rasa bangga dalam diri kader Golkar sebagai kader Golkar. Kader dari sebuah partai besar. Kader sebuah parpol yang seksi”
Sedemikian seksi”nya, maka pihak Istanapun tidak mau membiarkan Golkar berjalan sendiri, kuat dan mandiri.[***]


*Penulis, adalah Wakawantim Ormas MKGR & Pengurus Golkar Pusat  di era JK


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Dubes Najib: Dunia Masuki Era Realisme, Indonesia Harus Bersatu

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:10

Purbaya Jamin Tak Intervensi Data BPS

Rabu, 04 Februari 2026 | 12:06

Polisi Bantah Dugaan Rekayasa BAP di Polsek Cilandak

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:58

Omongan dan Tindakan Jokowi Sering Tak Konsisten

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:43

Izin Operasional SMA Siger Lampung Ditolak, Siswa Diminta Pindah Sekolah

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:23

Emas Antam Naik Lagi, Nyaris Rp3 Jutaan per Gram

Rabu, 04 Februari 2026 | 11:14

Prabowo Janji Keluar dari Board of Peace Jika Terjadi Hal Ini

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:50

MUI Melunak terkait Board of Peace

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:44

Gibran hingga Rano Karno Raih Anugerah Indoposco

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:30

Demokrasi di Tengah Perang Dingin Elite

Rabu, 04 Februari 2026 | 10:15

Selengkapnya