Berita

Pemakan Buih-Buih Properti

SABTU, 07 MEI 2016 | 10:30 WIB | OLEH: SALAMUDDIN DAENG

TAHUN 2014 merupakan akhir dari kejayaan propertyi. Ambruknya China akibat utang property yang besar segera menular ke Indonesia. Masalahnya sama mereka menggunakan utang dari pasar keuangan untuk membangun property yang ternyata tidak laku. Namun sektor properti tetap dipaksakan sebagai penompang pertumbuhan ekonomi yang memicu terjadinya bubble.

Namun bagaimanapun juga mereka para pemain properti sempat memainkkan peran dalam mendukung kandidat presiden Indonesia dalam Pemilu 2014. Itulah mengapa Jokowi begitu cerdas bicara properti dan sejak pencalonannya. Jokowi seperti sangat mengerti bahwa properti harus ditolong dari kebangkrutan dengan menyatakan akan memberikan kepada asing agar mendapatkan status hak milik jika mereka membeli property di Indonesia. Status kepemilikan asing seperti ini berarti sama dengan hak yang dimiliki rakyat Indonesia atas bangunan dan tanah.

Ahok gubernur hasil cangkokan Jokowi bahkan mensegerakan proyek paling ambisius sepanjang sejarah Republik yakni reklamasi pulau di pantai utara Jakarta dengan nilai proyek lebih dari 500 triliun. Entah darimana mereka akan mendapatkan uangnya. Namun proyek ini semata mata untuk menyediakan landasan baru bagi akumulasi utang sektor properti.


Proyek Ahok di atas tanah negara tersebut dikampanyekan dapat memperkuat lagi property yang tengah terjun bebas. Padahal hal tersebut tidak mungkin dikarenakan 2 hal, 1.  Sumber uang dari China tidak mungkin mereka dapatkan. China lagi butuh uang besar untuk menolong diri mereka. Menolong utang publik china yang mencapai 28,2 triliun dolar. 2. Sumber dari dalam negeri yang diharapkan dapat diperoleh dari pembeli property tidak mungkin mereka dapatkan. Tidak banyak manusia Indonesia yang mau membeli bangunan diatas tanah negara dengan status hak pakai. Proyek proyek yang sedang dikampanyekan hanyalah menunda kebangkrutan para naga properti tersebut.

Bagaimana sekaratnya sektor property yang menopang ekonomi Jokowi-JK-Ahok paling paling tidak terlambar dari dua raksasa property...yakni Lippo dan Agung Podomoro. Kedua perusahaan ini menumpuk utang yang besar dan memaksakan diri dalam proyek-proyek yang ambisius.

Tahun 2015 seluruh keuntungan yang dihasilkan oleh LIPPO disapu bersih oleh kewajiban utangnya. Analis menyatakan Indonesian property developer Lippo Karawaci said on Monday its net profit declined 94 persen year on year to 66 billion rupiah ($4.6 million) for the nine months ending in September due to large foreign exchange losses on dollar- denominated debt. Revenue grew 10 persen to 6.75 trillion rupiah due to higher admissions in its hospital division and improved property sales in the eastern suburbs of Jakarta, but the company suffered a 786 billion rupiah foreign exchange loss on corporate bonds. Perusahaan ini salah satu dari perusahaan dengan utang sampah yang menumpuk.

Demikian pula dengan Agung Podomoro Land. Meski memiliki aset besar namun perusahaan ini menderita pendarahan berat dalam tahun 2015. Perusahaan mengalami negatif cash flow akibat utang besar yang mendekati 100 persen equity perusahaan. Minus cash flow perusahaan mencapai 1.44 triliun rupiah. Perusahaan jatuh sangat dalam pada tahun 2015.

Kini Jokowi telah mengeluarkan peraturan pemerintah yang memperbolehkan asing memiliki properti di Indonesia. Menteri Agraria, tata ruang/Kepala BPN mengeluarkan Peraturan Menteri bahwa hak asing atas rumah dan rumah susun dapat diagunkan ke Bank dan dapat di wariskan.

Tidak cukup sampai di situ, Jokowi juga mengeluarkan Peraturan bebas visa kunjungan ke Indonesia, dengan alasan mendukung pariwisata. Tapi sejatinya bebas visa adalah agar Asing bebas masuk ke Indonesia, tinggal di Indonesia, membeli tanah dan rumah di Indonesia, untuk dijadikan tempat tinggal dan alat spekulasi.

Pemberian hak milik bagi Asing atas property ini sejalan dengan program satu juta rumah Jokowi. Program yang bertumpu pada mekanisme pasar ini akan menjadi dasar bagi akumulasi keuntungan baru para pengembang. Proyek satu juta rumah Jokowi yang sebelumnya gagal total akan laris manis dibeli asing, mengingat daya beli pribumi sudah jatuh dan tidak mungkin membeli rumah.

Apakah asing akan berbandong Bondong membeli property di Indonesia. Apakah ini akan jadi penolong Jokowi Ahok agar mereka masih dapat menikmati BUIH BUIH property.??!! Namun yang pasti buruh, pekerja dan rakyat miskin jangan Mimpi lagi punya rumah. Meski para pekerja dan buruh sekarang sedang dikeruk lagi dengan rencana UU tentang Tabungan Perumahan.[wid]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

PKB Kutuk Pembunuhan Ali Khamenei dan Desak PBB Jatuhkan Sanksi ke Israel-AS

Minggu, 01 Maret 2026 | 18:07

UPDATE

Tanam Jagung Dukung Swasembada Pangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:53

Pengamat Ingatkan Bahaya Berita Hoax di Balik Perang AS-Israel Vs Iran

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:33

Polri Gandeng Pemuda Katolik Wujudkan Swasembada Pangan di Cianjur

Minggu, 08 Maret 2026 | 03:13

Anggota DPR Tidak Boleh Lepas Cerdaskan Generasi Bangsa

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:59

Jalur Rempah dan Strategi Penguatan Armada Domestik

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:42

DPRD Klungkung Setujui Ranperda Pajak Demi Genjot PAD

Minggu, 08 Maret 2026 | 02:18

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

Polri All Out Dukung Petani dan Wujudkan Swasembada

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:42

Presiden Iran Minta Maaf ke Negara Arab yang Terdampak Serangan

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:15

Bea Cukai Gandeng BNN Bongkar Laboratorium Narkoba di Bali

Minggu, 08 Maret 2026 | 00:56

Selengkapnya