Berita

Bisnis

Mewaspadai Pemikiran Market Driven Economy Yang Dianut Ekonom Liberal Kita

SELASA, 03 MEI 2016 | 21:52 WIB

MENGAPA kita harus menolak neoliberalisme atau liberalisme? Ini banyak ditanyakan mahasiswa-mahasiswa kita dalam ceramah-ceramah saya di berbagai kampus. Terpaksa saya jelaskan dengan cara sederhana mengingat tidak semua mereka dari fakultas ekonomi.

Pembangunan yang neoliberalislistik adalah pembangunan yang 'market driven' (berdasar kehendak dan selera  pasar alias  kehendak dan selera kaum pemodal, yang arahnya mengejar rente ekonomi, mengejar profit, mengejar keuntungan berdasar hitungan untung-rugi ekonomi, dengan landasan mekanisme pasar bebas) yang sering disebut 'kapitalisme' (atau capitalistic driven economy).

Maka pembangunan neoliberalistik tidak segan-segan menggusur orang miskin bukan menggusur kemiskinan demi keuntungan ekonomi untuk kaum pemodal. Maka tidak peduli pula apa yang terhadi adalah 'pembangunan di Indonesia' bukan 'pembangunan Indonesia', rakyat Indonesia hanya sebagai penonton pembangunan yang dilakuan oleh orang-orang asing di negerinya sendiri.


Pembangunan hendaknya berdasar 'tugas negara' melaksanakan cita-cita kemerdekaan, berdasar Pancasila dan UUD45, berdasar Demokrasi Ekonomi Pasal 33 (dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat) dengan pemerintah yang komit pada tugas negara ini, dan inilah pembangunan yang 'state driven' atau 'constitutional driven' development, yang sangat bisa/hampir selalu tidak selaras dengan kehendak dan selera kaum pemodal yang bermotif keuntungan ekonomi semata.

Diktum (SES) pembangunan ekonomi Indonesia tidak hanya mengejar 'nilai tambah ekonomi' tetapi juga 'nilai tambah humanistik sosial kultural' (=melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melasanakan ketertiban dunia -Pembukaan UUD 45). Oleh karena itu, Pasal 33 UUD 45 menyatakan "perekonomian disusun ..." artinya disusun oleh negara (state driven), tidak dibiarkan tersusun sendiri (market driven) sesuai kehendak atau selera pasar (pemodal).

Secara teoritikal dan empirikal market driven forces ('invisible hand'- nya Smithian economics) tidak dapat mengatasi ketimpangan-ketimpangan strukural di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Ketimpangan-ketimpangan struktural harus diatasi dengan the 'visible hand' (the state). Negara harus mengutamakan 'daulat rakyat' bukan mengutamakan 'daulat pasar'.

Merdeka!

*Sri Edi Swasono, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya