Berita

SETYA NOVANTO DAN JOKO WIDODO/NET

Politik

MUNASLUB GOLKAR

"Papa Minta Dukungan" Edisi Lanjutan "Papa Minta Saham"

RABU, 11 MEI 2016 | 11:13 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kabar adanya dukungan Istana kepada salah satu calon ketua umum Partai Golkar, yaitu Setya Novanto melalui Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan dinilai bisa mencederai kredibilitas Presiden Jokowi di mata rakyat.

Kabar tersebut beredar di kalangan internal partai berupa pesan singkat. Pesan itu menyebutkan Luhut tegas-tegas mendukung eks Ketua DPR itu atas nama Presiden Jokowi. "LBP tegaskan dukungan ke SN atas nama Presiden. Dia pertaruhkan jabatan untuk itu" demikian bunyi pesan singkat itu.

Pembesar Istana sudah membantah. Baik Jurubicara Kepresidenan Johan Budi, maupun Sekretaris Kabinet Pramono Anung, sudah menegaskan Presiden Jokowi akan bersikap netral terkait pelaksanaan Munaslub Golkar di Bali nanti.


Sementara itu, Luhut sendiri tak secara tegas menepis kabar tersebut. Dia justru memilih berkelit dengan menggunakan jurus 'kalau'. "Kalau saya dukung dia (Setya Novanto), itu hak saya sebagai anggota Golkar," ujarnya, Senin (9/5).

Pengamat politik dari The Political Literacy Institute Jakarta, Gun Gun Heryanto berpandangan penyebaran kabar yang disebut-sebut "Papa Minta Dukungan" itu hanya upaya tim sukses Setya untuk menarik dukungan para pemilik suara di tubuh partai beringin. Sebaliknya, dia yakin Presiden Jokowi akan bersikap netral.

Gun Gun berpendapat, kepentingan terbaik bagi Istana adalah memastikan Munaslub berjalan demokratis sehingga bisa mengakhiri perpecahan di internal Golkar. Sebab, siapa pun pemenangnya, Golkar sudah dipastikan akan berada di barisan pendukung pemerintah.

"Selain itu, tak ada jaminan Golkar di bawah kepemimpinan Setya akan lebih loyal kepada pemerintah dibanding calon lain," kata dia, Rabu (11/5).

Selain itu, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, pencatutan nama Jokowi juga bisa membuat Presiden marah. "Presiden sama sekali tidak berpihak. Malah marah kalau dikatakan begitu," kata bekas Ketua Umum Golkar itu.

Luhut Pandjaitan memang sudah dikenal dekat dengan Setya Novanto. Dalam kasus rekaman "lobi belakang" PT Freeport Indonesia, Setya menyebut Luhut sebagai orang yang bisa "dipakai" untuk melobi Presiden demi memperpanjang kontrak gergasi pertambangan asal Amerika Serikat itu di Papua. Dalam rekaman itu yang dikenal dengan "Papa Minta Saham" itu, Setya juga mencatut nama Presiden Jokowi.

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago menambahkan, ini kali kedua Setya "mencatut" nama Jokowi. Pencatutan ini bisa merugikan nama baik Presiden. Sebab, di antara calon lain, Setya adalah calon yang menanggung beban moral paling berat.

Selain sengkarut "Papa Minta Saham", Setya disebut-sebut terlibat dalam sejumlah kasus, seperti korupsi proyek PON di Riau dan korupsi proyek pengadaan KTP elektronik.

"Saya kira DPD I dan DPD II Golkar belum tentu mudah memaafkan semua beban moral itu," tukas Pangi.[wid]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya