Berita

ade komarudin/net

Politik

MUNASLUB GOLKAR

Komite Etik Harus Tegas, Coret Pencalonan Akom!

JUMAT, 06 MEI 2016 | 14:19 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Komite Etik Munaslub Partai Golkar didesak untuk mempertimbangkan secara serius keberatan publik tentang pencalonan Ade Komaruddin sebagai Ketum Golkar. Alasannya, Akom sapaan akrabnya, telah membuat surat pernyataan di atas materai yang isinya tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar bila dirinya menjabat Ketua DPR.

"Komite Etik harus cermat dan tegas, jangan loloskan Akom sebagai Caketum Golkar, karena dia sudah akui perbuatannya itu dengan dalih tidak membaca isi surat pernyataan yang ditandatanganinya. Kalau pencalonannya diloloskan, maka itu fatal dan cacat moral. Saya minta, Komite Etik mencoret pencalonan Akom," kata politisi Golkar, Erwin Ricardo Silalahi kepada wartawan, Jumat (6/5).

Erwin yang kini menjabat Ketua Harian Depinas SOKSI berdasarkan SK Menkumham No. AHU-0033252.AH.01.07 Tahun 2016 tanggal 17 Maret 2016 itu menilai, penjelasan Akom itu menunjukkan integritasnya yang lemah. Ditegaskan Erwin, akan sangat berbahaya jika seorang pemimpin menandatangani sesuatu yang tidak dia ketahui isinya. Menurutnya, kalau Akom tetap maju sebagai caketum, berarti ia menghalalkan segala cara demi menggapai apa yang dia inginkan.


"Ini tipologi pemimpin yang tidak bermartabat, karena menghalalkan cara dalam mendapatkan kekuasaan. Karena itu, saya minta Komite Etik  tidak meloloskan tipologi pemimpin yang seperti itu," katanya.

Apalagi, dalam demokrasi itu, nilai tertingginya adalah soal kejujuran, intrgeritas dan konsistensi. "Jadi, sikap Akom yang mengingkari penandatanganan surat pernyataannya itu sama saja dengan melawan demokrasi itu sendiri," kata Erwin.

Erwin yang juga Wakil Bendum Golkar ini mengaku bertanya-tanya soal kekayaan Akom, karena dalam pemberitaan di media, disebutkan bahwa jumlah kekayaan Akom sebesar Rp 1,3 miliar.

Menurut logika dia, kalau betul kekayaan Akom hanya sebesar itu, mampukah Akom menyewa pesawat jet untuk kampanye pencalonannya sebagai Ketum Golkar ke beberapa daerah. Keheranannya bertambah, karena berdasarkan pemberitaan di media massa, disebutkan bahwa Akom puna  rumah mewah  di Jl. Mendawai I No 2 Kebayoran Baru, Jaksel yang diperkirakan, harganya lebih dari Rp 1,3 miliar, belum termasuk beberapa mobil mewah yang dimilikinya.

"Saya berharap juga, setelah KPK mengeluarkan larangan bagi Caketum Golkar menyumbang Rp 1 M, KPK meneliti kekayaan para Caketum Golkar, termasuk Akom yang kabarnya belum melaporkan kekayaannya ke LHKPN. Ini perlu dilakukan supaya publik tahu, apakah betul kekayaannya hanya segitu. Golkar ingin pemimpin yang jujur dalam segala hal," kata Erwin.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komite Etik Munaslub Golkar, Lawrence Siburian mengaku bahwa Komite Etik tengah membahas surat pernyataan tidak akan mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar yang pernah ditandangani Ade Komarudin. Dalam surat itu Akom menyatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai Ceketum Golkar. Surat itu sebagai syarat penunjukannya sebagai Ketua DPR menggantikan Setya Novanto pada Desember 2015 lalu.

"Pak Ade Komarudin, sudah tanda tangan di atas materai, tidak akan mencalonkan diri, itu sudah ada yang mempersoalkan ke kita. Dia sudah tanda tangan, tapi dia langgar, apa dia melanggar kode etik apa tidak," kata Lawrence Siburian di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakbar, kemarin.

Lawrence mengatakan, sikap Akom yang melanggar komitmen itu bisa diduga melanggar salah satu syarat sebagai calon ketua umum Golkar. "Itu masih dalam pembahasan kita dalam komite etik, apakah itu masuk PDLT atau tidak, " katanya.

Sementara itu, Ade Komaruddin dalam pernyataannya di gedung DPR, 14 Maret 2016 yang lalu memang mengakui tidak membaca surat pernyataan yang ditandatanganinya itu. Alasannya, karena sebelumnya, dalam rapat terbatas sudah ada kesepakatan agar dirinya tidak menginisiasi munas sebagai syarat penunjukannya sebagai ketua DPR.

Setelah rapat, ujarnya, dirinya dipanggil oleh Nurdin Halid ke dalam sebuah ruangan untuk menandatangani surat perjanjian. Dalam ruangan itu ada Aburizal, Idrus Marham, dan Setya Novanto. Akom mengira surat perjanjian itu hanya berisi kesepakatan untuk tidak menginisiasi Munas sehingga dia langsung menandatanganinya. "Saya disodorin dan saya tidak baca, pokoknya saya teken," kata Akom. [rus]

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

UPDATE

Pertamina Mandalika Racing Series 2026 Songsong Pembalap Muda Menuju Pentas Dunia

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:56

Catatan Hari Pelaut Sedunia 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:34

284 Petembak Siap Bertarung dalam Kejurnas Menembak ISSF 2026

Rabu, 24 Juni 2026 | 01:17

Lembaga Peradilan Khusus Pemilu Perlu Dibentuk Demi Wujudkan Keadilan

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:50

Pembangunan Hotel Prima Katulampa Harus Dihentikan, Ini Sebabnya

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:30

Mahasiswa dan Dalang

Rabu, 24 Juni 2026 | 00:10

Kejati Sultra Geledah Rumah Bos Tambang hingga Rujab Wabup Kolaka

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:48

PDIP yang Overthinking, Bukan Pemerintah yang Panik

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:32

Kemensos Mulai Operasikan Dua SR Permanen di Pasuruan Bulan Depan

Selasa, 23 Juni 2026 | 23:16

PDIP Desak Wapres Gibran Klarifikasi Soal "Uang Sogok" ke Mahasiswa UBK

Selasa, 23 Juni 2026 | 22:45

Selengkapnya