Berita

foto:net

Bisnis

KAI Mau Revitalisasi 890 Kereta Uzur

Kalau Akuisisi INKA Terealisasi
SENIN, 09 MEI 2016 | 08:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin gencar melakukan pemangkasan jumlah perusahaan BUMN den­gan menggabungkan purusahaan sejenis. Selain holding perusahaan energi dan konstruksi, pemerintah juga menggelontorkan wacana pembentukan holding perusahaan di sektor konektivitas.

Dalam rencana itu, PT Angka­sa Pura I (Persero) (AP I) dan PT Angkasa Pura II (Persero) (AP II) rencananya akan digabung, sedangkan PT Kereta Api In­donesia (Persero) (KAI) akan mengakuisisi BUMN produsen kereta, PT Industri Kereta Api (Persero) (INKA).

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI), Edi Sukmoro menyatakan, jika rencana pemerintah tersebut terealisasi, KAIakan melakukan revitalisasi usia armada yang saat ini dinilai sudah berusia uzur.


"KAI akan membeli 890 kereta penumpang kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif. Dari jumlah terse­but, armada yang bakal diganti sebanyak 51 persen. Umumnya kereta berusia di atas 30 tahun," kata Edi di Kementerian BUMN.

Ia menjelaskan, penggantian armada yang sudah berumur tua tidak lepas dari upaya pening­katan keselamatan perjalanan kereta api. Pasalnya, usia teknis kereta yang diperkenankan se­cara keselamatan ialah 33 tahun. Bila melebihi usia itu, Edi mengakui ada potensi mengganggu perjalanan kereta dan penump­ang di atasnya.

"Life time-nya seharusnya 33 tahun, sehingga kalau ada kelebihannya dan diperbaiki, maka akan berisiko. Kita sudah cicil pembaruan armada mulai tahun ini, sekitar 300 kereta per tahun," tegasnya.

Edi mengatakan, terkait akui­sisi INKA, pihaknya pernah menyampaikan keinginan akui­sisi tersebut ke Kementerian BUMN. Menurutnya, jika INKA masuk ke KAIbisa dilakukan penghematan, tetapi berapa penghematannya, Edi mengaku belum menghitungnya.

Alasan KAI ingin mengakuisi­si INKA adalah untuk memenuhi kebutuhan kereta api dalam mendukung program percepatan pembangunan Trans Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Pap­ua. Dengan INKA di bawah KAI langsung, kata Edi, pengem­bangan bisnis bisa lebih sejalan mengikuti kebutuhan pengguna atau operator kereta. Alhasil, berbagai kebutuhan kereta dan peralatan bisa dimaksimalkan dari industri dalam negeri.

"Kalau kita sanggup, ngapain mesti impor lagi kalau kita bisa. Pegawai kita bisa jadi lebih ban­yak, teknologi bagus. Saat ini ke­mampuan INKA masih merang­kak, contohnya kita beli gerbong datar (ke INKA) 1.200, retak 200. Kita cari kelemahannya seperti apa, kita perbaiki biar kita bisa berkompetisi," tuntasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya